Final Piala Dunia (PD) seharusnya menyuguhkan pertandingan yang luar biasa, mempertemukan peringkat elit FIFA, Argentina Spanyol. Sebelum pertandingan, media sosial cukup ramai dipenuhi dengan analisis, prediksi, juga meme. Karena para pendukung saling kubu-kubuan, maka ungkapan pro kontra pun ikut memenuhi ruang dunia maya.

Sayang sekali, riuh rendah di media sosial tidak diikuti pertandingan final yang menarik. Kenyataan bahwa ini final kejuaraan tingkat dunia tidak seseru jalannya pertandingan, yang maaf, lebih didominasi salah satu finalis, yaitu Spanyol. Bola lebih banyak di kaki pemain La Furia Roja, sehingga secara keseluruhan mereka menguasai pertandingan sampai 68 persen. 

 Statistik pertandingan menunjukkan sampai menit ke-114 Spanyol mencatatkan 18 tembakan di mana 10 di antaranya mengarah ke gawang Argentina dan 1 jadi gol. Di sisi lain Argentina nol tembakan. Ferran Torres mengubah kedudukan menjadi 1-0 pada menit 106. Di sini para pemain Argentina kelihatan masih belum sadar berada di ambang kekalahan. Atau berusaha kelihatan tenang agar tidak panik.

Di menit 114, atau sisa 6 menit di perpanjangan waktu, mereka baru kelihatan berusaha menunjukkan perlawanan. Seakan ingin menyampaikan kepada dunia bahwa mereka pernah melakukan hal yang sama sebelumnya saat melawan Cabo Verde, Mesir, dan Inggris. Yaitu membalikkan keadaan di menit akhir. Dan membuktikan bahwa, untuk hasil pertandingan Argentina, tontonlah sampai peluit panjang berbunyi.

Sayang sekali, yang dihadapi adalah Spanyol, tim yang mayoritas pemainnya bertahun-tahun bermain dengan Lionel Messi dalam satu laga. Tembakan melambung Messi di menit ke-114, diikuti dengan dua tembakan selanjutnya yang semuanya melebar. Bahkan perangkat pertandingan memberikan waktu lebih 5 menit. Artinya setelah sadar apa yang terjadi, Argentina punya waktu 11 menit untuk membuka peluang adu penalti.

Hasil berpihak kepada Spanyol, kedudukan tetap 1-0 hingga akhir. Argentina yang setelah semi final sempat naik masing-masing satu level, yaitu Argentina ke peringkat 1 FIFA dan Spanyol di peringkat 2, setelah final ini mereka bertukar posisi.

Lalu terkait dengan judul tulisan ini, apa sebenarnya yang terjadi? Argentina yang juara pada PD 2022 Qatar, lalu lolos di babak grup PD 2026 dengan 3 kemenangan dan 8 gol, serta tiga kali melakukan comeback mengesankan yaitu di babak 32, 16 dan semi final, namun kalah secara memalukan di final.

Kenyataan ini kemudian seolah-olah membenarkan asumsi bahwa mereka lolos dari hadangan Cabo Verde, Mesir dan Inggris karena dibantu pihak lain. Bahwa permainan mereka hanya bagus saat main babak grup dan di perempat final melawan Swiss. Bahwa Mesir lebih layak berada di semi final menghadapi The Three Lions. Dan sejumlah asumsi serta spekulasi lainnya, yang semua itu perlu pembuktian.

Dari aspek hiburan, sebagian pemerhati dan penikmat sepakbola, terutama yang dituduh fans CR7, menilai Argentina sudah layak tersingkir saat menghadapi Mesir di 16 besar. Namun Piala Dunia bukan hanya tentang hiburan. Ini adalah event dunia yang melibatkan berbagai kepentingan, dan banyak pihak. Bahkan hidup mati seseroang bisa tergantung pada hasil sebuah pertandingan.

Namun membandingkan Argentina dan Mesir, ibarat langit dan bumi. Not apple to apple. Perbedaannya jomplang. Ini bisa dibuktikan dengan banyak fakta.

Bicara sejarah, Argentina sudah 19 kali bermain di Piala Dunia dan keluar sebagai juara sebanyak 3 kali. Yaitu PD 1978 saat jadi tuan rumah, 1986 di Meksiko dan 2022 di Qatar. Bandingkan dengan Mesir yang baru 4 kali lolos yaitu 1934 dan 1990 di Italia, 2018 di Rusia dan 2026.

Kemudian bintang lapangan saat ini. Ambil masing-masing salah satu, yaitu Lionel Messi dan Mohammad Salah. Prestasi mereka baik secara pribadi maupun tim dan negara juga tidak layak dibandingkan. Messi memperoleh Ballon d’Or (prestasi individu tertinggi) sebanyak 8 kali. Dia membawa negaranya juara PD 2022. Mo Salah, di sisi lain, namanya memang mentereng di level klub, bersama Liverpool. Namun penghargaan individu tertinggi yang diraihnya adalah pencetak gol terbanyak di Liga Inggris sebanyak 4 kali, yaitu 2018, 2019, 2022 dan 2025. Bersama Mesir, ia ‘hanya’ mampu runner up dua kali Piala Afrika, yaitu 2017 dan 2021.

Berdasarkan dua realita ini, mungkin saja benar jika menyebut banyak pihak berkepentingan yang membantu Argentina di atas Mesir. Amerika sebagai tuan rumah jelas lebih banyak mendapatkan keuntungan jika Argentina di final dibanding Mesir. Lebih banyak penonton, karena meskipun kontroversial, Tim Tango lebih punya nama dibanding negara asal para nabi dan rasul itu. Dan FIFA, ah sudahlah.

Namun, apakah semua itu ada hubungannya dengan lolosnya La Albiceleste ke final Piala Dunia 2026, ternyata tulisan ini tidak sanggup menjawabnya. Mungkin perlu skripsi untuk menemukan jawaban itu.

Tulisan ini bukan justifikasi terhadap tim nasional tertentu, karena penulis bukan fans murni salah satu dari mereka. Penulis adalah Milanisti sejak 1989 sampai sekarang, dan nanti. Jadi di Piala Dunia 2026, dukungan penulis ada di 8 negara. Yaitu Perancis, Belgia Portugal, Swiss, USA, Kroasia, Meksiko dan Ekuador.

Selamat berbahagia kepada para pendukung Spanyol. Selamat bagi para pendukung Kylian Mbappe. Untuk pendukung Argentina dan Lionel Messi, tolong judul tulisan ini jangan diambil hati.

Sampai ketemu di Spanyol, Portugal dan Maroko pada Piala Dunia 2030.

Paser, Kalimantan Timur, 20 Juli 2026

(Visited 24 times, 24 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.