Banyak orang masih memandang profesi agen asuransi hanya dari satu sisi. Ketika mendengar kata “agen”, yang terbayang sering kali adalah seseorang yang datang menawarkan polis, mengejar target penjualan, lalu menghilang setelah transaksi selesai. Pandangan seperti ini membuat sebagian masyarakat bersikap hati-hati, bahkan ada yang langsung menolak sebelum sempat mendengarkan.

Padahal, jika kita melihat lebih dalam, hakikat profesi agen asuransi jauh melampaui aktivitas menjual sebuah produk. Seorang agen yang profesional bukan sekadar menawarkan polis. Ia hadir sebagai edukator, perencana perlindungan keuangan, sekaligus pendamping keluarga yang membantu seseorang mempersiapkan masa depan menghadapi berbagai risiko kehidupan.

Pesan inilah yang sangat kuat disampaikan oleh Setyo Hendrarto dan Achmad Yusri dalam sesi Spirit Motivation – Gedung Graha Pena Makassar, 04 Juni 2026. Menariknya, keduanya tidak banyak berbicara tentang teknik menjual ataupun kalimat-kalimat penutup yang ampuh. Sebaliknya, mereka lebih banyak berbagi pengalaman tentang membangun hubungan, menjaga kepercayaan, serta melayani nasabah dengan sepenuh hati. Sesi Spirit Motivation ini, NASRUN IDRIS seorang Associate Agency Bulider dan juga seorang Executive Motivation & Engagement EXCO-PRUSpirit Makassar bertindak sebagai Fasilitator (Host) Sharing Session  dengan dua Agen Senior PRUDENTIAL dan berpengalaman puluhan tahun di industri asuransi : AHMAD YUSRI & SETYO HENDRARTO sebagai Narasumber.

Agen : Menjaga Masa Depan Keluarga

Salah satu kisah yang paling menginspirasi datang dari AHMAD YUSRI. Ia menceritakan dihadapan peserta Spirit Motivation bahwa salah satu penjualan terbesarnya justru berasal dari keluarga seorang nasabah yang pernah merasakan manfaat klaim. Ketika anggota keluarga melihat sendiri bagaimana biaya rumah sakit yang sangat besar dapat ditanggung melalui perlindungan asuransi, muncul rasa ingin tahu yang akhirnya berkembang menjadi kepercayaan. Referensi itu lahir bukan karena promosi yang hebat, melainkan karena pelayanan yang nyata dan pengalaman baik yang dirasakan langsung oleh nasabah.

Pelajaran penting dari kisah tersebut adalah bahwa pelayanan kepada satu keluarga dapat membuka kesempatan untuk melindungi keluarga lainnya. Nasabah yang merasa dilayani dengan baik akan menjadi saksi hidup atas manfaat perlindungan yang mereka rasakan.

SETYO HENDRARTO juga memberikan pelajaran yang tidak kalah berharga. Ia mengisahkan proses yang memerlukan sekitar tiga bulan dengan kurang lebih sepuluh kali pertemuan sebelum seorang calon nasabah akhirnya mengambil keputusan. Bahkan pernah terjadi situasi ketika calon nasabah sudah hampir menandatangani dokumen, namun kembali mengurungkan niatnya. Banyak orang mungkin sudah menyerah dalam kondisi seperti itu. Namun beliau memilih tetap menjaga hubungan, menghormati keputusan calon nasabah, dan terus membangun komunikasi sampai akhirnya kepercayaan itu benar-benar tumbuh.

Dari pengalaman tersebut, kita belajar bahwa pekerjaan agen bukanlah mengejar tanda tangan secepat mungkin. Yang diperjuangkan adalah kepercayaan. Karena keputusan membeli perlindungan bukan hanya soal uang, tetapi tentang rasa aman yang dipercayakan kepada seseorang.

Menariknya lagi, kedua narasumber menyampaikan pandangan yang sama. Mereka sepakat bahwa sebagian besar orang tidak membeli polis asuransi karena produknya semata. Mereka membeli karena percaya kepada orang yang mendampinginya. Kepercayaan selalu datang lebih dahulu daripada transaksi. Oleh karena itu, sebelum berbicara mengenai manfaat produk, seorang agen perlu terlebih dahulu menjadi pendengar yang baik, memahami kebutuhan keluarga, menggali kondisi keuangan, serta membantu calon nasabah menyadari risiko yang mungkin dihadapi di masa depan.

Inilah sebabnya mengapa proses fact finding menjadi sangat penting. Agen yang baik tidak datang membawa daftar produk untuk langsung dipilih. Ia datang membawa pertanyaan, mendengarkan cerita, memahami tujuan hidup keluarga, kemudian membantu menyusun solusi perlindungan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Dalam proses tersebut, agen sesungguhnya sedang menjalankan fungsi sebagai seorang konsultan dan perencana keuangan keluarga.

Nilai Terbesar Sebuah Polis adalah Agen yang Mendampinginya.

Bagi masyarakat, memiliki agen yang profesional justru merupakan salah satu keuntungan terbesar ketika memiliki polis asuransi. Polis hanyalah dokumen perjanjian. Namun, agen adalah orang yang membantu menjelaskan isi polis, memastikan manfaat dipahami, mengingatkan ketika kebutuhan perlindungan berubah, membantu proses perubahan data, memberikan review berkala, hingga mendampingi keluarga ketika terjadi klaim. Pada saat-saat sulit itulah kehadiran seorang agen sering kali terasa jauh lebih berharga daripada selembar dokumen polis.

Dalam sesi tersebut juga muncul satu pesan yang sangat menyentuh. Kedua Narasumber menjelasan bahwa ada kepuasan yang tidak dapat diukur dengan uang ketika seorang agen membantu proses klaim nasabah hingga keluarga benar-benar merasakan manfaat perlindungan. Penghargaan, rasa hormat, dan ucapan terima kasih dari keluarga nasabah menjadi pengalaman yang jauh melampaui besarnya komisi yang diterima. Inilah yang membuat banyak agen bertahan bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dalam profesi ini, karena mereka merasakan bahwa pekerjaan mereka memiliki makna bagi kehidupan orang lain.

Tentu saja seorang agen memperoleh komisi sebagai imbalan profesional atas pekerjaan yang dilakukan. Namun komisi bukanlah tujuan akhir. Ia merupakan konsekuensi dari pelayanan yang diberikan. Seperti halnya dokter menerima honor setelah mengobati pasien atau pengacara menerima jasa profesional setelah mendampingi klien. Demikian pula agen asuransi juga memperoleh penghasilan karena telah membantu keluarga menyusun perlindungan dan siap memberikan pelayanan berkelanjutan. Ketika orientasi utamanya adalah melayani, maka komisi menjadi hasil dari kepercayaan yang dibangun, bukan hasil dari memanfaatkan kekhawatiran atau musibah seseorang.

Bagi para agen, pesan terbesar dari kedua narasumber adalah agar tidak hanya mengejar angka penjualan. Bangunlah hubungan yang tulus, teruslah belajar, aktif mencari prospek, serta jangan mudah menyerah ketika menghadapi penolakan. Referensi terbaik akan datang dari nasabah yang merasa puas atas pelayanan yang diterimanya.

Sementara bagi masyarakat, jangan hanya bertanya berapa premi yang harus dibayar. Tanyakan juga siapa yang akan mendampingi Anda ketika membutuhkan bantuan. Sebab perlindungan yang baik bukan hanya tentang memiliki polis, tetapi juga tentang memastikan memiliki agen berlisensi yang siap hadir saat dibutuhkan.

Materinya sangat kaya dan ada satu benang merah yang jauh lebih kuat daripada sekadar "Jual Polis", yaitu mengubah paradigma tentang profesi agen asuransi.

Penutup.

Pada akhir sesi, kedua narasumber menjelaskan profesi agen asuransi bukan sekadar menjual produk. Profesi ini adalah tentang membantu setiap orang dalam perencanaan keuangan keluarga, mengambil keputusan yang bijaksana sebelum musibah datang, mendampingi mereka ketika cobaan terjadi, serta memastikan bahwa harapan tetap ada ketika keadaan berubah. Ketika agen bekerja dengan hati dan nasabah memahami nilai dari pendampingan tersebut, hubungan yang terbangun bukan lagi hubungan penjual dan pembeli, melainkan kemitraan jangka panjang untuk menjaga masa depan keluarga.

(Visited 2 times, 2 visits today)
Avatar photo

By Naziruddin MS

LITERASI FINANCIAL SPECIALIST EDUCATOR INSURANCE SPECIALIST PERSONAL COACH LEADER MOTIVATOR BUSINESS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.