Oleh: Ghinda Aprilia
Hari Sabtu 14 Agustus 2021, aku mendapat kabar gembira via WhatsApp dari ekspedisi Bandung. Buku pesananku dari Bengkel Narasi Indonesia yang dikirim pak Iyan akan sampai ke Hongkong hari Minggu. Benar juga, sekitar jam 16.30 waktu Hongkong aku pergi ke kantor ekspedisi mengambil kiriman tersebut. Walau harus menunggu antrian panjang, tetapi tidak terasa capek karena menjemput paket buku yang selama ini kunantikan.
Alhamdulillah, setelah menunggu sekian lama, buku karya sang Inspirator Ruslan Ismail Mage (RIM) sudah sampai juga ke tanganku. Sambil mendekap buku itu, ada kebahagiaan dan kesyukuran menyelimuti jiwaku, karena kisah perjuanganku di Negeri Beton terpampang di Buku, “21 Hukum Kesuksesan Sejati”.
Aku terharu saat membacanya, bagaimana tidak! Setelah aku tiada nanti, buku ini akan menjadi saksi sejarah perjuanganku mendirikan sekolah di kampung halamanku.
Semoga buku ini akan menjadi cambuk bagiku untuk lebih bisa menekuni dunia tulisan dengan baik. Melahirkan karya buku untuk menginspirasi kehidupan.
Perkenalanku dengan sang penulis buku ini terjadi beberapa tahun lalu, ketika terbit buku beliau yang berjudul, “Ayat-ayat Api”. kebetulan aku iseng unggah di medsos, dan teman-temanku banyak yang suka. Bak kacang goreng, setelah stok dari temanku habis, beberapa kali aku minta dikirim langsung dari Sipil Institute Jakarta. Buku ini sangat menginspirasi sekali, dan apa yang ada dalam buku itu benar pernah terjadi dalam hidupku. Buku itu menjadi pembakar semangat perjuanganku selama di negeri orang.
Satu lagi buku karya terbaru sang inspirator bang RIM yang berkolaborasi dengan kang Iyan adalah, “Sumpah Pena”. Aku suka dengan buku ini, bahasanya sederhana, mudah dimengerti, setiap judul itu tidak terlalu panjang, sehingga antusias membaca judul berikutnya. Pesan singkat di awal aku membaca buku ini, ada kalimat yang terngiang-ngiang dalam benakku. Kata sang penulis, “Menulis dan membacalah untuk menjadi manusia paripurna”.
Kalimat inspiratif lain yang menggetarkan jiwaku dalam buku itu ketika bang RIM menulis, “Lebih baik hidup sederhana di pondok bambu penuh buku dengan mata pena tajamku, daripada hidup dalam gemerlapnya istana dikelilingi oleh orang-orang yang buta baca dan buta pena”. Semoga buku ini menjadi pemacu dan pemicu untuk terus belajar, walau usiaku sudah tidak muda lagi.
Buku “Sumpah Pena” ini akan menjadi jembatan kesulitan-kesulitanku dalam belajar menulis. Sumpah aku jadi kecanduan untuk belajar lebih giat lagi. Dengan buku ini, aku akan membaca, membaca, dan membaca. Kemudian menulis, menulis, dan menulis, sebagaimana pesan sang maestro puisi bapak Taufiq Ismail dalam webinar kemerdekaan Bengkel Narasi 14 Agustus 2021 lalu. []

Haha tertipu dengan judul dan foto, keren abis.