Oleh : Dian Wahyoni Dewi Fitri*
Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Ekasakti sedang berbenah diri. Hal ini dapat terlihat dengan giatnya melaksanakan berbagai kegiatan keilmuan yang melibatkan ahlinya. Salah satunya adalah penyelenggaraan webinar demi webinar selama semester ganjil.
Webinar yang difasilitasi Dekan Fakultas Teknik Universitas Ekasakti Bapak Drs. Risal Abu, ST., M.Eng ini bertujuan untuk membuka wawasan mahasiswa dan dosen. Kegiatan Ini diharapkan dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Harapan yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Padang Bapak Dr. Andi Syahrum Makkuradde, SS., SE., M.Si, pada kesempatan mengisi acara webinar series 4 beberapa waktu yang lalu.
Webinar yang dilaksanakan Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Ekasakti terdiri dari 4 series. Series ke-4 ini salah satunya bertemakan “Membangun Budaya Literasi pada Fakultas Teknik“. Sebuah ide inspiratif dan cemerlang dilahirkan oleh Bapak Risal Abu yang lebih kami kenal sebagai seorang konseptor di Fakultas Teknik. Pada webinar Kamis 15 Desember 2022 ini menghadirkan narasumber seorang tokoh inspiratif dan penggerak, Bapak Ruslan Ismail Mage yang sudah banyak menghasilkan buku-buku inspiratif yang membuat kita termotivasi terus belajar dan berjuang menuangkan gagasan dalam bentuk karya tulis.
Ada kiat tersendiri yang diberikan oleh Bapak Ruslan Ismail Mage untuk menjadi seorang penulis. Menurutnya “Banyak orang gagal menjadi penulis karena bersamaan ingin menjadi editor. Sesungguhnya keduanya mempunyai tugas yang berbeda. Penulis melahirkan tulisan, sementara editor menyempurnakan tulisan. Kalau ingin langsung sempurna tulisannya, silakan bermimpi terus menjadi penulis. Sangat susah memakai dua baju sekaligus”.
Jadi nampaknya seorang penulis tidak bisa sekaligus menjadi seorang editor. Menurut founder Bengkel Narasi Indonesia ini, tulislah terus apa yang dilihat, dirasa dan didengar tanpa harus memperhatikan benar salahnya tulisan itu. Abaikan dulu semua teori penulisan yang benar, yang penting menulis dulu. Nanti setelah ada tulisannya baru merubah posisinya menjadi “editor” yang bertugas menyempurnakan tulisannya. Kalau menjadi penulis sekaligus editor maka tidak akan jadi tulisan itu.
Lebih lanjut Pak Ruslan mengatakan bahwa seorang penulis harus berani menggali data-data lama untuk diolah menjadi data baru. Dalam Ilmu Linguistik ada namanya “Parafrase” yang menjelaskan bagaimana data-data lama dikontruksi ulang menjadi data baru dengan narasi yang berbeda. Metode ini penting, karena sekarang tidak ada lagi ilmu murni. Dalam dunia kepenulisan itu sah bukan plagiat.
Kiat-kiat menulis yang diberikan sangat berguna. Ibarat kami mendapat air di padang yang tandus di mana selama ini menulis menjadi momok tersendiri bagi kami apalagi status sebagai seorang dosen. “Menulis buku semudah mengatakan cinta” yang menjadi tema webinar dari Pak RIM ini membuat kami tergelitik untuk menerjemahkannya. Apa benar menulis buku semudah mengungkapkan cinta? Sementara yang saya rasakan mengungkapkan cinta pada seseorang itu sangatlah sulit prosesnya, tetapi apabila sudah terungkapkan akan merasa lega dan damai hidup ini. Itulah proses menulis yang menuntut keberanian, kesabaran, ketekunan dan keuletan, hingga melahirkan narasi indah penuh makna.
Materi yang disampaikan Pak RIM ini sangat penting, karena sebagai dosen dituntut harus bisa menulis buku, baik buku ajar, buku referensi atau pun buku lainnya yang sifatnya menunjang Tridharma Perguruan Tinggi. Dari sini saya belajar kalau menulis tidak hanya sekedar menulis tetapi harus banyak membaca dari berbagai sumber. Saya sebagai seorang dosen di bidang Teknik Sipil harus dituntut untuk membaca, membaca dan terus membaca terutama di bidang keteknikan. Semoga dengan semangat yang diberikan oleh Pak RIM akan membuat saya mulai belajar untuk menulis, mengungkapkan rasa dengan penuh energi cinta dalam mengeluarkan ide-ide cemerlang terutama di bidang konstruksi teknologi.
Ungkapan bijak Pak RIM menutup webinar ini, “Kalau ingin menjadi seorang penulis buku, harus berteman dengan seorang penulis buku“. Sebuah ungkapan yang mengandung makna kalau saya harus rajin berdiskusi dan bertanya kepada seorang penulis andal seperti Pak Ruslan Ismail Mage (RIM). Semoga ke depannya melalui mentor yang akan dimonitoring langsung oleh beliau, saya bisa banyak belajar dan mengikuti jejaknya menjadi penulis buku produktif. Sebuah proses yang harus diikuti dengan satu tujuan melahirkan buku-buku yang bermanfaat buat orang banyak. Terutama rahasia sukses Pak RIM menjadi penulis buku produktif yaitu, “Waktu terbaik untuk menulis adalah waktu ketika sedang menunggu”. Terima kasih Pak RIM.
*Dosen Fakultas Teknik Universitas Ekasakti.
