Kita semua punya sesuatu yang mungkin tidak kita sukai tentang diri sendiri. Entah itu penampilan, kemampuan, atau bahkan latar belakang keluarga kita. Bagi Bella Indah Sanusi, rasa tidak suka itu bermula dari tempat yang ia sebut rumah—sebuah ruko kecil di atas bengkel yang penuh dengan bau knalpot dan oli. Namun, perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa rasa malu itu justru bisa berubah menjadi kebanggaan.

“Teman-teman, apakah ada sesuatu yang tidak Anda sukai pada diri Anda? Sesuatu yang mungkin membuat Anda merasa malu dan jarang diceritakan kepada orang lain?” tanya Bella dengan nada lembut.

Ruang Ramayana di KJRI Hong Kong dipenuhi dengan wajah-wajah penuh semangat. Pada Minggu, 15 Desember 2024, seminar bertajuk Perempuan Indonesia Bercerita menghadirkan cerita-cerita luar biasa dari perempuan Indonesia yang tinggal dan berkarya di Hong Kong. Dengan tema mendalam tentang perjalanan hidup, acara ini diselenggarakan oleh IDN Hong Kong-Macau bersama Story Worth Sharing, didukung oleh PAthFinders.

Bella mulai berbagi kisah tentang masa kecilnya. “Dulu, yang paling tidak aku sukai adalah rumahku. Aku sekolah di sekolah internasional di Jakarta Utara, di mana teman-temanku tinggal di rumah-rumah mewah di kompleks elite. Gerbang rumah mereka tinggi, kokoh, dan bahkan ada yang punya kolam renang seperti rumah Barbie,” katanya, senyumnya mengulas kenangan yang dulu terasa berat baginya.

Sementara itu, Bella tinggal di sebuah ruko yang sekaligus menjadi bengkel milik ayahnya. “Brem… brem… brem… tok… tok… tok… ngeng… ngeng… ngeng…” katanya menirukan suara khas bengkel. “Aku setiap hari mencium bau knalpot dan oli. Dan aku pernah diejek teman-teman, ‘Rumah bengkel… rumah bengkel…’”

Masa itu, Bella mengaku sering merasa malu. “Setiap kali teman ingin belajar kelompok di rumah, aku selalu mencari alasan. Mulai dari ‘di rumah ada kakek-nenek’ sampai ‘Papa Mama lagi diare,’ semua demi menghindari rasa malu karena mereka akan tahu aku tinggal di bengkel.”

Namun, perjalanan hidup Bella berubah saat ia bertemu seorang teman kuliah yang menginspirasi. Temannya itu adalah seorang perantau yang tinggal di kos-kosan sederhana di Jakarta. Ia kuliah siang hari, bekerja malam hari, dan sering kali menyimpan makanan jatah besar untuk dua kali makan.

“Dia bercerita tanpa malu tentang perjuangannya. Saat itu aku langsung merasa malu, bukan pada dia, tapi pada diriku sendiri,” kenang Bella. Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat kehidupan dari sisi materi, tanpa menyadari makna perjuangan dan kerja keras.

Bella mulai memahami bahwa rumah bengkel itu adalah bukti nyata dari kerja keras ayahnya. Sang ayah, yang dibesarkan oleh seorang janda beranak delapan, memulai hidupnya dengan bekerja sejak usia 14 tahun, dari membersihkan kapal di Tanjung Priok hingga akhirnya membuka bengkel sendiri. Semua itu dilakukan demi masa depan yang lebih baik untuk anak-anaknya.

“Kerja keras Papa adalah cerita yang harus kuceritakan dengan bangga, bukan rasa malu,” ujar Bella penuh keyakinan. Kini, ia justru melihat masa kecilnya sebagai landasan dari pencapaian-pencapaiannya saat ini.

Bella Indah Sanusi tumbuh dalam keluarga sederhana yang tidak memiliki akses ke pendidikan tinggi. Namun, berkat tekad dan dukungan dari orang tuanya, ia berhasil meraih gelar magister dari Hong Kong Baptist University (HKBU) dengan beasiswa penuh. Saat ini, ia menjabat sebagai Manajer Learning and Development di sebuah perusahaan internasional di Hong Kong.

Dalam perannya, Bella tidak hanya membanggakan keluarganya tetapi juga terus menginspirasi orang lain untuk mengejar mimpi, terlepas dari keterbatasan mereka. “Tidak peduli dari mana kita berasal, kerja keras dan kebanggaan terhadap diri sendiri adalah kunci untuk melangkah lebih jauh,” tutupnya dengan semangat.

Siapakah Aku?”

Di antara para pembicara yang berbagi kisah inspiratif, hadir sosok muda Andrea Putri Gani. Mahasiswi semester tiga jurusan Ilmu Komunikasi dan Manajemen di University of Hong Kong (CityU HK) ini mencuri perhatian peserta dengan kisah perjalanannya. Tak hanya itu, Andrea juga menjabat sebagai Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di Hong Kong (PPI HK) periode 2024-2025.

Andrea mengakui bahwa transisinya dari seorang lulusan SMA angkatan pandemi COVID-19 menuju perkuliahan di luar negeri adalah sebuah loncatan besar. “Perjalanan menuju kehidupan dewasa penuh tantangan, tapi di tengah itu semua, aku menemukan kebahagiaan dan kejutan,” ungkapnya. Namun, ia mengungkapkan bahwa pertanyaan terbesar dalam hidupnya adalah: “Siapakah aku?” Sebuah refleksi yang menginspirasi banyak peserta untuk merenungkan perjalanan hidup mereka sendiri.

Ajang Cerita dan Inspirasi

Seminar ini diorganisir oleh IDN Hong Kong-Macau, cabang dari Indonesian Diaspora Network Global (IDN Global). Organisasi nonprofit ini bertujuan mempererat hubungan antar komunitas diaspora Indonesia di seluruh dunia serta menghubungkan mereka dengan tanah air. IDN Hong Kong-Macau dipimpin oleh Nathalia Widjaja, seorang diaspora yang berkomitmen mengangkat peran komunitas Indonesia di Hong Kong dan sekitarnya.

Di sisi lain, Story Worth Sharing adalah kelompok yang baru didirikan pada akhir 2023 oleh Devi N. Kelompok ini bertujuan melatih perempuan Indonesia berbicara di depan umum, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan dan mempererat hubungan komunitas perempuan di Hong Kong.

Seminar ini juga menghadirkan para pembicara BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang berbagi cerita-cerita mendalam tentang pengalaman kerja mereka. Slamet Khofifah, Hestri Susanti, Anik Puji Lestari, dan Yayuk Ismiati merupakan beberapa di antaranya, bersama Fini Firdianingsih, seorang videografer, serta atlet Dwi Purnamasari. Mereka adalah perempuan luar biasa yang bekerja keras, menghidupi keluarga, dan tetap menginspirasi komunitas di sekitarnya.

Kisah mereka penuh warna, mulai dari suka duka bekerja dengan majikan, pengalaman pertama tiba di Hong Kong, hingga alasan mendalam mereka untuk bekerja di luar negeri—sebagian besar untuk membantu perekonomian keluarga di Indonesia.

Lebih dari Sekadar Cerita

Selain pembicara, acara ini juga didukung oleh fasilitator dari Story Worth Sharing. Nama-nama seperti Lilik Supartini, Galuh Nurviansyah (PAthFinders Ambassador untuk Saung Angklung dan Tari Hong Kong), serta Siti Rahayu dari Komunitas BSW n FS, turut berkontribusi memastikan acara berjalan dengan lancar dan berkesan.

PAthFinders, sebagai organisasi pendukung utama, juga memiliki peran besar. Organisasi ini fokus memberikan bantuan dan pelatihan kepada perempuan migran, terutama di Hong Kong. Dukungan mereka membantu banyak perempuan BMI untuk berbagi cerita dan mendapatkan pelatihan keterampilan yang memperkaya hidup mereka.

Seminar ini bukan hanya tempat untuk berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk saling menginspirasi. Dari Andrea, kita belajar tentang keberanian seorang pemimpin muda yang menjelajahi dunia dan menggali potensi dirinya. Dari para BMI, kita mendengar tentang kekuatan yang lahir dari perjuangan sehari-hari.

“Setiap kisah adalah pelajaran,” ujar salah satu peserta yang hadir. Perempuan Indonesia Bercerita membuktikan bahwa di mana pun kita berada, cerita hidup kita memiliki kekuatan untuk menginspirasi orang lain.

Di akhir acara, Andrea menutup dengan sebuah pesan yang menggugah, “Jangan pernah berhenti bertanya siapa diri kita. Temukan jawabannya dalam perjalanan, dalam perjuangan, dan dalam setiap momen yang kita jalani.” []


Indonesian Women Tell Stories in Hong Kong

We all have something we might not like about ourselves. Whether it’s our appearance, our abilities, or even our family background. For Bella Indah Sanusi, that dislike started from the place she calls home—a small shophouse above a garage filled with the smell of exhaust and oil. However, her life journey taught her that shame can actually turn into pride.

“Friends, is there something you don’t like about yourself? Something that might make you feel embarrassed and rarely tell other people?” Bella asked in a soft tone.

The Ramayana Room at the Indonesian Consulate General in Hong Kong was filled with enthusiastic faces. On Sunday, December 15, 2024, a seminar titled Indonesian Women Tell Stories presented extraordinary stories from Indonesian women who live and work in Hong Kong. With an in-depth theme about life’s journey, this event was organized by IDN Hong Kong-Macau together with Story Worth Sharing, supported by PAthFinders.

Bella began by sharing stories about her childhood. “Back then, the thing I disliked the most was my house. I went to an international school in North Jakarta, where my friends lived in luxurious houses in elite complexes. Their gates were tall, sturdy, and some even had swimming pools like Barbie’s houses,” she said, her smile reviewing the memories that used to feel heavy for her.

Meanwhile, Bella lived in a shophouse that also served as her father’s workshop. “Brem… brem… brem… tok… tok… tok… ngeng… ngeng… ngeng…” she said, imitating the distinctive sound of a workshop. “I smelled exhaust and oil every day. And my friends used to tease me, ‘A workshop house… a workshop house…’”

At that time, Bella admitted that she often felt embarrassed. “Every time my friends wanted to study in a group at home, I always found an excuse. Starting from ‘there are grandparents at home’ to ‘Papa Mama is having diarrhea,’ all to avoid embarrassment because they would find out I lived in a workshop.”

However, Bella’s life journey changed when she met an inspiring college friend. Her friend was a migrant who lived in a simple boarding house in Jakarta. He studied during the day, worked at night, and often stored large rations for two meals.

“He told me without shame about his struggles. At that time I immediately felt ashamed, not of him, but of myself,” Bella recalled. She realized that all this time she had only seen life from the material side, without realizing the meaning of struggle and hard work.

Bella began to understand that the workshop house was real evidence of her father’s hard work. Her father, who was raised by a widow with eight children, started his life working at the age of 14, from cleaning ships in Tanjung Priok to finally opening his own workshop. All of that was done for a better future for his children.

“Dad’s hard work is a story that I must tell with pride, not shame,” Bella said confidently. Now, she sees her childhood as the foundation of her current achievements.

Bella Indah Sanusi grew up in a simple family that did not have access to higher education. However, thanks to the determination and support of her parents, she managed to earn a master’s degree from Hong Kong Baptist University (HKBU) with a full scholarship. Currently, she serves as a Learning and Development Manager at an international company in Hong Kong.

In her role, Bella not only makes her family proud but also continues to inspire others to pursue their dreams, regardless of their limitations. “No matter where we come from, hard work and pride in ourselves are the keys to going further,” she concluded enthusiastically.

“Who Am I?”

Among the speakers who shared inspiring stories, there was the young figure of Andrea Putri Gani. This third-semester student majoring in Communication and Management at the University of Hong Kong (CityU HK) stole the attention of the participants with her journey story. Not only that, Andrea also serves as President of the Indonesian Student Association in Hong Kong (PPI HK) for the 2024-2025 period.

Andrea admitted that her transition from a high school graduate from the COVID-19 pandemic to studying abroad was a big leap. “The journey to adulthood is full of challenges, but in the midst of it all, I found happiness and surprises,” she said. However, she revealed that the biggest question in her life is: “Who am I?” A reflection that inspired many participants to reflect on their own life journeys.

Story and Inspiration Event

This seminar was organized by IDN Hong Kong-Macau, a branch of the Indonesian Diaspora Network Global (IDN Global). This non-profit organization aims to strengthen ties between Indonesian diaspora communities around the world and connect them with their homeland. IDN Hong Kong-Macau is led by Nathalia Widjaja, a diaspora who is committed to elevating the role of the Indonesian community in Hong Kong and its surroundings.

On the other hand, Story Worth Sharing is a group that was recently founded in late 2023 by Devi N. This group aims to train Indonesian women to speak in public, as part of an effort to empower and strengthen ties between women’s communities in Hong Kong.

The seminar also featured speakers from BMI (Indonesian Migrant Workers) in Hong Kong who shared in-depth stories about their work experiences. Slamet Khofifah, Hestri Susanti, Anik Puji Lestari, and Yayuk Ismiati were some of them, along with Fini Firdianingsih, a videographer, and athlete Dwi Purnamasari. They are extraordinary women who work hard, support their families, and continue to inspire the communities around them.

Their stories are colorful, from the ups and downs of working with employers, their first experiences in Hong Kong, to their deep reasons for working abroad—mostly to help their families’ economy in Indonesia.

More Than Just Stories

In addition to the speakers, this event was also supported by facilitators from Story Worth Sharing. Names such as Lilik Supartini, Galuh Nurviansyah (PAthFinders Ambassador for Saung Angklung and Hong Kong Dance), and Siti Rahayu from the BSW n FS Community, contributed to ensuring the event ran smoothly and was memorable.

PAthFinders, as the main supporting organization, also played a big role. This organization focuses on providing assistance and training to migrant women, especially in Hong Kong. Their support helped many migrant women share their stories and get skills training that enriched their lives.

This seminar was not only a place to share stories, but also a space to inspire each other. From Andrea, we learned about the courage of a young leader who explores the world and explores her potential. From the BMIs, we heard about the strength that comes from everyday struggles.

“Every story is a lesson,” said one of the participants. Indonesian Women Tell Stories proves that wherever we are, our life stories have the power to inspire others.

At the end of the event, Andrea closed with a moving message, “Never stop asking who we are. Find the answer in the journey, in the struggle, and in every moment we live.” []

(Visited 95 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sarmini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.