Oleh: Ruslan Ismail Mage*
Kolaborasi adalah kata ajaib yang akan menyelamatkan dalam sistem kompetisi di abad digital. Jauh sebelumnya, pendiri Ford Motor Company Amerika Henry Ford mengatakan, “Datang bersama-sama adalah permulaan, tetap bersama adalah kemajuan, dan bekerja bersama adalah keberhasilan.”
Menyadari hal ini, Rabu (14/2) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Ekasakti Padang melakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Agam Sumatra Barat. Kesepakatan kerja sama dalam peningkatan SDM ini ditandai dengan penandatanganan MoU kedua belah pihak.
Dalam konteks birokrasi pemerintahan daerah, MoU ini sangat penting dan menarik. Penting karena kalau birokrasi dianalogokan sebagai mesin, butuh teknisi yang terampil dan cekatan agar bisa berputar dan bergerak maju menuju pelayanan publik yang prima. Menarik karena dihadiri oleh Rektor Universitas Ekasakti Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd. bersama seluruh pimpinan fakultas dan Bupati Agam Dr. H. Andri Warman, S.Sos., M.M. bersama jajarannya.
Lebih menariknya lagi, acara ini bernuansa akademis, familiar, dan sedikit jenaka, yang ditandai dengan kuliah umum oleh Bupati Agam Dr. H. Andri Warman, S.Sos., M.M. Sang bupati mengurai perjalanan hidupnya yang sangat inspiratif dan menggelitik. Canda tawa terus mengiringi narasi yang disampaikan di depan civitas akademika Universitas Ekasakti.

Sang bupati akademis ini memulai perjalanan hidupnya sebagai tukang jahit untuk memicu nyalinya hidup mandiri. Baginya tidak ada yang tidak bisa dilakukan dan dicapai kalau mau berusaha. Selalu ada jalan dan celah untuk menggeliat muncul ke permukaan bagi orang yang memiliki semangat dan mental petarung masa depan.
Dari kecil, tukang jahit ini tergolang anak cerdas di atas rata-rata anak seusianya. Sejak usia sekolah sudah memiliki cara berpikir alternatif. Maksudnya, tidak ada satu obat untuk semua penyakit, begitu pula tidak ada satu pemecahan untuk semua masalah. Ia menjabarkannya dengan bahasa sederhana, “Hidup itu harus banyak akal, tetapi tidak akal-akalan.” Prinsip hidupnya ini mendapat justifikasi dari Ibnu Qayyim Rahimahullah yang berkata, “Jika Allah (dengan hikmah-Nya) berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti (dengan rahmat-Nya) membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.”
Prinsip hidup ini telah membawanya mengarungi perjalanan hidup laksana tupai (keberanian, agresivitas, tingkat aktivitas, dan kemampuan sosialisasi) yang gesit melompat ke sana kemari mencari dan mengintip celah yang bisa dilewati pergi menjemput mimpinya. Sebuah perjalanan inspiratif penuh dinamika yang menarik dikenang, dibagikan, dan dipahami generasi muda, kalau hidup dan kehidupan itu membutuhkan semangat, kerja keras, dan harus banyak akal tetapi tidak akal-akalan.
Sikap kedinamisan dan fleksibelnya sebagai tukang jahit membuatnya banyak teman dalam menyebar jaring-jaring sosialnya. Alur hidupnya mengikuti anak tangga yang terus menanjak, hingga bisa melanjutkan pendidikan tinggi di jakarta sampai bergelar doktor (S3) dan menjadi akademisi di salah satu perguruan tinggi swasta ternama ibu kota.
Alhamdulillah, sekitar pukul 11.00 jelang siang Rabu (14/2) kemarin, saya bisa bertemu, menyelaminya, mengambil hikmah perjalanan hidupnya yang penuh inspiratif, dan menyerahkan lima karya buku saya kepada sang pemimpin yang memulai perjalanan hidupnya menjadi tukang jahit, lalu menjadi akademisi bergelar doktor, yang kini menjadi Bupati visioner Kabupaten Agam Sumatra Barat. Jayalah Unes majulah Agam. []
*Akademisi, inspirator dan penggerak, penulis buku-buku motivasi.

Bupati Agam, hebat seoranfg Doktor
Kalah atuh Bupati Bsndung dsn Bupati Bandung Barat.