Oleh: Juharman Muliadi

Apa yang ditanam itu yang ku tuai
Apa yang kucari itu yang kudapat. Begitulah suasana malam minggu kali ini.
Berani meninggalkan kasur yang empuk dan riuhnya kota menjadi sebuah pilihan di malam yang panjang ini.

Membuang waktu bukan menjadi alasan, tapi keceriaan dan solidaritas di sini kami rasakan.
Di depan api unggun kami berbagi kopi, suasana yang menghangatkan solidaritas persahabatan semua tertuang dalam secangkir kopi yang penuh dengan harapan.

Embun kian menetes di atas harapan yang penuh dengan hayalan masa lalu. Dengan modal kunang-kunang aku bertanya pada alam.

Bagaimana biar dinginnya menjelma menjadi kehangatan rumpun camp tertawa bersama, saling memahami dan ditemani indahnya kabut, berharap tak seperti lagu sebatas patok tenda karena kehangatan solidaritas tak ada kata sayonara.

Kucoba pahami persahabatan dengan simpul mati pada plesit.
Akhirnya, kutemui makna untuk saling mengisi kekurangan dalam membangun keteguhan.
Kucoba menerka misteri sandi rumput, yang kudapat sebuah kekaguman dari peristiwa yang hampir kusimpulkan dengan tergesa-gesa.

(Visited 56 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.