Oleh: Rosmawati

Menanti ramadan seperti menanti sesuatu yang spesial. Sebuah bulan yang penuh rahmat, bulan yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Aku dan kamu, kita semua memiliki harapan besar untuk menyambut ramadan dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap. Persiapan menuju ramadan sudah dimulai. Kita mempersiapkan diri dengan berbagai amalan, membersihkan hati dari segala dosa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Bagaimana denganmu? Sudahkah kamu mempersiapkan diri?

Menghubungkan diri dengan ramadan bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang bagaimana kita bisa menjadi lebih baik. Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Keindahan alam seringkali membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Puncak gunung, pantai, atau bahkan sawah yang hijau, semua mengingatkan kita akan kebesaran Allah. Ramadan adalah waktu untuk lebih menghargai keindahan alam dan mensyukurinya.

Menanti malam pertama ramadan seperti menanti sesuatu yang sangat spesial. Hati yang penuh harap, jiwa yang siap, dan doa yang terus dipanjatkan. Apa yang kamu nantikan di malam pertama ramadan? Aku, mungkin hanya bisa menantikan dengan harapan bisa kembali sehat seperti dulu, karena kali ini aku harus menjaga pola makan ketat. Tidak seperti biasanya, ramadan kali ini aku sudah tak bisa lagi membersamai telur asin, favoritku yang selalu siap di meja makan saat berbuka dan sahur 😊. Biasanya, menjelang ramadan, aku sudah mulai menyiapkan telur asin yang gurih dan asin, menjadi makanan wajib di setiap Ramadhan, baik saat berbuka maupun sahur. Tapi kali ini, aku harus mengabaikannya demi kesehatan.

Apa yang kita nantikan di ramadan? Ampunan dosa? Ketenangan jiwa? Atau mungkin kesempatan untuk memperbaiki diri? Ramadan adalah bulan yang penuh harapan. Tibanya ramadan adalah sebuah anugerah. Kita menyambutnya dengan gembira, dengan takbir dan tahlil. Ramadan adalah waktu untuk kita berkumpul dengan keluarga, untuk berbagi kebaikan, dan untuk memperbaiki diri.

Mengisi ramadan dengan kebaikan adalah tujuan kita. Kita bisa melakukan berbagai amalan, seperti puasa, shalat tarawih, dan sedekah. Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Aku, kamu, dan ramadan, sebuah perjalanan spiritual yang indah. Semoga kita bisa memanfaatkan ramadan untuk kebaikan, dan menjadi lebih baik setelah ramadan tiba.
Dan semoga ramadan kali ini menjadi pengobat seluruh sakit fisik dan jiwaku.

(Visited 16 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.