Oleh: Rosmawati

Di tengah kesibukan hidup yang tak pernah berhenti, ada satu bulan yang selalu menjadi waktu untuk berhenti sejenak, merefleksikan diri, dan memperbaiki jiwa. Bulan itu adalah Ramadan, bulan suci yang penuh berkah dan ampunan.

Ramadan, bulan suci yang penuh berkah dan ampunan. Saatnya introspeksi diri, menyadari kelemahan dan kesalahan. Manusia sering terjebak dalam ego dan keinginan untuk dikatakan.

Keinginan untuk dikatakan sebagai orang yang baik, yang selalu melakukan kebaikan, seringkali hanya untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain. Keinginan untuk dikatakan sebagai orang yang sukses, yang memiliki segalanya, seringkali hanya untuk menutupi kelemahan dan kekurangan.

Ramadan adalah proses pembersihan diri, bukan proses untuk mendapatkan pujian atau pengakuan. Ini adalah saatnya membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang telah menumpuk. Membersihkan pikiran dari keinginan-keinginan yang tidak baik.

Manusia masih sering terjebak dalam ego. Keinginan untuk selalu benar, untuk selalu menang, seringkali hanya untuk diakui dan dihargai. Keinginan untuk dikatakan sebagai orang yang baik, tapi lupa bahwa kebaikan itu tidak perlu dikatakan.

Ramadan adalah proses penyadaran diri, menyadari bahwa manusia tidak sempurna. Kita semua memiliki kelemahan dan kekurangan. Tapi, itulah yang membuat kita manusia, yang dapat belajar dan berubah.

Harapan untuk Ramadan ini adalah menjadi proses pembersihan diri yang sebenarnya. Membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang telah menumpuk. Menjadi orang yang lebih baik, yang dapat mengontrol ego dan menjadi lebih rendah hati.

Harapan untuk Ramadan ini adalah menjadi awal baru, awal untuk menjadi orang yang lebih baik. Terus belajar dan berubah, menjadi orang yang lebih baik setiap hari.

Usia semakin hari semakin tidak muda lagi. Sudah ada beberapa tanda-tanda yang harus lebih jeli. Rambut sudah mulai memutih, sendi sudah tidak sekuat dulu lagi. Mata sudah tidak seawas dulu lagi. Dan lutut pun sudah semakin lemah.

Saatnya semakin menyadari bahwa kehidupan adalah perjalanan menuju pulang. Tidak dapat membawa apa-apa ketika pergi, kecuali amal dan kebaikan yang telah dilakukan. Ramadan ini dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan amal dan kebaikan.

Harapan untuk menjadi lebih bijak dan lebih sabar dalam menghadapi tantangan hidup. Menjadi lebih peduli dengan orang lain dan lebih berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Harapan untuk Ramadan ini adalah membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua. Semoga dapat menjadi orang yang lebih baik, yang dapat mengontrol ego dan menjadi lebih rendah hati.

Semoga Ramadan ini membawa berkah dan ampunan bagi semua. Aamiin.

Kolaka Utara,1 Februari 2026

(Visited 12 times, 4 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.