Bertahun-tahun sebelumnya, membawa gawai ke sekolah adalah sebuah pelanggaran. Namun, hari-hari belakangan ini, gawai adalah akses untuk para murid mendapatkan pembelajaran dari sekolah. Begitulah hidup barangkali, tidak tertebak dan senantiasa berubah.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada segala macam upaya dalam memutus penyebaran virus mematikan ini, saya kala itu menyusuri koridor-koridor sekolah yang begitu sepi. Tidak ada canda tawa siswa-siswa yang terdengar, tidak ada bunyi lonceng pertanda jam pelajaran usai, tidak ada barisan orang tua yang menunggu anaknya pulang. Semua begitu sunyi dan terkunci.

Sejak pandemi melanda, pembelajaran tatap muka harus berpindah ke ruang virtual, sekolah menjadi begitu sepi. Tidak ada yang pernah menyangka akan datang virus mematikan yang mengancam keselamatan umat manusia. Termasuk, keceriaan murid-murid sekolah untuk berinteraksi langsung dengan guru dan kawan-kawannya.

Pembelajaran daring akhirnya menjadi pilihan, para murid harus tetap mendapatkan ilmu. Namun, tantangan yang muncul silih berganti jua bentuknya. Mulai dari fasilitas dan ketersediaan gawai bagi para siswa, juga jaringan dan kuota internet yang sulit. Semuanya melebur menjadi sebuah kebimbangan baru di tengah pandemi yang tak kunjung reda.

Kerinduan untuk kembali merasakan atmosfer sekolah yang penuh dengan keceriaan dan canda tawa menjadi kerinduan yang tumbuh serupa biji di dalam sanubari. Biji itu pelan-pelan bersemai dan tumbuh menjulang tinggi. Perlahan-lahan kemudian sekolah dibuka, namun dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Apakah suasana sekolah masih sama? Atau sudah telah jauh berubah?

Di sinilah letak kebimbangan dan keinginan membentang, di antara masa depan dan ancaman keselamatan. Keselamatan para murid harus tetap menjadi prioritas, namun masa depan mereka juga sedang dipertaruhkan. Pembelajaran daring punya beberapa ketidakefektivan yang mengancam para murid kehilangan semangat belajar. Padahal, di pundak merekalah masa depan bangsa ini diletakkan.

Dengan segala rupa dan upaya yang telah dilakukan, lalu kapan kurva statistik virus corona ini akan melandai? Kerinduan akan suasana normal yang telah membuncah, terus menjadi bunyi yang berisik di kepala. Tentu jawabannya adalah usaha dan ikhtiar sebaik mungkin.

Kita mengikuti anjuran pemerintah untuk vaksinasi. Kita menerapkan protokol kesehatan 5M. Hingga pada akhirnya, seluruh kebimbangan dan keinginan ini akan berakhir dan kita kembali ke suasana sekolah yang normal kembali.

Watansoppeng, 7 Juli 2021

(Visited 99 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.