Oleh: Gugun Gunardi*

Tahun 1969, penulis mengawali belajar di bangku SMP. Penulis memilih melanjutkan studi di SMP Pasundan 1,  karena mendapatkan fasilitas bebas uang iuran sekolah, berhubung salah seorang kakak penulis, menjadi pengurus Paguyuban Pasundan yang membawahi Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan. Tentu saja kesempatan baik itu tidak dilewatkan begitu saja. Dalam pikiran penulis itung-itung sedikit membantu meringankan beban keuangan keluarga, sebab sebagian biaya uang sekolah penulis di SMP dibebaskan oleh sekolah.

Lumrah, pada awal tahun pembelajaran, ada beberapa penyesuaian dalam proses belajar. Maklum dari kebiasaan belajar anak-anak, berubah pada cara belajar lingkup remaja. Teman sebangku pun tidak seperti ketika di SD lagi, yang diatur laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Di SMP tidak begitu, teman sebangku diatur laki-perempuan. Awalnya agak kikuk juga untuk ngobrol dengan teman sebangku-ku, tapi lama-lama jadi terbiasa. 

Pelajaran yang diperoleh pemelajar di SMP pun tidak terlalu jauh berbeda dengan ketika di SD. Yang sedikit agak berbeda adalah nama pelajaran berhitung (matematika), yang berubah menjadi aljabar dan ilmu ukur (waktu itu), serta bertambahnya pelajaran bahasa Inggris.

Pelajaran bahasa Inggris ini, bagi penulis terasa baru, maklum pembelajaran pada jaman penulis belajar di bangku SD, tidak ada bahasa Inggris seperti SD saat ini. Sehingga untuk pelajaran yang satu ini penulis agak merasa kedodoran. Terutama jika menerima tugas pekerjaan rumah (PR) untuk menuliskan sepuluh kata kerja (verb), dan  menghafalkan perubahan verb tersebut berdasarkan perubahan waktu, maklum pada saat itu Kamus Bahasa Inggris masih terbilang mahal. Sehingga, PR ini sering membuat penulis agak stress, apalagi setiap bertemu pelajaran bahasa Inggris minggu berikutnya, para murid secara acak dipanggil ke depan kelas untuk membacakan verb tersebut.

Pada saat penulis belajar di tingkat SMP, pelajaran bahasa Inggris di kebanyakan SMP merupakan pelajaran baru. Karena saat itu belum banyak di tingkat SD yang mengajarkan bahasa Inggris. Jadi, bukan hal aneh untuk pelajaran yang satu ini, penulis belajar dari awal, dan sedikit agak rikuh. Maklumlah, SD ditempat penulis belajar, bukan SD modern yang mengajarkan bahasa Inggris, lagipula kursus bahasa Inggris dan guru bahasa inggris saat itu dianggap barang langka.

Ada satu hal yang konyol, yang pernah penulis lakukan di pelajaran ini. Saat dimana Ibu Guru bahasa Inggrisku yang baik dan sabar, sedikit mengerutkan keningnya sambil tersenyum, ketika melihat catatan PR reguler dan irreguler verb di buku PR penulis. 

“Gugun coba ucapkan perubahan verb to bled yang kamu tulis ini”.

Dengan sigap dan tegap, saya mengucapkan kata tersebut dengan suara lantang:

“To bled, bleding, bleded, bledog”.

“Apa itu artinya, Gun”.

“Melempar, Bu”.

“Oh ya ya.., ya sudah, silakan duduk”. 

Beliau menyuruhku duduk sambil tetap tersenyum.

Pelajaran bahasa Inggris hari itu, dihabiskan waktunya dengan memanggil satu-satu murid ke depan kelas untuk mengucapkan PR verb masing-masing, dengan perubahan waktunya,  hingga berakhir pelajaran dan Ibu Guru pun meninggalkan kelas. 

Lega rasanya sudah melewati giliran mengucapkan perubahan verb di depan kelas. Tapi buku PR bahasa Inggrisku tidak ada di meja guru, ketika Ketua Kelas (KM) membagikan kembali buku PR bahasa Inggris kepada semua murid yang tadi dipanggil ke depan kelas. Rupa-rupanya buku PR ku dibawa oleh Bu Guru.

Ketika jam istirahat, seperti biasa kami berkerumun di bawah ring basket, bergiliran berlatih melempar bola ke ring basket.

Tiba-tiba penjaga sekolah mendatangiku:

“Nak, kamu dipanggil Ibu Sumirah”. (Ibu Guru Bahasa Inggrisku)

Dari lapang Basket, penulis bergegas menemui Bu Sumirah di ruang guru.

Sesampai di pintu ruang guru, dari meja kerjanya Bu Sumirah melambaikan tangan ke arah penulis.

“Assalamu alaikum”.

“Waalaikumsalam”, semua yang ada di ruang itu menyahut salamku hampir berbarengan.

Penulis langsung duduk di depan meja kerja Bu Sumirah.

Sambil tersenyum ramah dan membuka buku PR ku, Bu Sumirah bertanya:

“Dari mana kamu dapat kata ini, to bled – bleding – bleded – bledog?”

“Dari kakak kelas, Bu”.

Sambil tersenyum lagi, Bu Sumirah:

“Ohw, nggak ada kata to bled yang artinya melempar… Gun.”

“Bahasa Inggrisnya melempar adalah ‘throw’, Gun.”

“Coba kamu cari verb di kamus, biar yang kamu tulis itu bener, jangan tanya temen dulu.., Ok… Gun”.

Sambil menyerahkan buku PR ku, Beliau berkata:

“Kamu harus banyak belajar bahasa Inggris, biar pengetahuanmu bertambah luas, Gun”.

Ia menyambung perkataannya, seraya berdiri di sampingku, dan menepuk pundakku:

“Gugun tahu kunci Inggris.., kunci itu bisa digunakan untuk membuka baut dan mur ukuran apa pun.”

“Analoginya, jika kamu menguasai bahasa Inggris, ibarat kita punya kunci Inggris. Dengan bahasa Inggris, kita bisa membuka rahasia pengetahuan yang banyak.., Gun.”

Saya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bu Sumirah, kemudian pamit meninggalkan Bu Sumirah, pergi ke kelas untuk menyimpan buku PR bahasa Inggrisku.

Tahun berlalu, dan jaman pun berubah. Tak terasa tahun 1983, penulis sudah menjadi CPNS (asisten dosen) di Unpad. Waktu itu penulis menjadi asisten Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma (almh), dan Drs. H. A. Marzuki (alm). Awal-awal menjadi CPNS, penulis ditugaskan mengikuti Kursus Komputer oleh Dekan Fakultas Sastra Unpad. Di tempat kursus itu, penulis mulai menyadari bahwa yang disampaikan ibu Sumirah itu betul. Ternyata, untuk menguasai cara kerja komputer, diperlukan penguasaan bahasa Inggris pasif. Oleh sebab, semua instruksi yang ada di komputer menggunakan bahasa Inggris.

Di Indonesia, menurut catatan yang penulis baca di google, komputer mulai dikembangkan pada 4 Juli 1969, oleh BAKOTAN (Badan Koordinasi Otomatisasi Administrasi Negara). Tak sadar, di tahun itulah, penulis mendapat nasihat dari Ibu Sumirah untuk banyak belajar bahasa Inggris, dan mendengar istilah kunci Inggris.

Saat ini, komputer sudah berkembang dalam bentuk yang  beragam, dari mulai bentuk Personal Computer (PC), hingga berkembang menjadi laptop, tablet, android dll.. Tak terbayang sebelumnya, alat yang kecil ini telah mengubah peradaban dunia saat ini. Tapi tetap, untuk menguasai alat-alat yang canggih itu, diperlukan penguasaan bahasa Inggris. Meskipun terbatas pada istilah yang digunakan dalam komputer, tetap saja istilah itu menggunakan bahasa Inggris. Sedangkan, terjemahan ke dalam bahasa Indonesia masih sangat terbatas.

Penulis: Lektor Kepala, Dosen Tetap Fakultas Sastra Universitas Al-Ghifari, alumni S3 Pascasarjana Unpad.

(Visited 167 times, 1 visits today)
One thought on “Kunci Inggris dan Bahasa Inggris”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.