Singasari, atau Singosari, adalah sebuah nama kecamatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya sekitar 10 kilometer sebelah utara Kota Malang. Nama ini berasal dari Singhasari, ejaan Sanskerta klasik, nama Kerajaan dengan ibukota Tumapel, sebuah kerajaan Hindu-Budha di Jawa Timur pada 1222-1292. Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok, yang kemudian menjadi raja pertama, disusul Anusapati, Panji Tohjaya, Wisnuwardhana dan Kertanegara. Singasari runtuh karena Kertanegara dibunuh Bupati Gelanggelang, Jayakatwang.

Kecamatan Singasari berada di kaki Gunung Arjuno. Total populasi kecamatan ini pada 2024 adalah 182.640 jiwa. Luasnya 118,51 km2, terbagi menjadi 3 kelurahan dan 14 desa.

Menyusuri jalan-jalan di wilayah Singasari, imajinasi menerawang ke akhir abad ke-13, tepatnya antara 1290-1295. Sejarah mencatat bahwa saat itu hidup seorang legenda asal Tuban yang bernama Lawe. Atau Rangga Lawe. Di banyak literatur, nama ini digabung menjadi Ranggalawe.

Tulisan ini kemudian menggunakan nama kedua, Rangga Lawe (dipisah), mengikuti istilah yang dipakai di Sandiwara Radio (SR) Tutur Tinular (1990) karya S. Tidjab. Di mana disebutkan bahwa Lawe adalah nama pemberian ayahnya yaitu Arya Wiraraja, Adipati Songeneb (sekarang Sumenep, Madura). Rangga adalah salah satu pangkat setingkat Menteri atau Pejabat Tinggi Negara.

Di SR Tutur Tinular, Rangga Lawe diceritakan sebagai panglima perang yang menjadi saksi runtuhnya Kerajaan Singasari pada 1292, dan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293. Saat salah satu pewaris tahta Kerajaan Singasari yaitu Raden Wijaya melarikan diri ke Madura karena dikejar pasukan Jayakatwang, Rangga Lawe adalah salah satu dari 12 pengikut setia yang menyertainya dalam pelarian itu.

Begitu juga di saat Raden Wijaya mendapat lahan di tengah hutan Tarik, di daerah Trowulan, Mojokerto saat ini, Rangga Lawe pun setia membantu hingga berdiri sebuah kerajaan baru yang bernama Majapahit. Termasuk jadi panglima perang ketika Majapahit bekerja sama dengan pasukan Kaisar Kubilai Khan dari Mongol untuk meruntuhkan Kerajaan Kediri.

Beberapa sumber lain menyebutnya baru bergabung dengan Raden Wijaya saat pembukaan hutan Tarik, atas perintah ayahnya. Waktu itu dia juga menyediakan 70 ekor kuda Bima yang kemudian dijadikan kuda perang oleh bala tentara Majapahit.

Setelah Kerajaan Majapahit berdiri, dia diberi jabatan sebagai Adipati Internasional di Tuban. Dia menerima jabatan ini dengan senang hati. Namun tidak terima pamannya, Lembu Sora, yang dianggapnya sangat berjasa terhadap Majapahit, ‘hanya’ ditunjuk sebagai Adipati Kediri, merangkap Kepala rumah tangga istana (rakryan demung) dan Menteri Dalam Negeri. Rangga Lawe maunya Lembu Sora jadi Rakryan Patih, atau Mahapatih, setara dengan Perdana Menteri sekarang. Jabatan itu diberikan kepada Nambi.

Usai protes, Rangga Lawe kembali ke Tuban, untuk menjalani kehidupan keseharian sebagai Adipati. Rupanya kejadian ini dimanfaatkan oleh salah satu petinggi kerajaan, yang juga diam-diam mengincar kursi Rakryan Patih. Namanya, Dyah Halayuda. Sang Ramapatih versi SR Tutur Tinular, dan Mahapati di Kitab Pararaton.

Halayuda berperan sebagai Sengkuni versi Majapahit. Dia melapor kepada Raja Raden Wijaya bahwa Rangga Lawe pulang ke Tuban untuk menyusun rencana pemberontakan kepada Majapahit. Mendengar itu, Raden Wijaya mengutus Nambi, Lembu Sora dan Senopati Kebo Anabrang menyelesaikan masalah dengan Rangga Lawe.

Dyah Halayuda bergerak cepat. Dia mengutus anggotanya untuk duluan ke Tuban memberitahu Rangga Lawe bahwa pasukan Majapahit pimpinan Patih Nambi akan datang menumpasnya karena dianggap memberontak. Rangga Lawe lalu menyusun kekuatan untuk menghadang tentara Majapahit, lalu pecahlah pertempuran di Sungai Tambak Beras. Di sinilah kisah hidup Rangga Lawe berakhir. Dia mati di tangan Senopati Kebo Anabrang, yang kemudian juga mati dibunuh Lembu Sora. Lokasi pertempuran itu kini dikenal sebagai wilayah Desa Tambakberas Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang Jawa Timur.

Ternyata singkat sekali kisah hidup Rangga Lawe yang tercatat di sejarah. Tak lebih dari lima tahun. Dia meninggal dunia sebagai pemberontak. Ini adalah pemberontakan pertama dalam sejarah Majapahit.

Meski demikian, bagi masyarakat Tuban, dia adalah sosok pahlawan yang tak akan pernah dilupakan. Sejarah kemudian berpihak padanya. Senyatanya dia meninggal sebagai pemberontak, namun kisah ini kalah mentereng dibanding perannya sebagai pengikut setia Raden Wijaya dalam mendirikan kerajaan itu. Inilah yang diingat sampai sekarang.

Nah bagi warga Singasari, atau siapapun yang mengikuti sejarah ini, pasti bisa membayangkan lokasi yang dulu bisa saja ditempati Rangga Lawe beraktifitas, dan sekarang sudah jadi apa. Pikiran lalu melanglang buana ke peristiwa 7 abad silam, silih berganti dengan kondisi di depan mata.

Jalan-jalan yang sekarang sudah beraspal dan dilewati kendaraan bermotor, dulunya sangat mungkin pernah dilewati Rangga Lawe mondar-mandir dengan dengan kudanya, Nilam Umbara. Dalam SR Tutur Tinular, kuda itu diberi nama Nila Ambara.

Pasar Singasari di Kelurahan Pagentan memang dibangun pada 1994. Sumber lain menyebut pasar itu sudah ada sejak era Hindia Belanda. Tidak ditemukan satupun keterangan kalau sudah ada pada era Majapahit. Kalaupun dipaksakan ada di narasi ini, maka yakinlah bahwa pasar itu akan bercerita banyak, karena tentu ada kesamaan yang takkan lekang oleh waktu. Seperti barang-barang dari hasil lokal yang diperjualbelikan, mulai dari makanan pokok, lalu buah-buahan, sayur-sayuran, dan jenis makanan lainnya.

Demikian pula sekiranya saat ini di Singasari ada pohon yang hidup selama 700 tahun, seperti kayu putih (Melaleuca cajuputi), baobab atau ki tambleg (Adansonia), pinus Bristlecone (Pinus longaeva), atau gran abuelo (Alerce milenario), kemungkinan kita melihat pohon yang sama dengan yang hidup bersama Rangga Lawe. Kalau iya, bisa jadi di pohon-pohon itu Rangga Lawe pernah menambatkan Nilam Umbara sambil beristirahat makan siang, berbincang dengan rekan-rekannya, atau memberikan instruksi kepada anggotanya.

Saat duduk di sebuah warung kecil di pinggir jalan di Singasari, terbayang bagaimana mobil-mobil dan motor-motor yang berseliweran itu dulunya adalah gerobak, kuda, dan penduduk yang bertelanjang dada berjalan kaki. Mobil Rantis (Kendaraan Taktis) yang lewat dengan gagah itu sangat mungkin adalah transformasi dari kuda perang yang didatangkan dari Bima ke Majapahit.

Dan di atas tanah yang diinjak itu, tempat membangun warung kecil itu, bisa jadi ada keringat Rangga Lawe dan kudanya yang sudah berkalang tanah. Atau sisa-sisa makanannya yang dibuang, menjadi sampah, menyatu dengan tanah, tumbuh menjadi humus, menjadi pupuk untuk pohon-pohon yang tumbuh kemudian, dan masih ada hingga kini.

Atau jauh terkubur di dalam tanah itu, ada fosil-fosil bekas senjata atau pakaian yang ketinggalan, atau sengaja ditinggalkan karena sudah rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Atau mungkin tulang-tulang manusia yang mati karena terkena senjata Rangga Lawe. Dia punya senjata maut berbentuk keris pusaka bernama Keris Megalamat, atau Kyai Megalamat buatan Empu Bajraguna dari Bangkalan, Madura.

Saat kaki melangkah menyusuri bagian lain dari Singasari, ditemukan arca yang kata penduduk setempat merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. Ini juga bisa dilihat dari ornamen dan reliefnya. Itulah Arca Dwarapala Singasari yang dibangun melalui proyek multiyears atau tahun jamak pada 1292-1304 oleh Raja Singasari terakhir Kertanegara dan dilanjutkan Raja Majapahit pertama Raden Wijaya. Arca ini terletak di Kelurahan Candirenggo, tepatnya di kawasan Dwarapala dan area pelestarian Ndalem Ratu yang menghadirkan suasana khas kuliner tradisional.

Karena Rangga Lawe adalah tokoh nyata yang hidup di akhir era Singasari dan meninggal 1295, maka hampir dipastikan pula tempat-tempat itu pernah disinggahi sang pahlawan. Hal yang berbeda ketika bangunan itu merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit. Seperti Candi Singasari yang dibangun pada masa pemerintahan Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350) untuk menghormati Raja Singasari terakhir, Kertanegara.

Pikiran menerawang lagi dan khayalan semakin liar. Terbayang badan yang kekar tanpa baju tak sengaja bersandar dan keringatnya menempel di dinding Arca Dwarapala yang tingginya 3,7 meter, lebar 2,25 meter dan tebal 1,98 meter. Keringat itu mengering tersapu angin, menguap karena sinar matahari, atau hanyut bersama air hujan. Secara kasat mata, lenyap tanpa bekas, namun sebenarnya tetap ada di situ, entah sudah jadi apa.

Eksplorasi berlanjut, sambil melihat rumah-rumah yang berderet rapi. Sudah banyak berubah, karena ada modifikasi di sana-sini, mengikuti perkembangan zaman. Namun memperhatikan dengan detail, masih banyak arsitektur bangunan Majapahit, terutama di komponen atap dan ornamentasi.

Saat berada di kendaraan meninggalkan kawasan Singasari menuju bandara Juanda, selama dua jam perjalanan, penulis masih terbawa suasana Singasari. Jangan-jangan jalan Tol Pandaan-Malang itu dulunya juga dilewati Nilam Umbara yang di atasnya ada Rangga Lawe terguncang-guncang dengan keringat bercucuran membasahi bumi. Memikirkan ini sambil mendengarkan lagu Tiara yang dinyanyikan rocker asal Malaysia, Alim Kris (1991).

Ketika mobil travel mampir di Rest Area kilometer 26 Sidoarjo, pikiran cocoklogi masih menghantui. Bisa saja di tempat itu dulu ada rumah persinggahan bala tentara Singasari dan Majapahit dengan Rangga Lawe sebagai panglimanya mampir istirahat. Di sebuah panggung yang agak tinggi, terbayang sang tokoh berdiri gagah berpidato dan memberi instruksi kepada pasukannya. Di sebuah ruangan yang agak sempit, terlukis pula sosok yang sedang duduk bersama beberapa orang kepercayannya, dalam rapat terbatas, membahas taktik perang.

Ketika mobil belok dan mencapai area bandara, otak sudah tidak mampu mencari persamaan bandara Juanda dengan moda transportasi di zaman sang kesatria pujaan. Itu juga karena sudah di luar area Singasari. Saat mendengar suara merdu berkata ‘the fasten seatbelt sign has been switched off, …’, sejenak mata melihat keluar jendela, ke bawah, ke Bumi Singasari. Ada bayangan seekor kuda gagah perkasa berlari kencang, di atasnya duduk seorang laki-laki pemberani. Lalu awan putih muncul. Semua jadi hilang. Gelap.

Malang dan Sidoarjo, 11 Juni 2026

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.