Oleh : Ren Hayasaka*
Salju selalu punya cara membuat manusia terdiam. Ia turun pelan, putih, sunyi, dan entah mengapa selalu dianggap indah. Banyak orang memotretnya, banyak pula yang menyebutnya romantis. Musim dingin ini pun tampak tak berbeda. Putihnya sama, dinginnya sama, tapi ada satu hal yang membuat musim ini terasa lain. Ada angkanya 27 menyertainya, muncul diam diam, seperti salju itu sendiri.
Dalam dua pekan terakhir, 27 orang dilaporkan meninggal dunia di Jepang akibat cuaca dingin ekstrem dan kecelakaan terkait salju. Bukan kabar burung, bukan pula sensasi media sosial. Angka ini berasal dari laporan resmi Fire and Disaster Management Agency Jepang, lembaga negara yang setiap musim dingin mencatat korban tanpa emosi. Data tersebut dirilis pada awal Februari 2026, lalu diberitakan secara luas oleh media internasional.
Oman News Agency melaporkannya pada 3 Februari 2026 sebagai peringatan bahwa badai salju musim ini telah merenggut puluhan nyawa. Sehari berselang, Tuoi Tre News menurunkan laporan lanjutan pada 4 Februari 2026, merinci sebaran korban berdasarkan data yang sama.
Nigata mencatat korban terbanyak 12 orang, diisusul Akita enam orang dan Hokkaido tiga orang. Kasus kematian juga dilaporkan di Aomori, Iwate, Yamagata, Nagano, dan Shimane. Penyebabnya berulang, nyaris membosankan jika dibaca sebagai berita, tapi menyayat jika dibayangkan sebagai kenyataan. Atap rumah runtuh karena salju yang terlalu berat. Kecelakaan saat membersihkan salju. Tubuh yang tak sanggup melawan dingin terlalu lama.
Angka-anglka disebutkan di atas membuat salju kehilangan romantismenya. Beberapa hari terakhir suhu sempat menghangat, banyak orang berharap musim terburuk telah lewat. Harapan memang selalu datang lebih dulu daripada kabar buruk. Namun cuaca tidak punya kewajiban menuruti harapan manusia. Badan Meteorologi Jepang memperkirakan gelombang udara dingin yang lebih kuat kembali bergerak ke selatan mulai 6 Februari 2026, dengan puncaknya pada 7 hingga 8 Februari 2026 besok Sabtu dan Minggu.
Salju lebat diprediksi kembali menumpuk di wilayah sisi Laut Jepang, termasuk daerah yang sebelumnya sudah mencatat ketebalan ekstrem. Wilayah Kanto, termasuk Tokyo, juga berpotensi diguyur salju. Transportasi bisa terganggu, jalan menjadi licin. Pulang tak lagi sekadar rutinitas, tetapi urusan kehati hatian. Pada titik ini, salju tak lagi sekadar pemandangan. Ia menjadi ujian kesabaran, kesiapan, dan kewaspadaan.
Salju sebenarnya tidak berubah, ia tetap putih warnanya yang turun dengan tenang,, yang berubah hanyalah cara kita memaknainya. Ketika angka kematian muncul satu per satu, romantisme berubah menjadi kemewahan yang tidak semua orang bisa nikmati. Ada kalanya alam seperti sedang berbisik. Bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diingatkan, bahwa keindahan tidak selalu datang tanpa harga. Bahwa pujian berlebihan pada alam kadang membuat kita lupa menyiapkan diri. Dan di sinilah satu kalimat yang layak kita simpan pelan-pelan, “Salju tidak pernah kejam, manusia saja yang sering terlalu percaya diri”.
Salju musim ini mengajak kita menunduk sebentar. Mengurangi pujian, menambah doa, dan belajar bahwa di balik pemandangan yang memesona, selalu ada cerita yang tak sempat diunggah. Begitulah salju tetap turun indah, angkanya tetap membisu. Sahabat, demikian laporan dari Jepang, doakan kami bisa melewati cuaca ekstrim di musim dingin ini. Terus semangat tanpa batas tanpa syarat. (eRHa)
*Jepang, 4 Februari 2026
