Bagi sebagian besar anak-anak di Indonesia, kalimat “Hompimpa alaium gambreng” adalah mantra pembuka gerbang kegembiraan. Sambil membalikkan telapak tangan menjadi putih atau hitam, kalimat ini diteriakkan dengan lantang untuk menentukan giliran atau siapa yang menang dan kalah sebelum permainan dimulai.
Namun, di balik riuhnya suara anak-anak tersebut, tersimpan makna teologis dan filosofis yang sangat purba dan mendalam. Kalimat ini bukan sekadar rima tanpa arti, melainkan sebuah pengingat akan hakikat kehidupan manusia. Bayangkan suasana sore hari di sebuah pelataran rumah atau lapangan berdebu di pinggiran kota. Matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayang-bayang panjang di tanah. Di sana, sekelompok anak berdiri melingkar.
Wajah mereka penuh antusiasme, tangan mereka bersiap di udara. Kemudian, suara lantang itu menyeruak, memecah keheningan sore, “Hompimpa alaium gambreng!” Seketika, telapak-telapak tangan mungil itu berbalik. Ada yang menengadah memamerkan telapak putih, ada yang menelurep menampakkan punggung tangan yang hitam legam. Teriakan sorak dan desah kecewa terdengar bersahutan. Bagi mereka, ini hanyalah cara menentukan siapa yang menjadi “kucing” atau siapa yang berhak jalan duluan dalam permainan petak umpet atau gobak sodor.
Namun, mari kita diam sejenak dan mendengarkan lebih dalam. Di balik riuh rendah suara cempreng anak-anak itu, tersimpan sebuah mantra tua. Sebuah doa purba yang mungkin, tanpa sadar, telah menjadi pelajaran teologi pertama bagi manusia Nusantara. Kalimat itu bukan sekadar rima tanpa makna, melainkan pengingat akan hakikat paling fundamental dari eksistensi manusia.
Jejak Sansekerta: Dari Tuhan Kembali ke Tuhan
Jika kita menelusuri lorong waktu ke masa pengaruh Hindu-Buddha yang kuat di Nusantara, kita akan menemukan bahwa “Hompimpa” bukanlah kata sembarangan. Secara etimologi, frasa ini diyakini berakar dari bahasa Sansekerta: “Hong Pimpa Alaium Gambreng”.
“Hong” merujuk pada Om atau Tuhan Yang Maha Esa. Sementara rangkaian kalimat tersebut, jika diterjemahkan secara bebas dan puitis, memiliki arti yang menggetarkan:
“Dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain.”
Ini adalah ringkasan yang padat dari konsep spiritualitas Jawa kuno yang dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi—asal dan tujuan penciptaan. Kalimat ini mengajarkan kesadaran tingkat tinggi bahwa kita, manusia, tidak memiliki apa-apa. Tubuh kita, napas kita, rezeki, kemenangan, hingga kekalahan, semuanya berasal dari Sang Pencipta. Dan pada akhirnya, suka atau tidak, semuanya akan berpulang kembali kepada-Nya.
Kepasrahan di Balik Telapak Tangan
Nenek moyang kita adalah pedagok yang jenius. Mereka tidak mengajarkan konsep tawakkal (berserah diri) atau takdir melalui mimbar kaku yang membosankan bagi anak-anak. Mereka menanamkannya melalui permainan.
Perhatikan momen ketika anak-anak membalikkan tangan mereka. Saat kalimat “Gambreng!” diucapkan, sepersekian detik itu adalah momen kepasrahan total. Tidak ada satu pun anak yang bisa mengontrol penuh apakah tangannya akan berakhir putih atau hitam. Tidak ada strategi rumit yang bisa memastikannya. Mereka hanya mengayunkan tangan dan membiarkan semesta atau Tuhan yang menentukan hasilnya.
Di sinilah letak pelajaran hidup yang sesungguhnya, Anak diajarkan untuk menerima ketetapan (menerima takdir). Jika tangannya berbeda sendiri, ia harus legawa menjadi penjaga. Tidak ada protes pada Tuhan kenapa ia “kalah”.
Dalam hompimpa, “putih” tidak selalu berarti menang dan “hitam” tidak selalu berarti kalah. Menang atau kalah ditentukan oleh mayoritas atau minoritas yang terjadi secara acak. Ini mengajarkan bahwa posisi kita di dunia hanyalah peran sementara yang diberikan Tuhan.
Ajakan untuk merayakan hidup
Bagian paling menarik adalah kata penutupnya, “Gambreng!” yang bisa dimaknai sebagai ajakan “ayo bermain” atau “mari jalani”.
Filosofi ini mengajarkan keseimbangan yang indah. Meskipun kita tahu bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan (fatalisme/kepasrahan), bukan berarti kita harus diam berpangku tangan menunggu mati. Justru sebaliknya, karena kita tahu ujung perjalanan kita adalah Tuhan, maka mari kita jalani jeda antara “asal” dan “tujuan” ini dengan sukacita.
Mari kita “bermain” di dunia ini dengan riang gembira. Dunia ini dianggap sebagai lela atau permainan ilahi. Kita diajak untuk tidak terlalu stres memikirkan hasil, tidak dendam saat kalah, dan tidak sombong saat menang, karena toh ini hanyalah permainan sementara sebelum kita kembali pulang.
Seiring waktu, mantra ini berakulturasi dengan kearifan lokal. Di Jawa Barat, dalam budaya Sunda, doa ini mendapatkan “ayat tambahan” yang memperkaya maknanya secara sosial. Kalimatnya sering berbunyi, “Hompimpa alaium gambreng, tong tongji, uli-uli, ulah sisirikan.” Frasa “Ulah sisirikan” adalah kunci emas di sini. Artinya: Jangan iri hati.
Penambahan ini mengubah dimensi doa dari sekadar hubungan vertikal (Manusia-Tuhan) menjadi hubungan horizontal (Manusia-Manusia). Leluhur orang Sunda ingin menegaskan: “Oke, kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali pada-Nya. Tapi selama kita bermain di dunia ini, jangan sikut-sikutan. Jangan iri jika temanmu menang, jangan dengki jika nasibmu sedang jadi penjaga.”
Ini adalah pendidikan karakter yang luar biasa. Anak-anak diajarkan sportivitas, kerukunan, dan kebersihan hati jauh sebelum mereka mengenal kompetisi dunia orang dewasa yang keras.
Hari ini, mungkin kita perlu sesekali kembali menjadi anak-anak yang berdiri melingkar di sore hari. Di tengah kerumitan hidup orang dewasa—karier yang menekan, target yang tak tercapai, atau kecemasan akan masa depan—mengingat filosofi Hompimpa bisa menjadi penawar yang menyejukkan.
Hompimpa bukan sekadar undian tangan. Ia adalah sebuah doa kepasrahan. Ia adalah pengingat bahwa kita hanyalah pemain dalam skenario agung Tuhan.
Jadi, ketika beban hidup terasa berat, mungkin kita perlu membisikkan “Hompimpa Alaium Gambreng” di dalam hati. Sadari bahwa semua ini dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Maka, tugas kita hanyalah “Gambreng”—bermain dan menjalani peran kita sebaik-baiknya, dengan hati yang lapang dan penuh sukacita.
