Enam November di sebuah stasiun kereta, berdiri sesosok rupa nan tampan rupawan sambil memegangi sebuah kamera. Sementara di seberang rel berdiri sesosok rupa nan cantik memesona sambil menggendong tas punggung. Dua insan itu sesekali sambil bertatapan, lalu beralih pada pandangan lain, seperti itu selama beberapa menit terjadi. Tiba-tiba sang tampan berada pada sebuah toko kamera dan gadis cantik melihat dari kejauhan, hingga sebuah jarak mendekatkan. Dengan nada malu dan sedikit ragu gadis cantik yang bernama Nada memulai pembicaraan dengan sang tampan yang ternyata bernama Ryan.

Nada : eh, hai….kamu lagi ngapain di sini? (tersipu dan sedikit kebingungan)
Ryan : oh, aku lagi nyuci film nih, kamu?
Nada : aku,…aku lagi kerja
Ryan : kerja? Kerja apa di sini (bertanya dengan penasaran)
Nada : iya, aku kerja. Aku petugas bank, maksudku petugas lapangan
Ryan : oh, tapi kok berdiri di dekat kereta?
Nada : iya soalnya nasabahku rumahnya di seberang rel itu. Aku barusan dari dia, terus karena capek, aku berdiri sebentar di sini. Kamu,…kamu fotografer atau?
Ryan : iya, aku seorang fotografer, Cuma karena alat-alat cuci filmku lagi rusak, jadi ke sini.
Nada : oh gitu, oh iya, nama kamu siapa?
Ryan : Ryan (sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman)
Nada : aku Nada
Ryan : oh,. Nada dan Ryan pun berbincang hangat dan saling tertarik satu sama lain. Hingga akhirnya Ryan meminta nomor Nada.
Ryan : oh iya, minta nomor telponnya dong, barangkali bisa ngobrol lagi
Nada : oh boleh, 081xxxxxxxxx
Ryan : ok makasih ya, bye,…sampe ketemu lagi
Nada : bye,…
Nada dan Ryan menjalani pekerjaan masing-masing secara professional dan fokus. Nada di kantornya dan Ryan menjalani kegiatannya sebagai fotografer di daerahnya sendiri. Sampai pada suatu malam Nada tak bisa tidur akhirnya iseng menghubungi Ryan, tetapi menggunakan nomor lain. Nada berpura-pura menjadi Lestari dan berpura-pura tidak mengenal Ryan.
Nada : hai, boleh kenalan nggak? (melalui sms)
Ryan : boleh, ini siapa ya? (melalui sms)
Nada : ini Lestari, kamu siapa? (melalui sms)
Ryan : aku Ryan, Lestari yang mana ya? (melalui sms)
Nada : sedang mengetik,……
Ryan : karena tidak sabar dan penasaran, Ryan pun menelpon.
Nada : ya,….(menganggkat telepon Ryan)
Ryan : assalammualaikum, ini siapa ya?
Nada : waalaikumsalam, ini Lestari
Ryan : Lestari siapa ya?
Nada : Lestari desaku, lestari alamku,….(Nada mengajak Ryan bersenda gurau)
Ryan : owalah, kamu Nada kan, (tanpa berpikir panjang, Ryan langsung mengetahui jika itu Nada).
Nada : hahahahaha……(tertawa terbahak-bahak)
Ryan : huh,….Lestari, Lestari, Lestari dodol,….
Nada : Nada masih tertawa terbahak-bahak
Nada dan Ryan pun berkomunikasi dengan sangat asyik dan menyenangkan, hingga mereka lupa waktu bahwa telah larut. Dari percakapan tersebut, berlanjut pada hubungan yang lebih serius, keduanya sering bertemu dan menjalin kasih, hingga akhirnya berkomitmen untuk menikah. Selang 6 bulan masa menjalin kasih, berlabuh pada sebuah pernikahan. Nada dan Ryan pun begitu bahagia dengan pernikahannya, lalu dikarunia seorang anak lelaki yang tampan mirip Ryan.
Selama satu tahun pernikahan, Nada sangat diperlakukan dengan baik oleh Ryan bak permaisuri. Sampai pada suatu hari badai pernikahan mulai datang dari keluarga, hal-hal prinsip yang menemui perbedaan, kondisi ekonomi yang morat-marit, dan perselingkuhan yang dilakukan oleh Ryan. Hingga akhirnya membuat Nada lelah dan kesal. Karena begitu kesalnya membuat Nada berucap sebuah kalimat yang sangat emosional dan disayangkan.
Nada : ini nih, yang ngebuat aku jadi pengen cerai sama kamu, di saat aku butuh kamu, kamu malah pulang ke keluargamu! (Nada tidak menyadari bahwa ucapan itu adalah ucapan terakhirnya yang bisa membuatnya bercerai dengan Ryan).
Ryan : yaudah kita pilih jalan masing-masing (dengan suara tenang, seolah Ryan pun sudah muak dengan segala masalah yang terjadi, akhirnya memilih jalan untuk mengakhiri).
Ucapan Ryan membuat Nada seolah disambar petir di siang bolong. Nada tak pernah berpikir sedikit pun untuk cerai dengan Ryan, tapi faktanya terjadi. Nada sangat terpukul, ternyata laki-laki yang begitu dicintainya harus meninggalkannya (Ryan pun begitu mencintai Nada). Nada tak kuasa menahan tangis, suaranya lirih, ucapannya getir, tak sanggup makan, bahkan raganya terasa panas seperti terbakar api walau Nada mandi ribuan ember air. Hari demi hari Nada terus menangisi Ryan, karena Ryan adalah laki-laki yang sangat dicintainya, hari-harinya terasa suram, tatapannya kosong, jiwanya seolah berhenti sesaat. Saat berada di mana pun dan kapan pun yang diingat hanya Ryan. Nada tak bisa mencintai orang lain, karena cintanya berhenti pada Ryan.
Hingga suatu hari Nada mulai berpikir maju dan bangkit. Walau di hatinya tetap ada Ryan, namun Nada sudah mulai bekerja kembali dengan semangat dan mencetak prestasi-prestasi kembali. Kali ini Nada mulai bisa berdamai dengan dirinya, cintanya, dan waktu. Dalam kesendiriannya sebagai single mom, Nada pernah bertemu kembali dengan Ryan dan meminta untuk rujuk demi anak. Tapi Ryan tak memberikan jawaban apa pun. Lima tahun berlalu, Nada dan Ryan memilih untuk menikah kembali dengan orang lain dan menjalani kehidupan masing-masing.
Nada menikah dengan pria lain walaupun tanpa disertai rasa cinta, hanya sekedar menjalankan peran sebagai istri dan niatnya pun untuk ibadah. Sementara Ryan menikahi perempuan lain dan dikarunia seorang anak lagi dari pernikahannya yang baru. Namun Nada tidak memiliki anak lagi dari pernikahannya yang baru.
Ujian berat hidup Nada ternyata tidak berhenti, suami Nada setelah Ryan menyakiti Nada dengan sangat parah dan kejam. Dia menghancurkan nama baik dan karir Nada dengan sangat brutal. Akhirnya Nada melepas suami yang menghancurkannya dan mulai menata kembali puing-puing kehidupannya dengan anaknya. Nada seperti biasa, selalu serius dengan karirnya. Dia fokus dan bekerja keras kembali hingga akhirnya sukses.
Nada sudah pasrah dengan kesendiriannya dan tidak lagi mencari tambatan hati. Namun siapa sangka cintanya kembali di usia yang sudah tidak muda lagi. Pada suatu pertemuan yang tidak pernah dirancang sebelumnya, Nada bertemu dengan Ryan. Ryan pun tak segan mendekati Nada, terlihat dari perawakannya yang lebih dewasa, matang, kehidupannya yang jauh lebih sukses, Ryan melangkah dengan penuh keyakinan.
Ryan : Nada, bisakah kita merajut kembali keluarga kecil kita?aku rindu pada anak kita dan rindu denganmu
Nada : istrimu? (dengan nada keheranan dan penasaran)
Ryan : kita berpisah karena hal tertentu. Aku akhirnya menyadari bahwa selama ini yang hanya ku cintai adalah kamu. Aku selama ini menikah dengannya hanya ragaku, tapi bukan jiwaku. Maafkan aku karena telah membuatmu banyak mengalami kekecewaan. Aku sadar aku salah, ya mungkin saat itu karena aku masih muda, dan kau pun mungkin memahaminya. Saat menikah denganmu usiaku masih sangat muda, bahkan lebih muda darimu. Belum genap 20 aku telah menikahimu. Emosiku masih berapi-api dan jiwa mudaku masih membara. Will you marry me?
Nada : (tak berucap apa pun, namun tersenyum manis dan mengiyakan tawaran cinta Ryan karena memang selama ini laki-laki yang dicintai Nada hanya Ryan).
Nada adalah sosok wanita yang teguh cintanya, walau dia pernah bersama dengan yang lain, namun hatinya tetap terpatri nama Ryan. Di samping itu pula Nada memang sebenarnya membutuhkan keluarga kecil yang utuh anak semata wayangnya. Bagi Nada, yang manis itu bukan janji layaknya semanis senyuman, namun sebuah komitmen yang tetap ada walau diterjang gelombang ujian hidup yang berat. Karena Nada percaya, cinta akan tetap kembali pada pemilik rumah.
