Di antara retakan dinding dan serpihan kaca bangunan gedung bertingkat, seorang anak duduk menangis memeluk lututnya yang rapuh….
Tangisnya menyatu bersama debu dan asap mesiu, seakan bumi pun ikut berduka, menggigil di bawah langit yang tak lagi biru….
Tatapannya kosong, menembus reruntuhan waktu, mencari bayangan orang tua yang tak kembali….
Anak Gaza mencari suara tawa teman-teman yang kini hanya tinggal nama di antara batu dan darah beku….
Rumah yang dulu penuh cahaya, kini tinggal abu dan bayangan duka….
Tak ada atap tempat menatap bintang, tak ada dinding tempat menyandarkan harapan, tak ada ranjang tempat menidurkan doa kecil sebelum malam…
Hanya kenangan yang tersisa, terkubur bersama puing yang tak sempat diselamatkan, berserakan di antara reruntuhan seperti serpih masa kecil yang dirampas paksa….
Gencatan senjata pernah dijanjikan, itu palsu belaka, dentuman bom tetap menyala lebih nyaring dari kata damai….
Dasar Bani Israel!!
Serangan terus menghantam tanpa nurani, seakan nyawa hanyalah angka, dan Gaza hanya peta yang boleh dihapus sesuka hati….
Namun di mata anak-anak itu, meski air mata telah kering, masih tersisa bara kecil,
api dari langit yang tak padam-padam, menyala dalam diam, menyebut satu nama, Palestina.
Makassar, 31 Oktober 2025
