Setelah lulus masa Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, maka buah hati akan mulai diperkenalkan atau belajar makan selain ASI. Inilah yang disebut dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Meskipun demikian, perlu diingat bahwa ASI harus tetap diberikan sampai anak berumur 24 bulan.
MPASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju makanan yang semipadat. Pengenalan dan pemberian MPASI harus dilakukan secara bertahap, baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Di masa inilah ibu perlu berhati-hati dalam memilih bahan makanan, bumbu, variasi atau keanekaragaman bahan makanan, mengolah makanan, memberikan makanan, dan kebersihan dari mulai persiapan, pengolahan, dan pemberian makan pada buah hati.
Sitompul (2014) menjelaskan bahwa ASI hanya memenuhi kebutuhan gizi bayi sebanyak 60% pada bayi usia 6-12 bulan. Sisanya harus dipenuhi dengan makanan lain yang cukup jumlahnya dan baik gizinya . Oleh sebab itu, pada usia 6 bulan ke atas, bayi membutuhkan tambahan gizi lain yang berasal dari MPASI.
Bahan makanan yang diberikan tetap harus berpedoman pada gizi seimbang yang terdiri dari makanan pokok sebagai sumber energi (misal nasi, bubur, atau kentang), protein hewani (misal daging ayam, daging sapi, atau ikan) dan protein nabati (misal kacang-kacangan, tempe, atau tahu), sayur-sayuran (misal bayam, wortel, atau labu siam), buah (misal pisang, alpukat, atau jeruk baby). Pemilihan bahan makanan harus disesuaikan dengan kemampuan saluran cerna anak yang belum sempurna. Setelah masa ASI eksklusif, pada tahap awal pemberian MPASI diberikan dengan konsistensi cair. Makanan cair yang diberikan biasanya dipilih bahan makanan buah, disajikan dalam sari buah, seperti sari buah pepaya atau sari buah melon. Jumlah porsi diberikan sedikit demi sedikit sesuai kemampuan anak.
Tahap berikutnya meningkat menjadi makanan lumat. Pada tahap ini, anak mulai diperkenalkan dengan sumber karbohidrat, dapat disajikan dalam bubur saring manis atau tawar, misalnya bubur saring labu kuning atau bubur saring nasi wortel. Secara perlahan kemudian dapat ditambahkan sumber protein yang tidak menimbulkan alergi. Kacang-kacangan dan ikan laut sebaiknya dihindari di usia 6-10 bulan atau diberikan dalam porsi yang bertahap sambil diamati reaksi alergi yang mungkin muncul.
Pada tahap selanjutnya dapat diberikan makanan lunak. Selain kemampuan anak untuk mengunyah dan mencerna semakin meningkat, kemampuannya untuk menerima porsi makanan pun akan meningkat. Pilihan bahan makanan pun dapat diberikan kombinasi yang terdiri dari 3-4 bahan makanan, misalnya (1) bubur ayam, tahu, dan bayam atau (2) schotel kentang, daun kelor, dan keju.
Pada tahap Makanan Biasa, anak sudah dapat diberikan menu keluarga, seperti nasi, bola-bola daging dan daun kelor, tahu pepes, dan sup sayuran. Pemberian menu keluarga bagi anak harus tetap memperhatikan potongan daging lebih kecil (digiling) atau sayuran dipotong kecil agar si kecil dapat mudah mengunyah. Secara perlahan, kemampuan makan anak akan meningkat seiring pertumbuhan dan perkembangan keterampilan makannya.
Bumbu yang digunakan sebaiknya dipilih yang alami, seperi bawang putih, bawang merah, bawang bombay, jahe, pala, daun bawang, seledri, daun salam, lengkuas, dan kunyit. Jika harus menggunakan bumbu yang merangsang saluran cerna seperti merica, gunakan sedikit aja. Apalagi cuka, cabe rawit, dan cabe, sebaiknya tidak diberikan dulu.
Buah dipilih yang rasanya tidak asam, seratnya tidak terlalu tinggi, dan tidak mengandung gas. Sebaiknya dihindari pemberian buah jeruk atau mangga yang asam, salak, sirsak, manggis, durian, dan nangka.
Kelor sebagai bahan makanan yang tinggi zat gizi dan mampu meningkatkan imunitas tubuh, menjadi bahan makanan yang sangat direkomendasikan untuk membuat Makanan Pendamping ASI (MPASI).
Susilowati, dkk, 2020.
Agar pertumbuhannya optimal, terhindar dari berbagai penyakit infeksi, status gizi baik, dan cerdas, kelor dapat disisipkan dalam berbagai makanan sajian untuk si kecil. Dengan demikian, nilai gizi makanan akan meningkat, khususnya kandungan asam amino, vitamin C, vitamin A, dan kalium yang sangat baik untuk pertumbuhan anak.


Berbagai resep disajikan menggunakan kelor. Mulai dari hidangan makanan pokok, lauk, sayur, makanan selingan, sampai dengan jus dan puding. Nilai gizi per porsi pada contoh menu berikut merupakan estimasi yang dihitung berdasarkan perangkat lunak Nutrisurvey 2007. Dapatkan semua di buku “Masih tentang Kelor”. []

