Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak, serta organ-organ lainnya seperti jantung, hati, dan ginjal. Janin mempunyai plastisitas yang tinggi. Artinya, janin akan dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungannya, baik yang menguntungkan maupun merugikan.
Sekali perubahan terjadi, tidak dapat kembali ke keadaan semula. Perubahan tersebut merupakan interaksi antara gen yang sudah dibawa sejak awal kehidupan dengan lingkungan barunya. Pada saat dilahirkan, sebagian besar perubahan telah menetap, kecuali beberapa fungsi, yaitu perkembangan otak dan imunitas, yang berlanjut sampai beberapa tahun pertama kehidupan bayi.
Kekurangan gizi yang terjadi dalam kandungan dan awal kehidupan menyebabkan janin melakukan reaksi penyesuaian. Secara paralel penyesuaian tersebut meliputi perlambatan pertumbuhan dengan pengurangan jumlah dan pengembangan sel-sel tubuh, termasuk sel otak dan organ tubuh lainnya.
Penyesuaian akibat kekurangan gizi diekspresikan pada usia dewasa dalam bentuk tubuh yang pendek dan rendahnya kemampuan kognitif atau kecerdasan sebagai akibat tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan otak. Reaksi penyesuaian akibat kekurangan gizi juga meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, jantung koroner, dan diabetes melitus dengan berbagai risiko ikutannya. Semua bermuara pada menurunnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain, kekurangan gizi dapat memiskinkan masyarakat.

Gambar Siklus gangguan pertumbuhan intergenerasi
Sumber: Bappenas, 2013
Banyak yang berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh pendek, gemuk, dan beberapa PTM, disebabkan oleh faktor genetik yang tidak dapat diperbaiki. Namun, berbagai bukti ilmiah dari lembaga riset gizi dan kesehatan terbaik di dunia telah mengubah paradigma tersebut. Masalah tersebut di atas bukan disebabkan oleh faktor utama genetik, melainkan karena faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki dengan fokus pada masa 1000 HPK.
Masalah kekurangan gizi di 1000 HPK diawali dengan perlambatan atau retardasi pertumbuhan janin yang dikenal sebagai IUGR (Intra Uterine Growth Retardation). Di negara berkembang, kurang gizi pada prakonsepsi dan ibu hamil berdampak pada lahirnya anak yang IUGR dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Kondisi IUGR hampir separuhnya terkait dengan status gizi ibu, yaitu (1) berat badan ibu prakonsepsi yang tidak sesuai dengan tinggi badan ibu atau bertubuh pendek, dan (2) pertambahan berat badan selama kehamilannya (PBBH) yang kurang dari seharusnya.
Anak perempuan yang pendek pada usia dua tahun cenderung bertubuh pendek pada saat dewasa. Apabila hamil, ia akan cenderung melahirkan bayi yang BBLR. Apabila tidak ada perbaikan, IUGR dan BBLR akan terus berlangsung. Hal ini akan menyebabkan masalah anak pendek intergenerasi.
Periode 1000 hari, yaitu 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkan, merupakan periode sensitif karena dampaknya pada bayi akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Perbaikan gizi pada 1000 HPK akan menunjang proses tumbuh kembang janin, bayi, dan anak sampai usia dua tahun. Para ahli ekonomi dunia perbaikan gizi pada 1000 HPK adalah suatu investasi pembangunan yang cost effective. []
Dikutip dari:
Susilowati, et al. 2000. Masih tentang Kelor (Moringa oleifera Lam.) Pemanfaatan di Tingkat Rumah Tangga untuk Perbaikan Gizi dan Derajat Kesehatan Masyarakat. Cimahi: Elfatih Media Insani.
