Di sebuah sudut pasar di Kalimantan, udara yang biasanya riuh oleh tawar-menawar mendadak beku. Di sana, seorang ibu muda berdiri dengan bahu yang bergetar hebat.

Kepalanya menunduk dalam, seolah ingin membenamkan wajahnya ke bumi agar tak perlu menatap mata dunia yang sedang menghakiminya. Di tangannya yang kasar, terselip seekor ikan. Hanya satu ekor.

Ia tidak sedang merampok bank. Ia tidak sedang menggasak harta negara. Ia hanya mengambil satu nyawa kecil dari lapak pedagang demi menyambung nyawa lain yang lebih berharga di rumah.

“Anak saya dari pagi minta makan ikan…” bisiknya parau. Kalimat itu nyaris tak terdengar, tenggelam di antara makian dan sorot kamera ponsel yang haus akan konten viral. Air matanya jatuh, membasahi ikan dingin di tangannya. Ikan itu bukan untuk kemewahan, bukan pula untuk keuntungan. Itu adalah wujud keputusasaan seorang ibu yang hatinya hancur berkeping-keping setiap kali mendengar suara perut anaknya keroncongan.

Kemiskinan Bukanlah Pilihan, Tapi Keadaan yang menghimpit Ibu ini berjuang seorang diri. Tanpa sosok suami sebagai sandaran, ia hanya memiliki naluri. Naluri yang membisikkan bahwa lebih baik ia dihina satu dunia daripada melihat buah hatinya layu karena lapar. Kita seringkali dengan mudah menghakimi, menyebutnya malas atau tak punya harga diri. Namun, bagi mereka yang hidup di garis batas, harga diri seringkali menjadi kemewahan yang tak mampu mereka beli.

Secara hukum dan agama, mengambil milik orang lain memang salah. Tak ada yang membantah itu. Namun, memperlakukan seorang ibu yang kelaparan layaknya penjahat kelas kakap adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Kita hidup di zaman di mana seekor ikan yang dicuri karena lapar dianggap lebih hina daripada miliaran rupiah yang dirampok oleh mereka yang berdasi.

Ironis memang. Di negeri ini, kita sering menyaksikan hukum yang begitu perkasa saat berhadapan dengan rakyat kecil. Kita melihat seorang ibu diikat, dipermalukan, dan diviralkan hanya karena satu ekor ikan. Sementara itu, para koruptor yang menelan uang rakyat hingga triliunan rupiah masih bisa tersenyum lebar di balik layar kaca, seolah tak punya beban dosa.

Bayangkan jika keberanian kita menghakimi ibu ini dialihkan kepada mereka yang mencuri masa depan bangsa. Bayangkan jika para perampok uang rakyat itu yang tangannya diikat ke belakang, berdiri di tengah lapangan dengan papan bertuliskan “Aku Maling Uang Rakyat”. Namun nyatanya, nurani kita seringkali tebang pilih. Kita lebih berani menindas yang lemah daripada melawan yang berkuasa.

Kejadian ini adalah cermin retak bagi kita semua. Ternyata, menghafal dalil agama jauh lebih mudah daripada mempraktikkan rasa kemanusiaan. Kita sering merasa paling suci hingga lupa bahwa di dalam diri setiap manusia yang khilaf, mungkin ada luka yang tak pernah kita rasakan perihnya. Segarang-garangnya harimau, ia tak akan memangsa anaknya.

Namun manusia, dengan segala akal budinya, terkadang bisa lebih dingin dari binatang saat melihat sesamanya menderita.
Ya Allah, ampunilah kekhilafan ibu ini. Angkatlah derajatnya dari lumpur kehinaan yang dipaksakan dunia kepadanya.

Benarlah adanya, belajar menjadi manusia memang jauh lebih sulit daripada sekadar belajar ilmu agama”.

Lapangkanlah rezekinya agar ia tak perlu lagi mencuri hanya untuk sekadar memberi makan. Dan lindungilah anak-anaknya dari trauma atas perlakuan dunia yang kasar ini.

Esok, pasar itu akan kembali ramai. Namun, jejak air mata ibu itu akan tetap tertinggal di sana, menjadi saksi bahwa di suatu hari yang terik, nurani kita pernah mati demi seekor ikan.

(Visited 8 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.