Oleh: Gusnawati Lukman
Hari ini adalah jadwal vaksinasi COVID-19 aku yang kedua. Perasaan was-was, khawatir, deg-degan bercampur menjadi satu. Apalagi setiap hari aku selalu membaca status teman-teman di media sosial yang terkadang membuat hati aku ingin menghindar akibat hal-hal negatif yang timbul setelah vaksinasi itu. Tapi aku ingat satu hal, bahwa kalau kita selalu berpikir negatif, maka akan menarik juga energi negatif. Begitu pula sebaliknya. Jadi, selalu berpikir positif saja.
Dengan mantap kulangkahkan kakiku menuju Puskesmas tempat aku nanti divaksin. Sudah banyak orang yang duduk mengantre. Kuperhatikan sosok dan raut muka mereka satu-persatu. Sedikit pun tidak nampak kerisauan ataupun kecemasan. Mereka saling bercanda dengan teman duduknya. Dari pembicaraan yang aku dengar, mereka pada umumnya menjalani vaksin COVID-19 ini dengan penuh kesadaran diri. Mereka ingin tubuhnya kuat, jiwanya sehat, dan hatinya tenang. Tidak ada yang perlu mereka risaukan. Pandemi ini telah membuyarkan banyak harapan mereka. Pandemi ini harus segera diakhiri dengan kesadaran diri untuk memutus mata rantai penyebarannya.
Kita awalnya sangat lalai dengan segala hal yang terjadi. Menganggap enteng semua tentang virus kecil yang mematikan ini. Kita cuma menganggap remeh aturan social distancing, physical distancing, lockdown, dan PSBB. Bagi kita, semuanya baik-baik saja. Kita beraktivitas tanpa peduli dengan adanya pembatasan jarak, protokol kesehatan, dan aturan lainnya. Sampai akhirnya, berita tentang wabah ini sudah mulai berseliweran di media -media cetak, media daring, maupun media sosial lainnya. Semuanya menjadi stres, menggigil, dan sesak mengingat dampak dari penyebaran virus kecil.
Akibat dari wabah COVID-19 ini berimbas pada semua aspek. Aspek ekonomi, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya. COVID-19 telah membuat perekonomian dalam negeri kita kontraksi. Gelombang PHK merajalela, pengangguran, inflasi, serta pendapatan negara dan masyarakat anjlok ke titik terendah. Dunia pendidikan bergejolak. Proses pembelajaran terhenti. Tidak ada lagi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didiknya. Kalau berhitung dari awal terjadinya pandemi ini, sudah lebih dari satu tahun pembelajaran berlangsung secara daring dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Namun, tidak perlu kita terlalu jauh lagi mengingat semuanya. Kini vaksin untuk mencegah semakin meluasnya wabah ini sudah tersedia. Bersyukurlah kita sebagai masyarakat biasa juga sudah tiba gilirannya untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19, meskipun kita harus menunggu para pejabat-pejabat kita terlebih dahulu. Kesadaran diri sangat diperlukan. Pandemi ini belum berakhir. Sudah mulai lagi muncul jenis baru yang lebih berbahaya. Jaga diri dan keluarga kita dengan mematuhi segala aturan. Patuhi protokol kesehatan. Mari kita semakin mendekatkan diri kepada Sang khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa. Berserah diri agar wabah ini cepat berakhir, agar kita dapat merenda asa dan merajut kembali mimpi-mimpi indah kita yang sempat pupus.
Wabah ini merupakan pembelajaran bagi kita bahwa di atas langit masih ada langit. Kesombongan dan keangkuhan kita tidak ada artinya. Hanya sekali libas oleh virus yang tak kasat mata, luluh lantak, tak berarti.
Dan sejatinya aku bangga karena aku sudah divaksin.
Yes, Sudah ma di vaksin.
Watansoppeng, 3 Mei 2021
