Oleh: Hamsah*

Gemuruh suara petasan dan terompet di kota dan di desa menjadi penanda pergantian tahun masehi. Satu tahun telah terlewati tentu mengisahkan berbagai cerita yang penuh cinta atau mungkin tanpa cinta. Mungkin ada cerita yang menarik, monoton atau bahkan penuh luka. Seperti kata pujangga, satu tahun adalah waktu yang singkat bagi mereka yang berbahagia, namun terasa lama bagi mereka yang sedang menunggu.

Bersorak bahagia tak mungkin dibendung bagi mereka yang melewati pergantian tahun baru dengan penuh cerita menarik. Akan tetapi murung tak bersuara juga tak mungkin terhindarkan bagi mereka yang memiliki cerita sedih dan sulit untuk dilupakan. Itulah perjalanan waktu, tak ada yang bisa menghentikannya. Ia akan terus berangsur-angsur membuat yang muda menjadi tua, dan yang baru menjadi usang serta yang bahagia semoga semakin bahagia.

Perjalanan waktu tahun 2022 mengisahkan berbagai cerita indah dan luka. Banyak peristiwa yang menguras emosi dan air mata. Namun, melihat masa lalu bukan berarti kita akan kembali. Begitupun kita meneropong masa depan bukan berarti kita akan loncat ke depan, tapi yang terpenting adalah apa yang terjadi hari ini.

Tak kalah pentingnya kita jadikan pergantian tahun baru sebagai momentum untuk melakukan evaluasi diri. Evaluasi diri secara multidimensi menjadi penting bagi kita untuk melihat sejauh mana pencapaian-pencapaian yang selama ini kita bisa dapatkan. Pencapaian yang dimaksud tidak selalu tertuju pada hal materialisme. Karena sejatinya dalam hidup bukan nilai materi sebagai tujuan utama.

Bagi kaum filosof, sejatinya hidup adalah untuk mendapatkan kebenaran. Oleh karena itu, kebenaran menjadi orientasi utama dalam pemanfaatan waktu dalam hidup. Sehingga aspek terpenting dalam melihat pencapaian yang telah didapatkan adalah sejauh mana kehidupan kita ini telah mendekati kebenaran atau belum. Apakah dalam satu tahun terakhir ini kita manfaatkan hidup kita secara benar atau belum. Apakah kita telah berbuat baik dan benar untuk diri kita dan kepada orang lain, dan lain-lainnya.

Begitupun dalam pandangan yang lain, seperti tokoh psikolog Sigmund Freud menyatakan bahwa hidup manusia bergerak untuk mencapai kebahagiaan. Oleh karena itu, penting kiranya kita melakukan evaluasi terhadap pertanyaan-pertanyaan hidup kita. Apakah kebahagiaan yang kita inginkan telah kita dapatkan atau belum. Sejauh mana kita telah membuat orang lain atau pasangan kita bahagia. Mengapa kita belum bahagia. Mengapa kita belum berpasangan (bagi yang jomblo) dan lain-lainnya.

Pandangan di atas hanyalah prolog terkait dengan pilihan-pilihan hidup kita selama ini. Mungkin kita bisa berada di dalamnya ataupun di luar dari apa yang penulis sampaikan. Namun, yang pasti kita secara beragam telah memanfaatkan waktu dalam satu tahun terakhir ini terhadap keputusan-keputusan hidup yang telah kita ambil.

Melihat kembali segala jalan cerita yang telah kita lalui menjadi penting untuk dijadikan sebagai evaluasi dan pembanding terhadap apa yang telah dilakukan dengan apa yang belum. Apa yang baik pada hari-hari kemarin senantiasa kita pertahankan dan apa yang masih kurang senantiasa kita tingkatkan dan lakukan perbaikan untuk masa yang akan datang..

Hari ini tahun baru masehi 2023 kita akan mulai lembaran baru yang lebih baik.

  • Akademisi Universitas Negeri Manado
(Visited 73 times, 3 visits today)
Avatar photo

By Hamsah

One thought on “Pergantian Tahun Sebagai Momentum Evaluasi Diri”
  1. Realitasnya demikian bro…tahun yang berlalu jadi kenangan untuk direfleksikan dan tahun baru merupakan teta teki dalam mimpi yang masih dalam kabut…salut atas pemikiran bang…manusia selalu mencari kebahagiaannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.