Oleh : Rosmawati

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei bukan sekadar agenda seremonial untuk mengenang Ki Hadjar Dewantara. Ia adalah momentum refleksi kolektif bangsa untuk mengukur kembali arah dan mutu pendidikan kita. Pada tahun 2026, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” dengan subtema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”.

Bagi Bengkel Narasi Indonesia, tema ini merupakan penegasan bahwa kerja pendidikan adalah kerja peradaban yang menuntut keterlibatan seluruh elemen bangsa, bukan hanya dibebankan pada institusi sekolah semata.

Secara konseptual, “Partisipasi Semesta” adalah koreksi atas dikotomi lama yang menempatkan sekolah sebagai satu-satunya penanggung jawab pendidikan. Konsep ini menghidupkan kembali trilogi Ki Hadjar Dewantara tentang tri pusat pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga memiliki peran sebagai peletak fondasi karakter, nilai, dan kebiasaan. Sekolah berfungsi sebagai wahana transformasi ilmu, nalar, dan kompetensi. Sementara masyarakat berperan sebagai laboratorium sosial tempat nilai-nilai yang diajarkan diuji dan dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Ketiga pilar ini harus bergerak dalam satu tarikan napas yang sama apabila cita-cita pendidikan bermutu untuk semua hendak dicapai.

Di tengah akselerasi program Merdeka Belajar, kita dihadapkan pada sebuah ironi. Kemajuan infrastruktur, kurikulum, dan teknologi pendidikan tidak sepenuhnya linier dengan penguatan fondasi di tingkat keluarga. Gejala “krisis literasi waktu” menjadi fenomena yang tidak dapat diabaikan. Arus teknologi yang masif tanpa diimbangi pendampingan memadai menyebabkan banyak peserta didik kehilangan waktu produktif untuk belajar, beristirahat, dan membangun relasi sosial yang sehat. Padahal, waktu merupakan satu-satunya sumber daya yang tidak dapat didaur ulang.

Pengaruh utama dari lemahnya literasi waktu di rumah adalah lahirnya generasi yang cerdas secara akademik, namun rapuh dalam manajemen diri dan tanggung jawab. Sekolah dengan fasilitas terbaik dan guru paling kompeten sekalipun akan kehilangan daya ubahnya jika rumah gagal menjadi ekosistem pertama yang menanamkan kedisiplinan dan penghargaan terhadap waktu.

Sebagai komunitas formal yang berkhidmat pada kerja literasi dan produksi pengetahuan, Bengkel Narasi Indonesia memaknai “Partisipasi Semesta” sebagai mandat intelektual yang harus diterjemahkan ke dalam aksi. Peran yang kami emban terartikulasi dalam tiga ranah strategis. Pertama, memproduksi narasi kritis yang menjernihkan diskursus publik tentang isu-isu pendidikan. Kedua, memfasilitasi peningkatan kapasitas orang tua agar mampu bertransformasi menjadi pendamping belajar yang berdaya dan transformatif di rumah. Ketiga, menjadi jembatan dialektika yang mempertemukan akademisi, praktisi pendidikan, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil dalam forum gagasan yang setara, produktif, dan solutif.

Untuk menerjemahkan tema Hardiknas 2026 ke dalam praksis, Bengkel Narasi Indonesia mendorong agar gerakan “Literasi Waktu” menjadi prioritas bersama di level keluarga. Literasi waktu kami definisikan sebagai kesadaran dan keterampilan untuk memuliakan waktu sebagai modal utama dalam seluruh proses pembelajaran. Esensi dari Merdeka Belajar tidak terletak pada kebebasan tanpa batas, melainkan pada kemerdekaan yang dibingkai oleh tanggung jawab dan kedisiplinan diri. Oleh karena itu, rumah harus dikembalikan fungsinya sebagai madrasah pertama tempat anak belajar menepati komitmen terhadap waktu, mengelola distraksi digital, membangun kebiasaan membaca, dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

Subtema “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar” menuntut aksi yang konkret dan terukur dari setiap pihak. Guru bergerak melalui penciptaan pembelajaran yang berpihak pada murid, kontekstual, dan memerdekakan. Orang tua bergerak melalui kehadiran yang utuh dan pendampingan yang konsisten di rumah, terutama dalam menegakkan disiplin waktu. Komunitas bergerak dengan menyediakan ruang belajar alternatif yang inklusif, kritis, dan aman bagi anak. Pemerintah bergerak melalui regulasi yang protektif, afirmatif, dan responsif terhadap kebutuhan lapangan. Pada titik inilah Bengkel Narasi Indonesia mengundang seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Hardiknas 2026 sebagai momentum konsolidasi gerakan, bukan sekadar euforia seremoni yang berlalu.

Pendidikan bermutu untuk semua adalah sebuah ikhtiar kolektif yang harus dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat: keluarga. Kualitas diskusi di meja makan, konsistensi dalam menjalankan jadwal belajar, dan keteladanan orang tua dalam menghargai waktu adalah fondasi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Bengkel Narasi Indonesia menyatakan komitmen untuk terus berada di garda terdepan dalam memproduksi narasi yang mencerahkan, mengadvokasi kebijakan yang berpihak pada peningkatan mutu, serta menggerakkan aksi-aksi literasi yang membumi dan berdampak.

Martabat sebuah bangsa pada akhirnya dapat dibaca dari kualitas narasi yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakatnya. Apabila narasi yang berkembang adalah narasi yang mengutamakan ilmu, menghargai proses, dan memuliakan waktu, maka di sanalah pendidikan bermutu akan menemukan tanah tumbuhnya yang subur. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari bergerak bersama, melanjutkan Merdeka Belajar dengan partisipasi semesta yang nyata.

*Bengkel Narasi Indonesia* : _Merawat Nalar, Menggerakkan Bangsa_

(Visited 3 times, 3 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.