Oleh: Tammasse Balla

Kairo menyambut Penulis dengan aroma debu sejarah. Udara padang pasir berhembus pelan membawa bisikan masa lalu, seolah-olah setiap butir pasir menyimpan kisah raja-raja yang merasa dirinya Tuhan. Di antara deretan pilar megah dan artefak bisu, Museum Mummi Fir’aun berdiri seperti kitab tua yang tak pernah selesai dibaca. Langkah kami terasa kecil di hadapan kebesaran yang sudah membatu, tapi mata kami dipaksa untuk percaya: bahwa kesombongan manusia, betapa pun mulianya pada zamannya sendiri, akhirnya akan berbaring juga di kotak kaca dengan label “pengingat.”

Seorang sahabat, dengan nada separuh serius, bertanya: “Apakah perlu kita berdoa di dekat mummi Fir’aun?” Pertanyaan itu menggantung di udara, seperti debu yang menolak jatuh. Penulis menjawab sambil tersenyum, “Boleh saja kita berdoa — tapi bukan untuk Fir’aun. Berdoalah agar kita tak menjadi seperti dia.” Tawa kecil muncul, tapi di baliknya ada getir yang pelan-pelan terasa. Kita semua, dalam ukuran kecil atau besar, menyimpan sedikit Fir’aun di dalam dada — kesombongan yang kadangkala tak disadari, kekuasaan kecil yang kita pertahankan mati-matian.

Mummi itu diam, namun dalam diamnya, ia seperti menegur. Wajahnya yang sudah mengering dan menghitam masih menyisakan keangkuhan, mata kosongnya menatap tak melihat. Mungkin dulu ia memerintah dengan gemuruh perintah, dengan kata-kata yang menindas dan tangan yang menunjuk ke arah surga yang ingin ditaklukkannya. Kini, tubuhnya dipertontonkan ribuan mata setiap hari — bukan untuk dipuja, melainkan untuk dipelajari. Betapa ironis: manusia yang dulu dianggap dewa kini menjadi objek pelajaran sejarah, tubuhnya diawetkan agar dunia tak lupa pada kesombongan.

Penulis menunduk, bukan untuk menghormati Fir’aun, tetapi untuk menghormati pelajaran hidup yang ia tinggalkan. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar melihat peninggalan Mesir Kuno ini. Bukan sekadar wisata sejarah, melainkan perjalanan batin. Di dalam ruangan yang dingin, penuh nuansa hitam, dan hening itu, Penulis merasa sedang berdialog dengan masa lalu, bahwa umur panjang bukan jaminan kemuliaan, dan keabadian yang dicari dengan kuasa hanyalah fatamorgana di padang ego manusia.

Lalu Penulis benar-benar berdoa. Bukan mengucapkan doq panjang-panjang, hanya lirih dalam hati: “Ya Allah, jauhkan kami dari kesombongan Fir’aun. Jangan biarkan kami menganggap diri paling benar, paling suci, paling tinggi.” Sebab Fir’aun bukan sekadar nama dalam kitab. Ia adalah simbol dari setiap manusia yang menuhankan dirinya, yang menolak kebenaran hanya karena tak ingin kehilangan tahta kecilnya. Jangan lupa, setiap zaman melahirkan Fir’aun-nya sendiri, hanya bentuknya saja yang berganti, kadang-kadang berseragam, berjas, atau pun bersorban.

Ketika keluar dari museum, matahari Mesir menampar wajahku dengan panas yang jujur. Langitnya biru pudar, seperti menyaksikan manusia berulang-ulang mengulangi kesalahan yang sama. Penulis sadar, Fir’aun tidak benar-benar mati, ia hidup di hati orang-orang yang tak mau mengakui kelemahan. Mummi itu hanya jasadnya yang membeku, tetapi karakternya bisa menitis pada siapa saja yang mencintai kekuasaan lebih dari kemanusiaan.

Berdoa di samping mummi Fir’aun bukanlah ritual aneh. Ia adalah cermin diri. Saat melangkah pergi, kutinggalkan ruang kaca itu dengan rasa getir yang manis: bahwa kebesaran sejati bukanlah ketika nama kita diukir di piramida, melainkan ketika doa orang lain naik ke langit karena kebaikan yang kita tebarkan. Fir’aun telah abadi di kotak sejarah, tetapi semoga kita abadi di hati sesama. Hanya itu abadi yang layak diperjuangkan manusia.

Epilog: Renungan di Ujung Zaman Fir’aun

Kadangkala terbetik dalam pikiran, mungkin Fir’aun tidak sepenuhnya pergi. Ia hanya berpindah wujud—dari istana batu ke dada manusia modern. Kini ia menumpang di kepala orang yang merasa paling pandai, paling berjasa, paling berhak menilai orang lain. Ia menjelma dalam rapat, mimbar, media sosial, bahkan dalam ibadah yang kehilangan kerendahan hati. Padahal, setiap kesombongan adalah reruntuhan kecil menuju kehancuran yang sama: dengan keheningan kaca museum.

Jika suatu hari Penulis kembali berdiri di depan mummi itu, pastilah tak ingin menatap masa lalu, tapi menatap diri sendiri. Akan dipastikan bahwa dalam hati manusia jangan tumbuh singgasana kecil tempat ego duduk bertahta. Hidup ini bukan tentang menjadi besar, tapi tentang sanggup menunduk di hadapan Yang Maha Besar. Berdoa di samping mummi Fir’aun akhirnya bukan tentang ia yang mati, melainkan tentang kita semua yang belajar hidup dengan rendah hati.

—————————————————-‘
Kairo, 6 November 2025
Pk. 08.41 Waktu Kairo [+6 WITA]

(Visited 36 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.