Oleh Besse Rismawati
Pagi kemarin aku duduk menikmati semilirnya hembusan angin sepoi-sepoi menyapa kulitku. Kubuka mata hati seraya membuka lembaran demi lembaran buku “Sumpah Pena”, lalu kubaca dan kumaknai sambil sesekali menganggukkan kepala. Hingga tiada terasa butiran-butiran kristal bening mengalir dari sudut mataku. Kuusap perlahan, kuisak tangis bahagiaku, kurasakan haru dan bahagia yang tidak mampu lagi diungkapkan lewat kata-kata. Aku hanya membatin mengucapkan terimakasih Tuhan, terimakasih kepada yang terhormat, sang inspirator Bapak Ruslan Ismail Mage (RIM) dan Bapak Kuspriyanto (Iyan) duet dahsyat penulis buku “Sumpah Pena” yang spektakuler ini.
Sejak mengenal institusi pendidikan dari SD hingga menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, mungkin sudah ratusan buku telah aku baca. Setiap membaca buku dengan gambar orang-orang hebat didalamnya, tentu serta merta rasa kagum muncul dalam pikiran sambil berbisik, “betapa hebat orang itu bisa muncul fotonya dalam buku.
Namun hari ini sungguh aku merasa bagaikan petir membahana di siang hari, seketika membangunkanku dari khayalan, serasa aku bermimpi tetapi tidak tidur. Aku alihkan pandanganku ke sekitar, nampak semuanya bergerak tertiup angin. Naluriku berbisik “Ini adalah Nyata”.
Benar kata orang bijak, “Tidak ada yg tidak mungkin bagi orang yang berproses”. Kurang lebih dua bulan lalu aku mengenal Bengkel Narasi (BN), sebagai suatu komunitas manusia-manusia pembelajar yang rendah hati dan memiliki visi yang sama untuk menyebarkan virus literasi menulis keseluruh penjuru negeri, tidak terkecuali ke Bumi Patampanua Kolaka Utara.
Aku pun bergabung dalam komunitas BN untuk belajar menulis. Alhamdulillah mentor-mentor BN sangat familiar membimbing setiap aggotanya dari A sampai Z yang berkaitan dengan dunia tulisan. Pengelolaan BN yang menerapkan “manajemen satu rasa” membuat kami betah dan menikmati bergabung dengan orang-orang hebat rendah hati yang selalu berbagi ilmu.
Waktu terus berjalan, aku pun sudah mulai belajar menulis dengan tekun dibawa asuhan mentor menulis BN. Setelah dianggap bisa menulis, aku dilepas sendiri untuk menulis hingga beberapa tulisanku sudah di muat di media online yang disediakan BN sebagai panggung untuk muncul kepermukaan bagi semua anggotanya.
Karena penggagas BN adalah sang motivator menulis Indonesia Bapak Ruslan Ismail Mage (RIM) yang berkolaborasi dengan penerbit Bapak Kuspriyanto (Iyan), maka diterbitkanlah buku panduan menulis yang sangat spektakuler berjudul “Sumpah Pena” yang baru saja sukses dilaunching secara virtual.
Terasa mimpi ketika membuka buku “Sumpah Pena” gambarku ada didalamnya. Subhanallah, tiba-tiba air mataku menetes syukur kepada Allah Swt atas anugrah terindah ini. Tidak pernah membayangkan gambarku ada dalam buku “Sumpah Pena” yang menurut akademisi Universitas Hasanuddin Dr. H. Tammasse Balla, M.Hum bahwa buku ini layak dilabeli sebagai “Kitab suci” penulisan.

Masyaa Allah, Air matakupun mengalir membaca tulisan ini… Semoga sukses selalu yaa bunda Besse…👍👍👍🌹🌹🌹
Terimakasih bunda🙏🙏