(bukan) Jingga Penyulam Raya (Bag.3)
Malam sudah larut dari carut-marut jalangnya siang, namun matanya semakin menganga. Jingga menghela tubuhnya ke bangku bacaannya, diraihnya buku bercover merah kelam, "MARDILOG"nya Tan Malaka
Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil mengurus kehidupan. Menulis sambil berbagi.
Malam sudah larut dari carut-marut jalangnya siang, namun matanya semakin menganga. Jingga menghela tubuhnya ke bangku bacaannya, diraihnya buku bercover merah kelam, "MARDILOG"nya Tan Malaka
Baik, Dia adalah JINGGA, tapi bukan Jingga Si Penyulam Raya. Dia adalah sebatang tubuh muda perangkul cinta. Mudanya tak pernah gontai, pesonanya meletup-letup keubun para peri negeri belingkar.
Haluan telah menghantarnya dipuncak tertinggi Himalaya. Remang-remang dia menatap negeri diudik sana, negeri itu berkeluh kesah, negeri itu seperti melambai seakan berteriak "Jingga!!! Rawat kami dengan dengan nadi mu, bangunkan…