Oleh: Nur Saadah*
Setiap orang ingin mendapatkannya, seperti kata Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman. Menurut dia, manusia dan alam semesta didorong oleh suatu kekuatan purba, yakni kehendak untuk berkuasa. Kehendak itu merupakan dorongan alamiah manusia, karena secara alami manusia ingin mengendalikan, menciptakan, dan menata setiap apa yang ada di luar dirinya. Manusia adalah subjek yang bukan subjek.
Kehendak berkuasa harus mempunyai pondasi moralitas yang dapat mengendalikan, menciptakan, dan menata kearah yang lebih baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai humanis. Namun, di sisi lain ada yang mengingkari kehendak berkuasa atas nama moralitas, ia bertarung melawan kejahatan atas nama kebaikan. Namun, dalam perjalanannya ia sendiri berubah menjadi kejahatan itu sendiri, yang mungkin sekali lebih parah dari kejahatan yang ia perangi sendiri. Ketika dia mengutuk kejahatan, maka kejahatan itu kembali menatapnya dan menjadi satu dengan dirinya.
Dalam hal ini kita melihat sebuah paradoks antara moralitas dan kehendak berkuasa, seperti janji-janji politik yang sering memenuhi halaman sosmed kita, kata-kata bak gula pasir, tapi tindakannya seperti binatang buas yang kelaparan. Kemunafikan dan tipu muslihat menjadikan kehendak berkuasa yang ada dalam diri manusia menjadi suatu negatif. Sedangkan tanpa kehendak berkuasa itu, manusia tidak dapat bergerak ke depan, hilangnya daya cipta sebagai bentuk eksistensialis manusia.
Apa yang dapat kita lakukan? Dalam hal ini, perlu kiranya melihat kepada konsep moralitas Kantian, di mana manusia tak boleh jadi alat, melainkan harus selalu menjadi tujuan dari segala sesuatu. Artinya, kehendak berkuasa itu harus ditafsirkan secara humanistik dan diterapkan secara baik dan indah. Artinya, penerapan kehendak untuk berkuasa di dalam kehidupan harus memiliki aspek estetik dan etika yang tepat dan mendalam. Keindahan ini mencakup mulai desain penerapan kekuasaan ( termasuk rencana, tata Kelola, evaluasi, sampai ciri fisik), sampai dengan fungsi kontrol yang sudah ada didalam kekuasaan itu sendiri.
Dengan demikian, kita akan selalu merindukan manusia tidak bermuara pada kemunafikan maupun korupsi dan semakin membantu kita merayakan kehidupan, kehangatan antara relasi subjek dengan latar belakang apa pun dan jabatan apa pun akan dapat tercipta, dan prasangka-prasangka yang akan merusak mentalitas akan dapat hilang dalam alam pikiran.
*Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unes Padang
