Suatu sore sepulang kantor, melewati Jalan Abdul Kadir Dg Suro di sekitar RSU Yapika, Samata Gowa nampak berjajar para penjual buah, terutama buah mangga. Buah yang paling banyak ya buah mangga. Buah lainnya, ada jambu putih, jambu air, salak, apel, srikaya, dan banyak lagi lainnya. Warna warna mangga yang sudah nampak matang sempurna menggodaku untuk singgah membelinya. Entah apakah lagi musim atau bukan, akhir akhir ini banyak penjual mangga ditepi jalan jalan di Gowa dan Makassar. Mungkin didaerah lain juga demikian di seluruh Indonesia, karena sewaktu aku kunjungan ke Yogyakarta bersama rekan kerja ke Yogyakarta, disana juga banyak mangga dijajakan ditepi jalan. Di Makassar dan Gowa di beberapa tempat di pinggir jalan terdapat penjual mangga. Hanya saja kalau diperhatikan, sepertinya hanya satu atau dua dan paling banyak tiga jenis mangga yang dijual, yaitu mangga yang bentuknya agak lonjong memanjang, dan bagian dekat tangkainya berwarna kekuning kuningan. Tak terlihat jenis jenis mangga lainnya. Kuperkirakan, sumber asal mangga ini berasal dari satu perkebunan entah dimana.
Gundukan buah mangga ditepian jalan itu membawa pikiranku melayang ke masa silam, mengingatkanku pada era 1980an pada masa kanak kanak di kampung dulu. Kampung halaman tempatku melewatkan masa sekolah di SD dan SMP disalah satu kecamatan di Bone bagian Selatan, Sulawesi Selatan.

Di kampung kalau musim mangga tiba, kami biasa pergi mencari mangga pada malam hari. Biasanya malam hari banyak mangga yang jatuh. Terkadang dijatuhkan oleh kelelawar (kalong) atau jatuh sendiri karena sudah sangat matang atau karena tertiup angin kencang. Bahkan saat gelap gulita sekalipun, kalau angin bertiup kencang, dan buah mangga berjatuhan dan menimpa atap seng rumah rumah penduduk, kami juga biasa turun mencarinya dengan menggunakan senter atau lampu minyak. Pada malam hari kami bertiga atau berempat membawa lampu senter atau obor atau lampu minyak tanah.
Mencari mangga dimalam hari disebut dengan istilah ‘massulo fao’ yaitu menyusuri pohon pohon mangga dimalam hari untuk memungut buah mangga yang berjatuhan dan masih dalam kondisi yang bagus. Mangga yang jatuh tapi ada bekas cakaran atau gigitan kelelawar kalau hanya sedikit saja, tetap diambil dan dengan menggunakan pisau, bagian yang telah digigit kelelawar itu dibuang. Lokasi pohon mangga itu telah kami hafal dengan baik, karena memang kampung kami tidak lah terlalu luas. Terkadang kami bisa membawa pulang satu karung mangga yang masak maupun yang masih mengkal.
Dulu di kampung dibelakang rumah tetangga ada satu pohon mangga yang besar dan tinggi menjulang. Mangga ini warna kulitnya hijau keputihan saat masih muda, dan hanya sedikit kekuningan saat matang. Rasanya sama sekali tidak kecut, meskipun masih muda, dan saat matang rasanya menjadi tidak terlalu manis. Mangga ini paling enak saat masih mengkal, karena untuk dibikin rujak atau salad buah. Ukurannya buahnya lebih besar dari rata rata jenis mangga lainnya. Lupa nama jenis mangganya namun, rasa dan aromanya saat matang masih tersimpan dalam ingatan. Sampai sekarang, tak sekalipun kutemukan mangga jenis ini dimanapun, baik di Sulawesi maupun di luar Sulawesi.

Di kampung waktu itu ada berbagai jenis species mangga, yang tidak pernah kutemukan ditempat lain. Dalam bahasa Bugis yang di daerah Bone bagian selatan, mangga disebut Pao atau Fao. Kalau ditulis dalam aksara Lontara menjadi ”pao” huruf Pa tapi dibaca Fa. Ada yang namanya ‘fao bolong’ (mangga hitam) yang rasanya agak manis manis kecut kalau matang dan kulitnya hijau kehitam hitaman, meskipun sudah sangat matang warnanya tetap hijau kehitaman. Aroma mangga ini khas, harum saat sudah matang. Pohon mangga jenis ini ada tumbuh di dekat sumur umum di kampung kami yang kebetulah juga ditepian sungai kecil dibelakang rumahku. Ada jenis mangga yang ukuran buahnya agak kecil kecil, sedikit lebih besar dari buah kedondong, rasanya pun sangat manis dan aromanya harum saat matang. Ada juga jenis mangga yang tumbuh disamping rumah guru mengajiku waktu itu. Daging buah mangga ini sangat berserat sehingga meskipun sudah matang, tidak mudah tersayat meskipun dengan pisau tajam sekalipun. Malah lebih enak kalau sudah matang, buah mangga ini diremas remas sampai lembut lalu dilubangi bagian bawahnya dan kemudian diisap, rasanya seperti minum jus mangga. Ada juga jenis mangga yang bentuknya kecil kecil bulat (tidak lonjong seperti buah mangga kebanyakan), yang paling besar paling sebesar buah kedondong, meskipun sudah matang. Jenis mangga ini banyak dijual dipasar yang masih mentah, biasanya dibikin rujak atau racak rajak mangga (semacam lalapan).
Kemudian ada satu lagi jenis mangga yang bisa dikatakan rajanya mangga. Dikenal dengan nama Fao Macang atau ”Mangga macang” yang banyak pohonnya tumbuh di kampung, bahkan dihalaman rumahku dan ditepi jalan juga banyak tumbuh. Yang paling khas dari jenis mangga ‘fao macang’ ini adalah aromanya yang menyengat kalau sudah matang. Baunya hampir sama menyengatnya dengan aroma bau buah durian, sehingga terkadang susah disembunyikan. Karena saking menyengat aromanya, meskipun satu biji saja yang disimpan, aromanya bisa tercium seisi rumah. Ciri khas lainnya dari buah ini adalah kulit buahnya yang tebal, mungkin kulit mangga yang paling tebal yang ada dalam dunia permanggaan.
Ada pengalaman yang masuk kategori ’unforgetable memory’ puluhan tahun lalu saat masih menggunakan kendaraan umum dari ke Bone. Saat itu masanya banyak warga kampung pulang kembali ke Makassar setelah melewatkan sekian hari di kampung saat hari raya lebaran. Waktu itu aku menumpang mobil kendaraan umum tipe mini busL-300. Ternyata ada penumpang yang membawa mangga macang yang cukup banyak, mungkin satu karung, (ukuran karung beras). Akibatnya, banyak penumpang yang pusing, dan muntah dalam perjalanan. Terpaksa si sopir berhenti sejenak bersih bersih, dan memindahkan karung mangga itu diatas atap mobil dan mengikatnya. Namun aromanya tetap saja masih masuk kedalam mobil, dan ditambah lagi jalanan yang berkelok kelok. Meskipun akhirnya tetap bisa sampai Makassa meskipun banyak yang komplain dan protes ke penunpang yang punya mangga.
biasanya akan banyak penumpang yang pusing dan muntah muntah dalam perjalanan.
Jenis mangga macang ini jarang ditemukan di Makassar dan sekitarnya. Di daerah Samata (Gowa) pernah ada yang jual dilapak dipinggir jalan.
Kalau saja waktu bisa kuputar kembali, rasanya ingin kembali ke masa kanak kanak dulu, ketika mencari mangga dimalam hari yang gelap bersama teman teman dikampung.

