Selasa sore (15/6) cuaca bumi Patampanua yang bersahabat mengiringi perjalanan saya menuju gedung Balai Latihan Kerja. Hari ini saya menjadi narasumber di Pelatihan Berbasis Kompetensi Non Boarding UPTD BLK Kolaka Utara Tahun 2021.

Sebelum memasuki materi “Dahsyatnya Komunikasi Verbal dan Nonverbal dalam Kewirausahaan”, saya terlebih dahulu merekontruksi pikiran peserta tentang sosok yang paling berperan dalam kehidupan seorang anak, yaitu kedua orang tua.

Hal ini menjadi penting, karena paling tidak hampir seluruh orang besar pembuat sejarah di muka bumi ini, memuliakan orang tuanya. Sebagaimana kata Rasulullah Saw, Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tuanya dan murka Allah tergantung murka keduanya. (HR. Thabrani).

Dalam buku “21 Hukum Kesuksesan Sejati” sang penulis Ruslan Ismail Mage (RIM) menempatkan hukum pertama yang wajib dipatuhi kalau ingin sukses di dunia maupun di akherat adalah “Memuliakan Wakil Tuhan di Bumi” yaitu kedua orang tua, khususnya ibu.

Tanpa mematuhi hukum pertama ini, jangan terlalu bermimpi menjadi orang sukses. Kalau pun sukses, itu hanya sesaat dan akan jatuh rontok ke bumi. Jadi yang masih memiliki ayah bunda, jangan pernah menunda waktu untuk memuliakannya kalau ingin menjadi orang sukses.

Mendengar hukum pertama ini, peserta dengan sendirinya pasti langsung ingat ibu. Sesaat kemudian hening, dan hanya air mata yang tumpah sebagai bahasa nonverbal mengingat dan mengenang ibu yang telah mengorbankan segalanya demi anaknya.

Itulah maksud judul tulisan ini, air mata peserta “Pelatihan Berbasis Kompetensi Non Boarding” tumpah di BLK Kolaka Utara. Mataku pun basah melihat mereka meneteskan air mata. Ya Allah ya Rabb, semoga air mata anak-anak yang di depanku ini menjadi tasbih menuju masa depannya yang gilang gemilang.

Penulis: Inspirator Gerakan “Kado Buku untuk Sahabat” di Kolaka Utara

(Visited 437 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

2 thoughts on “Air Mata Tumpah di BLK”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.