Perjalanan saya ke kantor setiap hari sebenarnya tergolong murah. Jaraknya hanya sekitar 2 km dari rumah. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak seberuntung itu, dan harus mengandalkan transportasi umum atau online?

Di Makassar, mayoritas pegawai – baik negeri maupun swasta – memilih menggunakan kendaraan pribadi. Sisanya, bergantung pada transportasi umum seperti angkutan kota (pete-pete) atau layanan transportasi online.

Tarif transportasi online jenis motor rata-rata Rp10.000 sekali jalan, atau Rp20.000 pulang-pergi per hari. Dalam seminggu (5 hari kerja), biayanya sekitar Rp100.000. Kalau pakai mobil biayanya naik jadi sekitar Rp150.000 per minggu. Dalam sebulan (22 hari kerja), artinya:

  • Motor online: Rp440.000/bulan
  • Mobil online: Rp660.000/bulan.

Alternatif lain, pete-pete, masih jadi andalan banyak orang. Ongkosnya sekitar Rp8.000–Rp10.000 pulang-pergi. Jadi, per minggu bisa menghabiskan Rp80.000–Rp100.000, atau:

  • Pete-pete: sekitar Rp440.000/bulan.

Lucunya, naik pete-pete juga penuh cerita. Kalau penumpangnya bayar kurang, kadang sopirnya langsung “ngegas” marah-marah. Tapi giliran penumpang bayar pakai uang besar, sering kali malah sopirnya yang “ngacir”, tak memberi kembalian atau sengaja mengulur-ulur. Walaupun begitu, masih ada sopir jujur, namun jumlahnya hanya hitungan jari.

Jalur Singkat, Biaya Bertingkat
Keuntungan tinggal di Makassar, rute ke kantor tak sepanjang dan serumit di Jakarta. Tak perlu transit berkali-kali atau berpindah moda. Cukup sekali naik, baik kendaraan pribadi maupun online, sudah bisa sampai kantor dalam waktu kurang dari dua jam, kecuali terhambat kemacetan di titik-titik tertentu.

Namun begitu, tetap saja biaya perjalanan ke tempat kerja bisa jadi beban tersendiri, terutama kalau pengeluaran tidak dirinci dengan cermat.

Saya? Diantar-Jemput, Tapi Tetap Ada Biaya
Saya pribadi cukup beruntung karena setiap hari diantar-jemput. Artinya, tidak keluar uang harian untuk transportasi umum atau online. Tapi pengeluaran tetap ada — untuk bensin, ganti oli, servis berkala, dan lain-lain. Estimasinya sekitar:

  • Servis kendaraan: Rp300.000 – Rp500.000 per bulan

Lalu, Seberapa Besar Biaya Transportasi Menggerus Gaji?

Pernahkah kamu menghitung dengan detail berapa biaya transportasi kamu dalam sebulan?

Kalau gaji kamu misalnya Rp3 juta per bulan, dan biaya transportasi motor online Rp440 ribu, berarti sekitar 15% dari gaji hanya untuk ongkos kerja. Kalau pakai mobil online, bisa sampai 22%.

Jika ditambah makan siang, kopi, dan kebutuhan kecil lainnya, pengeluaran rutin bisa makin membengkak. Tak terasa, pos keuangan lain seperti tabungan, cicilan, atau dana darurat bisa terganggu.

Lalu, Apa Strateginya?
Beberapa cara yang bisa kamu pertimbangkan untuk menekan biaya transportasi:

  • Berbagi kendaraan – Nebeng dengan rekan kerja bisa menghemat bensin dan ongkos parkir.
  • Pilih transportasi sesuai kebutuhan – Gunakan transportasi online hanya saat benar-benar perlu.
  • Kalkulasi ulang – Coba hitung pengeluaran selama sebulan. Bisa jadi kendaraan pribadi lebih hemat dibandingkan naik online tiap hari, atau sebaliknya.
  • Gunakan sepeda atau jalan kaki – Kalau jaraknya memungkinkan, ini solusi sehat dan gratis.

Biaya transportasi ke tempat kerja memang bisa tampak kecil, tapi kalau dijumlahkan bulanan, ternyata cukup besar. Bisa mencapai seperlima hingga sepertiga dari gaji, tergantung moda yang digunakan.

Jadi, tak ada salahnya mulai menghitung, mencatat, dan merancang strategi penghematan dari sekarang. Siapa tahu, uang bensin yang “mengalir” tiap bulan bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih penting — bahkan mungkin untuk liburan!

(Visited 19 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.