Ada apa dengan bangsa kita? Alih-alih mereda, dagelan politik dan korupsi kian merajalela. Kaum kampret dan kaum cebong tak berhenti berseteru, apakah mereka masih tersisa sumbu? Goyang Tiktok dan memenuhi media sosial dengan narasi saling menghujat, apakah bangsa kita sudah kehilangan akal sehat?

Di negara ini, apakah hanya Rocky Gerung yang berakal sehat? Tentu tidak. Hanya saja yang lainnya tidak tahu bagaimana membangun akal sehat dalam keseharian. Dari rangsang yang diterima oleh pancaindra hingga tindakan yang kita ambil sebagai bentuk responnya, harus ada akal sehat yang hadir sebagai processor.

Apakah itu sulit? Tentu tidak. Mulailah dari tiga hal kecil berikut ini agar kita tidak lupa bahwa kita punya akal sehat.

Pertama, bandingkan risiko dan manfaat dari keputusan sebelum memilih apa yang harus dilakukan. Lihatlah hasil positif dan negatif yang bisa datang dari keputusan yang kita buat. Kita bisa melakukannya secara mental jika kita perlu membuat keputusan cepat, atau kita dapat menuliskan daftar pro dan kontra untuk menentukan apa yang terbaik untuk kita lakukan. Pertimbangkan pilihan kita untuk melihat pilihan mana yang akan memberi kita hasil terbaik.

Kedua, percaya pada perasaan awal kita sehingga kita tidak terlalu banyak menganalisis berbagai hal. Terkadang, reaksi naluriah mungkin yang terbaik untuk kita lakukan. Kapan pun kita dihadapkan pada suatu keputusan, perhatikan apa naluri atau jawaban pertama kita. Pikirkan tentang konsekuensi baik atau buruk apa yang bisa datang dari keputusan tersebut. Jika keputusan tersebut tampak seperti yang terbaik, maka lakukanlah. Ini bukan berarti kita harus membuat keputusan yang impulsif. Tetap luangkan waktu untuk mempertimbangkan hasil negatif apa yang mungkin terjadi karena keputusan yang kita buat.

Ketiga, lihatlah situasi kita dari perspektif lain untuk memikirkannya dengan jelas. Kita mungkin memperhatikan bahwa tampaknya lebih mudah memberi nasihat kepada seorang teman daripada memberi tahu diri sendiri tentang hal yang sama. Saat kita dihadapkan pada keputusan yang sulit, mundurlah dan anggaplah kita sedang memperhatikan orang lain dalam situasi kita. Pikirkan tentang apa yang akan kita sampaikan kepada mereka berdasarkan keputusan paling cerdas atau terbaik untuk mereka. Jika keputusan adalah sesuatu yang tidak boleh kita perintahkan kepada teman, kita juga tidak boleh melakukannya.

Mudah, bukan? Ayo coba terapkan dalam keseharian. Satu hari satu perbaikan, hingga kita lupa bahwa kita pernah kehilangan akal sehat. []

(Visited 49 times, 1 visits today)

By Iyan Apt

Writerpreneur, dan Book Publisher @ Elfatih Media Insani

One thought on “Mengembalikan Akal Sehat”
  1. Menginspirasi. …
    Satu hari satu perubahan agar kita tidak merasakan pernah kehilangan akal sehat…
    Salam Akal Sehat….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: