Oleh Besse Rismawati
Agustus 2008 adalah bulan kelahiran putri sulungku. Pagi indah itu kumerasakan kebahagiaan yang tiada taranya, Sepenuh hati tercurahkan, syukurku tak henti kupanjatkan ke Sang Khalik pemilik kehidupan. Namun di Agustus 2021 ini aku merasakan kesedihan yang teramat dalam, kehilangan yang menusuk jantungku, ditinggal oleh sahabatku rasa saudara, bahkan melebihi saudara perhatiannya.
Jumat sore 27 Agustus 2021aku menerima telepon dari seseorang teman. Aku kira itu kabar gembira yang akan Ia sampaikan, tapi ternyata hanya suara tangis yang sekencang-kencangnya dengan memanggil nama “Fitriiii”. Seketika akupun langsung terduduk lemas dan terkulai.
Ada apa, kenapa dengan Fitri? Kalimat jelas lagi dari teleponku, ” Fitri di Rumah sakit bu”. Tidak banyak tanya lagi aku menuju RS karena pikirku mungkin Fitri Kecelakaan motor. Dalam perjalanan masuk kembali telepon dari teman tadi menyampaikan, “Ibu Fitri sudah tidak ada, sudah pergi meninggalkan kita. Ya Allah ya Raab, sadis sekali cara Fitri pergi ibu”.
Innalilahi wainnailaihi rojiuunn. Perih mengiris hati, air mataku mengalir sepanjang jalan, tubuhku terasa tak bertulang menerima berita ini. Pikiranku tidak karuan lagi, jiwaku seperti kosong, dan batinku meringis. Aku terus mempercepat lajunya motorku untuk sampai di rumah sakit.
Pantas saja engkau tidak membalas chatting aku di jam 10.00 pagi tadi dek. Aku kirimkan engkau tulisan “Selamat Ulang Tahun Gadisku” di Bengkel Narasi, rumah jiwa kita yang setiap saat muncul tulisan-tulisan inspiratif dari keluarga BN yang mengangkasa. Tulisan pertamamu bahkan sampai menduduki posisi puncak lintasan menuli di BN.
Namun engkau tidak gubris hingga sore hari tiba, dan ini tidak seperti hari sebelumnya. Sore itupun engkau menutup mata untuk selamanya. Selamat jalan adikku, Amalmu sebagai Pendidik Anak Usia Dini (PAUD) selama 11 tahun akan terus mengalir untukmu. Tenanglah engkau di sisi-Nya, Setiap tetesan airmataku adaalah tasbih do’a untukmu. Itulah Agustus 2008 membahagiakanku, dan Agustus 2021 memilukan.
