Oleh: Fani Oschalia
Entah karena malas atau terlalu sibuk, sekarang publik mulai menjadikan jumlah followers sebagai ukuran kredibilitas. Influencer seperti sebuah lembaga baru yang menjadi tumpuan dan kepercayaan publik. Dulu masyarakat mencari validasi lewat buku, diskusi, atau pengalaman. Sekarang, cukup lewat “konten yang lewat di FYP tiga kali.”
Bukan berarti semua influencer salah. Banyak juga yang edukatif, kritis, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka sampaikan. Namun masalah muncul ketika publik mulai kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan. Segala hal diterima mentah-mentah hanya karena disampaikan dengan percaya diri dan diberi backsound yang menyentuh oleh si influenser.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika masyarakat mulai menyerahkan seluruh cara berpikirnya kepada internet. Apa yang harus dibeli, siapa yang harus dibenci, bagaimana harus mencintai, bahkan bagaimana seharusnya merasa sedih. semuanya menunggu arahan konten kreator.
Dan perlahan, opini publik tidak lagi dibentuk oleh siapa yang paling memahami, tetapi oleh siapa yang paling pandai menarik perhatian. Karena di era digital, kemampuan berbicara kadang lebih dihargai daripada kemampuan berpikir.
Kita perlahan berubah dari manusia yang berpikir menjadi manusia yang “menyesuaikan tren.” Publik yang sehat seharusnya tidak dibangun dari jumlah followers seseorang.
Karena pada akhirnya, influencer tetap manusia biasa: bisa salah, bisa keliru, dan bisa berbicara demi engagement semata.
