Hingga pergantian tahun, dari masa ke masa, bumi, satu-satunya planet tempat makhluk hidup bernaung. Sudah sewajibnya manusia sebagai Khalifah turut merawat bumi atas nikmat Allah SWT. Bukan melakukan kemunkaran atau perusakan.

Tanpa adanya planet bumi mustahil akan ada kehidupan. Selanjutnya, Manusia sebagai makhluk hidup yang berakal dan berakhlak mempunyai peran vital merawat bumi dari kerusakan, yakni menjaga kebersihan lingkungan, turut andil merawat kawasan hutan dari kejahilan tangan-tangan “pengusaha” yang tidak bertanggungjawab.

Kemudian mempertahankan dan menjaga kekayaan bumi ini agar tetap melimpah untuk kemakmuran bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Pasalnya agama apapun itu mengajarkan setiap umat untuk mengetahui dan menyadari arti penting menjaga lingkungan tempat kita berpijak ini. Agama juga mengajarkan untuk selalu peduli terhadap lingkungan, agama juga mengajarkan bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dari kerusakan lingkungan. Rusaknya lingkungan sekitar akan berdampak buruk bagi setiap perkembangan makhluk hidup yang bernyawa dan berakal, yaitu manusia dan hewan. Agama sebagai sumber nilai dapat merubah alam menjadi suatu sumber kehidupan yang baik maupun buruk.

Menurut ajaran Islam, segala sesuatu yang terjadi pada lingkungan merupakan peringatan dari Allah SWT. Namun sayangnya, aktivitas manusia sendiri penyebab rusaknya lingkungan.

Manusia sebagai Khalifah memiliki peranan yang sangat penting dalam pemeliharaan lingkungan, bukan merusaknya.

Tidak terbayang kengeriannya jika  kerusakan lingkungan yang disebabkan perbuatan manusia itu benar-benar terjadi. Hal yang ditakutkan saat ini telah berlangsung seiring perkembangan zaman, sebut saja kemarau panjang menyebabkan tumbuh-tumbuhan mengering, persawahan banyak gagal panen (poso).

Laut mengering disebabkan proyek abrasi pantai, banjir, tanah longsor, pencemaran limbah industri dan rumah tangga, polusi udara dari knalpot kendaraan dan cerobong pabrik, pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, hilangnya area resapan air, membuang sampah sembarangan. Ulah manusia juga telah mengakibatkan kebakaran hutan, kekeringan, kerusakan alam hingga menyebabkan kerugian materi dan non materi, entah sudah berapa banyak kerugian negara akibat kejahatan tangan “pengusaha” nakal.

Jadi, seharusnya manusia belajar dari kenyataan tersebut, sebagaimana tecermin dalam Al-Quran surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Sementara Surah Al-A’raf mengajak umat untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Sebagai makhluk hidup, manusia sewajibnya meningkatkan hubungan antara nilai-nilai religius dengan gaya hidup ramah lingkungan dalam upaya perbaikan lingkungan melalui penyebaran edukasi.

Peranan manusia tadi dikategorikan sebagai tujuan-tujuan sangat mulia, ditengah-tengah kehidupan manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan dalam dalam Quran Surat Adz-Dzariyat-56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku.” 

Bumi memiliki potensi dan sumber daya alam yang melimpah untuk dinikmati oleh manusia seluruhnya, namun ada batasan batasan yang dijaga.

Diakui, tidak semudah membalik telapak tangan, dibutuhkan kesadaran dari manusia untuk ikut serta  dalam menjaga lingkungan hidup disekitar kita dengan tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan.

Lantas apabila akan melakukan penebangan, mengganti dengan menanam pohon yang baru, serta ikut meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu lingkungan hidup sekitar dan krisis iklim. Sebab pada dasarnya, menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari merupakan kewajiban manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Sebagai penutup mengutip kata-kata bijak Mahatma Gandhi, “Bumi ini cukup untuk menghidupi tujuh generasi, namun tidak pernah cukup untuk memenuhi tujuh orang serakah”.

(Visited 26 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.