Oleh: Muhammad Sadar*
Pertukaran antara siang dan malam, serta bergesernya bulan demi bulan hingga durasi peralihan tahun hijriyah dan miladiah memberi suatu makna pengurangan umur kehidupan dunia pada setiap diri makhluk terus berlangsung. Sistem semesta ini menyampaikan pesan maupun hikmah bagi kaum yang berpikir bahwa semua akan hal akan berubah dan berakhir. Aktualisasi pikiran terkadang diterapkan dalam berkegiatan atau kreativitas yang menyambungkan suatu gagasan dan pencerahan untuk melakukan suatu perubahan nyata yang berkemajuan, berberkah dan membawa manfaat.
Semua lini kehidupan terus bergerak dengan segala mazhab, metode dan produk-produknya
yang berhubungan dengan hajat hidup segenap manusia di dunia, tak terkecuali dengan aliran energi berbasis pertanian yang menghela dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara hingga pengelolaan potensi sumber daya alam untuk mencapai perbaikan taraf hidup masyarakat dan derajat kemajuan bangsa. Sektor pertanian melalui inovasi dan teknologi produksi akan memberi jaminan terhadap peningkatan nilai tambah, pendapatan dan kesejahteraan bagi para pelakunya.
Selain fitur hilirisasi, teknologi pupuk/pemupukan, proteksi tanaman, serta penggunaan alat-mesin pertanian modern yang mampu melipatgandakan produksi dan pendapatan petani, mode yang tak kalah pentingnya adalah penemuan inovasi varietas unggul baru pada semua jenis komoditas pertanian. Item inovasi merupakan pengungkit terbesar dalam setiap basis produksi pertanian. Pemanfaatan varietas unggul khususnya terhadap tanaman semusim seperti padi sangat dituntut untuk selalu dilakukan pergiliran varietas setiap kali memasuki musim tanam.
Varietas unggul Cakrabuana Agritan sebagai bagian benih terbaru bagi petani di Kabupaten Barru, telah sangat familiar setidaknya untuk tiga musim tanam terakhir sejak tahun 2023/2024. Gaung budidaya Cakrabuana telah menebar pesona terhadap produksi yang dihasilkan. Kepercayaan petani kepada brand padi ini pada setiap penyelenggaraan musim tanam untuk senantiasa dihadirkan sebagai komponen pelecut produktivitas padi. Ekosistem tumbuh Cakrabuana Agritan di daerah ini seakan menabuh harapan dan membentuk sebuah alur kultur teknis pada petani agar terus ditanam sepanjang musim.
Sejarah penggunaan VUB Cakrabuana Agritan di Kabupaten Barru bermula sejak demonstrasi plot pada wilayah kerja BPP Mallusetasi dengan hasil yang sangat meyakinkan mencapai 8,4 ton GKP, selanjutnya penerapan berikut dilakukan di lokasi persawahan irigasi Batubessi pun dengan produktivitas mencapai 6-7 ton GKP per hektare. Pada semester dua tahun 2025, bahwa untuk mensukseskan gerakan percepatan tanam pada MT.III di daerah ini, oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian selaku Pj.Swasembada Pangan Kabupaten Barru, memberikan supporting sarana benih genjah yaitu varietas Cakrabuana Agritan sebanyak 12 ton sebagai dukungan intervensi terhadap upaya meningkatkan LTT padi.
Selama rentang waktu transisi musim antara bulan Agustus-September 2025, varietas Cakrabuana Agritan melakoni palagan musim tanam ketiga secara luas hingga mencapai sasaran tanam 365 hektare bersama 25 kelompok tani pelaksana. Lokasi tanam yang tersebar mulai dari ujung utara Kabupaten Barru, di wilayah timur dan tengah hingga bagian selatan ibukota kabupaten yang sebagian besar telah berhasil terpanen walaupun diketahui ada dua lokasi yang tidak mencapai final panen. Kini, saatnya standing crop Cakrabuana Agritan yang berposisi di Kelurahan Kiru-kiru memasuki fase generatif akhir atau masa panen raya.

Setelah melewati fase pertumbuhan selama 90 hari pasca ditanam dengan melalui berbagai tantangan high risk musim tanam ketiga antara lain gangguan hama burung dan tikus yang nyaris menggagalkan pertanaman, namun keuletan dan semangat pelaksana MT.III di kelompok tani Darmabakti hampir maksimal mengatasi masalah ini. Sekarang, tiba saatnya Cakrabuana Agritan di Kirukiru dengan luas tanam 75,0 hektare akan dieksekusi panen menggunakan combine harvester yang diharapkan losses rendah dan produktivitas sesuai potensinya.
Pada proses panen perdana MT.III tahun 2025 di Kirukiru menghasilkan produktivitas yang cukup optimal hingga mencapai 5,3-5,8 ton GKP per hektare. Hasil ini memberikan gambaran dan petani sangat khatam bahwa produktivitas padi pada MT.III tidak akan sama dengan perolehan hasil pada MT.I dan II. Beberapa penyebab kelemahan musim tanam ketiga yang menyebabkan produktivitas padi kurang sesuai ekspektasi antara lain:
1.Gangguan serangan hama burung pipit dengan intensitas tinggi tanpa mengenal waktu dan tidak pernah jeda didalam manuver menerjang pertanaman padi. Alat penghalau burung tidak mempan dan menyerang secara bergerombol. Serangan komunal burung pipit seakan tiada henti memangsa kawasan pertanaman padi Kirukiru walaupun hamparannya menyatu dan luas sejauh mata memandang.
2.Serangan hama tikus yang sifatnya insidentil yang juga memberikan efek penurunan hasil yang cukup signifikan. Pertanaman padi yang secara kontinyu terus berlangsung tanpa jeda musim, yang berarti menyiapkan sediaan bahan makanan bagi tikus untuk berkembang biak secara maraton.
3.Ketika waktu panen padi pada musim ketiga, rata-rata berlangsung di musim hujan yang menyebabkan kualitas hasil panen kurang bermutu, ditambah harga gabah anjlok di tingkat lapang. Padahal HPP gabah petani sudah ada ketentuan yang wajib ditangani oleh Bulog, namun fakta lapangan berbicara lain yaitu petani sangat mengharapkan kehadiran Bulog untuk melakukan serap gabah petani pada musim ketiga ini.
4.Polemik harga gabah petani anjlok ketika masa panen ketiga berlangsung akan berdampak pada tergerusnya semangat petani didalam menyelenggarakan program perluasan areal tanam potensial atau peningkatan indeks pertanaman pada musim tanam di tahun-tahun mendatang. Rasa kepercayaan petani terhadap program pemerintah akan menjadi berkurang akibat respon lemah dalam penyerapan hasil panen.
5.Dengan berbagai sosialisasi program, penyuluhan dan bantuan sarana produksi terhadap pelaksanaan MT.III, namun diakhir pada masa-masa krusial, seakan dukungan dari off-taker gabah lebih mendominasi melego produksi petani. Oleh karena itu sangat diharapkan intervensi Bulog sebagai institusi pengumpul logistik negara dalam penyerapan hasil panen padi petani.
Terlepas dari polemik musim tanam ketiga, pada intinya adalah koridor yang telah dibangun dalam pengembangan varietas Cakrabuana Agritan dalam skala luas akan semakin menguatkan dukungan terhadap sikap petani untuk menggunakan benih padi yang memiliki umur panen singkat. Dengan penggunaan varietas padi genjah, petani akan mudah menghitung waktu penyelenggaraan musim tanam, agar intensitas penanaman bisa diatur sedemikian rupa termasuk ketersediaan sarana pupuk, air, alat dan peralatan mesin pertanian maupun tenaga kerja serta masa tanam yang dipercepat.

Penggunaan varietas genjah seperti Cakrabuana Agritan telah mengubah konstalasi pemasaran benih padi umur dalam dan kecenderungan petani saat ini akan senantiasa menikmati masa panen padi umur pendek untuk mewarnai usahataninya. Paradigma varietas padi genjah memperkuat minat petani untuk selalu menggunakannya dan mematahkan sikap dogmatis selama ini yaitu pemakaian benih padi galur non sertifikasi dan tanpa rekomendasi yang terkadang menggagalkan masa panen cepat serta produksi yang relatif terbatas.
Menutup tahun 2025 dalam finalisasi musim tanam ketiga sekaligus sebagai tahun pembuka musim pertama padi rendengan, varietas Cakrabuana Agritan sebagai grand merk padi umur genjah dan memiliki relativitas produksi yang sesuai dengan perlakuan para pelakunya dan tantangan musim, maka jenis padi tersebut akan menggaransi hasil berdasarkan potensi genetiknya. Dengan dinamika musim tanam ketiga tahun 2025, penting dilakukan evaluasi dan langkah- langkah perbaikan berbagai hal yang terkait agar suksesi penyelenggaraan program ketahanan pangan tetap berjalan.
Kirukiru, 23 Desember 2025
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru
