Oleh : Je Osland
Cinta,
Sudah lama tak menulis tentang cinta, bukan memudar apalagi melupa, tapi serasa sudah tak di masanya mungkin.
“……
Cinta seumpama mumbang jatuh,
Tua luluh muda tak tumbuh,
Hayalnya menggelegar laksana guruh,
Wujudnya mencucuk pemuja hingga terkapar rubuh….”
Baik,
Dia adalah JINGGA, tapi bukan Jingga Si Penyulam Raya. Dia adalah sebatang tubuh muda perangkul cinta. Mudanya tak pernah gontai, pesonanya meletup-letup keubun para peri negeri belingkar.
***
Petang telah memudarkan sengat, sengat mentari yang sudah berjaga sedari subuh. Jingga meronggok di pelupuh reot istana ibunda, konstruksi istana itu tak berkawat besi tapi dianyam dari otot-otot ayahanda petarung renta. Disamping pelupuh ada rerumput hijau menyilau, menyerupai jemari ayahanda yang mencakar bumi sungguh kuatnya.
Dengan tangan kanan, Jingga menggeranyangi buku bersampul usang, samar-samar terlihat judul buku dirayap kepinding “A Tale of Two Cities”, kidung asmara dalam degup revolusi Perancis. Sembari bersandar ke tonggak nibung, Jingga khusyuk membaca romantika cinta segitiga Lucie, Charles Darney dan Sydney Carton.
***
Sungguh pagi buta membekukan tulang, dibatang air kecil dionggokan batu alam, dia membaluri raga dengan dinginnya ufuk. Jingga Bersegera menuju bangku pemberi ilmu, dalam hayalnya bangku itulah yang akan melegitimasi cita mudanya.
Diruang bangku pemberi ilmu, Jingga melahap setiap ajar yang disuguh pengajar. Soalan sukar sekalipun dieksekusi lugas oleh benak Jingga.
“Ngga, selepas putih abu-abu ini, kemana riak akan berarak?” Tanya gadis semampai disela jeda istirahat sekolah. Ya…enam kali rotasi bulan, Jingga akan menyudahi pembelajarannya.
Jingga menghela tangan gadis semampai ketebing bukit belakang sekolah, dibawah beringin rimbun antara akar tiada bergetah, Jingga menunjuk padang ilalang.
“Liat kawanan kerbau itu! anak-anaknya mengekor kian kemari, mereka tak berniat memetik rumput bagi induknya. Kita… Ruh-ruh yang dibekali mimpi, jelas tidak akan serupa mereka…”Jingga melepas pegangan tangannya.
“Selepas ini, aku ingin membangunan konstruksi peradaban bumi. Aku ingin menjadi arsitektur, menanam tiang-tiang harapan bagi negeri belingkar”.
Jingga memang dekat dengan gadis semampai, tapi dia tak pernah berfikir akan cinta. Baginya cinta bagaikan angin Mamiri mendamai hati, laksana ombak berkelakar bermain, ibarat suguhan alam wahana setia. Namun jatuh cinta mampu memecah semua, persahabatan, akal sehat dan bangku pemberi ilmu. Cinta akan memperkenalkan rahasia, mengendapkan gelora, saling bersaing jika satu tuju.(Bersambung)
