Oleh Besse Rismawati
Bulan indah yang dinantikan, kini sudah berdiri tepat di depan langkah kaki. Seperti tamu mulia yang datang membawa cahaya, Ramadan hadir tanpa mengetuk pintu tetapi hati.Saat langit mulai dipenuhi doa-doa dalam diam hatiku pun kembali menyulam kisah kasih rumah tanggaku. Kisah yang selama ini kupeluk dalam tawa, namun juga sering terselip luka yang tak pernah sempat kuberi obat.
Aku ingin suci,
Aku ingin bersih,
Aku ingin layak menyambut bulan yang mulia ini.
Namun entah mengapa, saat mulut mulai melafalkan “Marhaban Ya Ramadan” justru bayangan- itu datang menyerbu. Bayangan prahara, pertengkaran kecil yang terasa biasa, namun meninggalkan bekas yang besar. Bayangan kata-kataku yang tajam, yang mungkin tak sengaja, namun mampu melukai hati pasangan berkali-kali.
Aku termenung, Sejenak aku bertanya pada diriku sendiri,
“Berapa kali suamiku terluka karena sikapku?”
“Berapa kali ia menahan perih, demi menjaga rumah ini tetap berdiri?”
Aku tak mampu menghitungnya.
Dan lebih menyayat lagi,terlintas tangisan anak-anak,
Tangisan yang dulu mungkin kuanggap rengekan sepele,
Padahal bisa jadi itu jeritan hati kecil mereka yang merasa terabaikan, tanpa aku sadari.
Ada hari- hari ketika aku terlalu sibuk,ada waktu ketika aku terlalu lelah.
Ada momen ketika aku terlalu ingin dimengerti, sampai lupa bahwa orang lain pun ingin dimengerti.
Sungguh manusia memang tak luput dari kekhilafan, di atas sajadah aku mulai merasakan sesuatu yang berat, bukan beban pekerjaan, bukan lelah fisik, tetapi beban dosa yang tak terlihat.
Aku merasa seperti seorang ibu yang berlumuran dosa oleh kelalaian, di tengah rasa itu, muncul pertanyaan yang paling menyesakkan;
“Akankah semuanya terhapus hanya dengan kalimat Marhaban Ya Ramadan?”
Air mataku jatuh tanpa aba-aba, karena aku sadar,
Ramadan bukan sekadar bulan yang disambut dengan spanduk, makanan, atau ucapan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.
Ramadan adalah panggilan untuk membersihkan hati.
Sanubariku berbisik lirih;
Ya Allah… jika Engkau beri aku waktu untuk bersimpuh, aku ingin menebus semua salahku. Aku ingin meminta maaf bukan hanya pada-Mu, tapi pada mereka yang selama ini paling aku cintai. aku belajar memahami, bahwa taubat bukan hanya menangis di malam hari,tetapi juga berubah di siang hari. Semoga aku tidak hanya sibuk mengurus rumah, namun lupa mengurus hati.
“Marhaban Ya Ramadan”
Kalimat itu bukan sekadar sambutan. Kalimat itu adalah janji.
Janji untuk memperbaiki diri.
Janji untuk meminta maaf.
Janji untuk memulai kembali.
Dan mungkin, bukan Ramadan yang menghapus dosaku seketika, tetapi kesungguhan hati untuk berubahlah yang membuat Allah membuka pintu ampunan.Ia tidak menunggu kita menjadi suci untuk datang kepada-Nya. Justru Ramadanlah yang Allah kirim agar kita punya jalan untuk kembali.
Dan aku ingin pulang kepada versi diriku yang lebih lembut, lebih sabar, lebih penuh cinta. Karena sesungguhnya rumah tangga yang indah bukan rumah tanpa luka, melainkan rumah yang selalu punya ruang untuk saling memaafkan.
Batuganda Kolaka Utara
