Menapak Tilas Proses Kemerdekaannya Hingga Kini.
Di tahun 2024 ini, 79 tahun yang lalu, satu negara berdaulat telah lahir di hari dan tanggal yang istimewa. Hari Jumat, tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945 M, bertepatan 17 Ramadhan 1366 H. Dalam goresan di lembaran sejarah telah tercatat gaung proklamasi telah menggema ke seluruh antero jagad, menyuarakan kemerdekan yang telah lama dinanti-nanti. Di lapangan Ikada, berjejal manusia dari berbagai penjuru berkumpul bersama, terutama yang ada di ibu kota Jakarta dan sekitarnya. Berkumpul menanti gema gaung pernyataan kemerdekaan melalui suara lantang Sang Proklamator Bung Karno didampingi Bung Hatta yang akan membacakan naskah Proklamaasi Kemerdekaan Indonesia dan Panitia Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan pejuang lainnya menyatakan kemerdekaan. Hari itu, tak teruraikan dengan kata-kata, tak tergambarkan dan terlukiskan dengan apapun wajah-wajah ceria nan gembira yang membuncah, meluap-luap, meletup-letup tak terbendung yang dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia saat itu. Saat hari istimewa yang sudah lama dinantikan untuk diraih dan dinikmati rasa merdeka, terbebas dari berbagai belenggu dan tekanan. Betapa tidak, dalam kurun waktu yang cukup lama, dalam bilangan angka, selama 350 tahun terbelenggu, tertekan, terbelakang, tercerai berai karena adu domba. Dengan kondisi berada dalam cengkeraman para penjajah yang haus akan harta dan tahta, bersama mereka yang bersekutu dengan para penjajah itu sendiri. 350 tahun atau 3,5 abad, waktu yang cukup lama berada dalam kondisi tertekan, malah tak sedikit yang menjadi budak, juga kerja paksa yang tanpa pelayanan pangan dan sandang yang memadai.
Pembacaan Proklamasi sebagai pernyataan tanda kemerdekaan tidaklah mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Para tokoh pejuang terutama yang tergabung dalam panitia persiapan kemerdekaan, haruslah bernyali menerobos barisan tantara Jepang dengan todongan senjata lengkap, diantara ribuan rakyat yang telah menunggu-nunggu momen berbahagia itu sekaligus juga dalam suasana yang menegangkan. Di suasana yang masih menegangkan, seketika tampillah seorang pemberani yang bernama Kahar Muzakkar mencabut keris dari pinggangnya, mengacungkannya menerobos barisan tantara bersenjata lengkap kala itu, berani maju melompat tanpa perduli diberondong peluru, melompat berdiri di belakang Bung Karno dan Bung Hatta hingga teks Proklamasi usai dibacakan. Maka sejak saat itulah Indonesia menjadi satu negara yang merdeka walaupun masih harus menunggu pengakuan dari negara berdaulat lainnya minimal dua negara yang mengakuinya, barulah bendera merah putih berkiba
Meski proklamasi telah menggaung mengangkasa, menggema ke seantero nusantara kala itu, bahakan kabar kemerdekaan telah meliuk-liuk menembus batas Benua khususnya Asia, namun jika tidak ada negara berdaulat lainnya mengakuinya, hal itu belum bisa dinyatakan merdeka. Lalu seorang yang alim nan bijak, Haji Agus Salim tanpa rasa takut mengarungi lautan menaklukkan gelombang keraguan, berlayar menuju negara yang diyakini akan mengakui Indonesia sebagai negara yang telah merdeka dengan membawa lembaran kertas yang diselipkan di kaos kakinya walau tanpa selembarpun SPPD yang nantinya akan menggantikan biaya perjalannya. H. Agus Salim terkenal kepiawaiannya dalam berdiplomasi, diplomat ulung milik Indonesia. Beliau yang melakukan diplomasi karena penguasaan beberapa bahasa asing yang mumpuni serta wawasan yang luas, memiliki sikap yang bijak sehingga memuluskan misinya merangkul dunia mendukung kemerdekaan Negaranya, yang telah diberi nama Indonesia yang telah dirancang proses kemerdekaannya oleh Tan Malaka tahun 1925.
Kemerdekaan Indonesia bukanlah sebatas perjuangan di saat pembacaan Proklamasi saja, melainkan ada perjuangan panjang berliku, menukik, jatuh bangun mendaki dan menurun bukit yang terjal, melewati bebatuan bercadas berduri, diterpa badai dihantam gelombang kehidupan. Ada banyak pengorbanan yang menyertainya, ada kucuran keringat berjatuhan, ada deraian air mata membasahi pipi, tak terbilang harta dan tenaga terkuras dan terampas, tetesan darah jatuh bersimbah di hamparan bumi Pertiwi hingga tak terhitung meregang nyawa dan melayang bahkan ada yang tidak berkabar di mana rimbanya. Ada yang dibuang dan dipenjara, namun tekad untuk merdeka semakin bulat dan kuat. Semua elemen telah bertekad bersatu bersama menghadapi rintangan dan tantangan dengan kebesaran jiwa sekuat tenaganya, tak perduli seberat apapun rintangan dan tantangan itu meski hanya berbekal bambu runcing dan senjataa rampasan ala kadarnya yang dipikulnya melawan para penjajah bersenjata lengkap modern di jamannya. Hanya satu tekad yang harus diraih, yakni “merdeka” dari belenggu cengkeraman penjajah biadab dan serakah tak beradab. Para pejuang tak peduli akankah dinikmatinya atau tidak, karena yakin anak cucu pasti menanti yang akan mewarisi kemerdekaan meskipun mereka harus terluka bahkan meregang yawa. Pekikan slogan “Merdeka atau Mati” dibarengi kumandang “Takbir” menambah semangat perjuangan takkan usai hingga cita-cita merdeka diraih. Benarlah kata Sang Proklamator kita, Bung Karno (kutipan pidatonya 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI) bahwa “kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi dibawah palu godam peperangan, Indonesia merdeka yang digembleng dalam api peperangan, Indonesia merdeka bukanlah hadiah”. (buku Star Revolusion)
Pembacacaan Proklamasi sebagai tanda kemerdekaan, bukanlah awal atau akhir dari perjuangan kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa Inndonesia, melainkan puncak dari perjuangan sebelumnya sekaligus menjadi pijakan langkah selanjutnya menata negeri yang besar dan kaya raya ini. Jauh sebelum tanggal 17 agustus 1945, ada banyak peristiwa yang mendahuluinya. Tahun 1889, kesadaran mulai merambah di setiap relung hati rakyat Nusantara saat itu meski masih terbatas. Kesadaran yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara dengan mendirikan Taman Siswa yang berkeliling ke pelososk-pelososk menggugah kesadaran warga akan kebodohan dan katerbelakangan akibat cengkeraman penjajah. Tahun 1908, mulai bengkit melakukan perlawanan secara masif menjadi awal kebangkitan yang dipelopori oleh Dr.Wahidn Sudirihusodo mulai bergerak hingga ke pelososk-pelosok melalui organisasi Budi Utomo. Dari pergerakan inilah berlanjut ke pergerakan selanjutnya. tahun 1925 Tan Malaka menulis naskah tentang Indonesia Merdeka, menjadi cikal bakal nusantara di tahun 1926 terlaksana Kongres Pemuda I namun belum menghasilkan keputusan signifikan. Tahun 1928 dilaksanakan lagi Kongres Pemuda II yang telah melahirkan Ikrar yang menjadi perekat persatuan menggeloraan perjuangan yang dikenal dengan “Sumpah Pemuda” yang dihadiri oleh perwakilan pemuda se nusantara yang kala itu, sekaligus terdengar lagu kebanagsaan Indonesia Raya pertama kali berkumandang dengan penuh semangat, yang makin mendorong perjuangan makin bergelora mewujudkan Indonesia menjadi satu negara yang merdeka di tahun 1945.
Sejak dinyatakan sebagai negara yang berdaulat pada 17 Agustus 1945, apakah Indonesia sudah aman dari ancaman? Jawabannya adalah “TIDAK” . baru saja hitungan bulan dinyatakan merdeka di bulan Agustus, di bulan Oktober Indonesia kembali mendapat ronrongan. kuku-kuku para penjajah ingin kembali mencengkaram, tapi karena tekad para pejuang sudah bulat, pekikan “Merdeka atau mati” dibarengi kumandang “Takbir” kembali menggema. Bulan September hingga November terjadi peristiwa yang mencekam yang tidak sedikit pengorbanan yang dialami saat itu. Pertempuran kembali berkobar di Surabaya, tdk sedikit pengorbanan yang dialami oleh Indonesia sehingga dinyataka sebagai hari pahlawa pada “10 Novembeer 1945” karena menjadi puncak aksi heroik pemuda saat itu sehingga mampu mengalahkan musuh biadab, yang membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yg kuat, hasil gembelengan peperangan panjang selama berabad-abad. Peperangan yang dipimpin seorang muda yang di dadanya telah terbakar api perjuangan dengan suara yang lantang memekikkan takbir bertalu-talu membahana, memberi kekuatan menerobos dan melumat apapun yang dihadapinya hingga kemenangan kembali digenggam.

Selang beberapa tahun kemuadian, tahun 1948, 1956, puncaknya tahu 1966 merupakan tahun duka lara bagi bangsa Indonesia karena terjadi peristiwa revolusi yang menyebabkan tujuh pemuda terbaik dan seorang anak kecil menjadi korban keganasan peristiwa Gerakan 30 Sepptember (G30S) yang tercatat sebagai pahlawan revolusi. Hal ini membawa Indonesia masuk pada babak Orde Barru yang dianggap sebelumnya merupakan Orde lama dengan beberapa lembaran catatan kelam. Lalu tahun 1998 sejarah kembali berubah bahwa orde barupun tidak lagi sejalan dengan konstitusi bernegara kita yang juga melewati lembaran-lembaran catatan kelam sehingga Orde baru kembali tumbang berganti Era Reformasi yang terjadi tahun 1998 hingga kini. Pertanyaan kelasik kembali muncul di benak saya sebagai masyarakat yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa negeri yang teramat sangat kaya. Lalu pertanyaan klasik berlanjut, apakah di Era Reformassi Indonesia tidak memiliki catatan kelam dalam setiap lembar -lembar perjalanannya sejak kurang lebih 26 tahun silam hingga di tahun 2024 saat ini. Bagi saya, sangat banyak catatan kelam terutama pelaksanaan Konstitusi sebagaimana amanah UUD 1945 dan Mukaddimah tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Tanah dan air dan kekayaaan lainnya dikelola oleh negara tukkan kemakmuran rakyat”, namun hal itu belum terkelola dengan maksimal karena masih marak kasus korupsi hingga hitungan trilyunan oleh lebih dari satu kelompok org yang belum tertangani dengan baik secara hukum. BUMN sebagai sumber ekonomi penopang pendanaan negara telah digerogoti oleh tikus-tikus berdasi, bahkan konon dikatakan bangkrut. Suatu kenyataan pahit yang kita saksikan, lalu pertanyaan kelasik kembali muncul di benak saya bahwa negeriku teramat sangat kaya lantas di mana dan ke mana kekayaannya, digunakan untuk apa dan siapa pula yang menikmatinya? Karena yang terdengar hanyalah hutang,hutang, dan hutang hingga trilyunan rupiah oleh sekelompok manusia.
Dari berbagai pertanyaan klasik tersebut di atas, saya hanya selalu mencoba berbaik sangka bahwa kita sedang diuji lagi oleh Allah, sejauh mana kecintaan dan kepedulian kita terhadap negeri tercinta dengan senantiasa mencari solusi di setiap permasalahan walau hanya dari satu titik dengan perbuatan kecil dari hamparan bumi nusantara. Kalau toh ada yang melakukan kesewenag-wenangan, kezaliman, perampasan, ketikadilan atau bentuk perlakuan kebiadaban lainnya, maka semua pasti terpulang pada setiap pelakunya. Kalau orang berkata bahwa “Hukum tuai itu ada “ ataukah “Hukum karma pasti berlaku” tetapi Allah sudah mengingatkan di dalam Al Quran bahwa “sesungguhnya sekecil biji zarrahpun perbuatan baik, aka nada balasannya. Dan sekecil biji zarrahpun perbuatan buruk, akan ada balasannya.” (QS : Az Zalzalah :7-8). Maka marilah terus tanpa henti menabur kebaikan agar kita selalu menuai kebaikan pula sesuai kadar perbuatan yang kita lakukan, insya Allah keberkahan akan selalu menghampiri, negara adil , makmur, dan sejahtera akan terwujud. Aamiin.
