Beberapa hari ini Hong Kong diguyur hujan lebat. Suara petir terdengar keras. Kilatan-kilatan api terlihat menakutkan. Angin berhembus sangat kencang. Bahkan, ada beberapa wilayah di Hong Kong yang sedikit tergenang banjir.
Di balik jendela, kutatap langit sambil membayangkan hujan-hujan begini paling enak menikmati semangkuk bakso panas dengan sambal yang pedas. Hmm, nikmat… tak terasa air liurku hampir menetes.
Kalau di kampung mah kepengin makan bakso tinggal nyalain motor, ngengggg… lima belas menit langsung dech bisa menikmati semangkuk bakso dengan topping kerupuk yang gurih. Di Hong Kong mana ada penjual bakso keliling? Pun tak ada nyanyian abang tukang bakso, mari mari sini, aku mau beli…
Bersyukur cuaca hari ini terlihat cerah. Matahari bersinar dengan cantiknya. Hatiku seolah berbunga-bunga melihat matahari pagi. Di Hong Kong, aku selalu merindukan hangatnya sinar matahari pagi.
Maklum, yang namanya tinggal di sebuah apartemen, sinar matahari tidak secara sempurna masuk ke setiap sudut ruangan karena terhalang oleh gedung-gedung pencakar langit.
Aku dan nenek tercinta pun dengan bahagianya turun ke taman untuk menikmati hangatnya sang mentari pagi. Duduk di taman, sesekali berteduh di bawah pohon yang rindang sambil menikmati nyanyian burung pipit yang bersahutan.
Setelah puas di taman, aku pun pulang untuk memasak. Menu makan siang yang sederhana saja.
Setelah selesai dan beres-beres dapur, aku masuk ke kamar sang nenek,mengambil kasur kecil untuk aku jemur di bawah apartemen. Sebuah kesempatan yang sangat menyenangkan bagiku, khususnya dan para penghuni apartemen lainnya dalam hal menjemur pakaian, seprei, dan selimut yang berbahan tebal.
Seketika taman kadang berubah menjadi ajang perlombaan, mencari tempat yang paling strategis.
Aku pun tak mau ketinggalan. Segera aku turun membawa kasur kecil nenek, kujemur di tempat yang panas mataharinya maksimal. Biar hangat dan tidak lembab.
Sejenak kubersandar pada sebuah kursi besi usang, sekadar menikmati semilirnya angin. Jemariku sibuk memainkan ponsel. Ponsel yang kadang lemotnya sering kambuh. Mau langsung balik ke rumah agak malas, semilir angin membuatku terlena dan mengantuk.
Sesekali aku menghampiri kasur kecil yang sedang aku jemur, kemudian aku balik bagian sebelahnya agar pancaran sinar matahari kian merata. Baru jalan beberapa langkah untuk kembali duduk,
tiba-tiba seorang perempuan paruh baya dengan menggunakan bahasa mandarin menyapaku sinis.
Menyadari karena aku tak paham bahasa mandarin, dia pun berbisnis dengan bahasa kantonis.
Sambil memegang baju yang masih tergantung di jemuran dengan songongnya dia membentakku,
“Hei kamu, awas ya kalau jalan jangan lewat sini, dan juga jangan lewat situ, lewat jalan sebelah ujung sana saja dan kamu jalannya jangan sampai menyentuh baju-baju yang sedang aku jemur, nanti kotor!”
Tangannya sambil menunjuk nunjuk ke arahku. Ucapan yang tidak sopan membuat aku tak sungkan untuk membalasnya.
“Kau pikir aku apaan, bisa sopan sedikit ndak sih kalau ngomong? badanku bersih kok, tak terlihat kotor pula!”
“Apa kamu takut baju yang sedang kamu jemur menjadi kotor karena terkena sentuhanku, gitu!?
Dia melototin aku. Aku pun balik melototin dia. Hmmm… Dikira aku takut kali ya? Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya, batinku tertawa.
Dia seolah jijik melihatku, melihatku dengan penampilan yang menurut dia aneh. Dia terlihat sangat tidak senang denganku, dengan penampilanku yang memakai kerudung. Tekadang orang Hong Kong juga ada yang aneh. Tetapi banyak juga yang paham dan hormat.
