Oleh: Dr.Ir.Baharuddin Burhan, M.Si.,M.M., M.H.,CEIA.,IPU.ASEAN, Eng
Malino, Kabupaten Gowa, merupakan salah satu kawasan hortikultura dataran tinggi yang memiliki nilai strategis dalam mendukung penyediaan sayuran di kawasan Indonesia Timur. Kondisi iklim pegunungan, curah hujan yang relatif tinggi, suhu yang sejuk, serta tanah yang subur telah membentuk agroekosistem yang sangat sesuai untuk pengembangan berbagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi seperti kentang, wortel, kol, kubis, tomat dan beberapa jenis komoditi lainnya.
Keunggulan biofisik dataran tinggi Malino, mendorong berkembangnya sistem pertanian yang semakin intensif untuk memenuhi peningkatan permintaan pasar. Namun, keberhasilan peningkatan produksi tersebut mulai dihadapkan pada persoalan yang lebih mendasar, yaitu menurunnya daya dukung lingkungan akibat praktik budidaya yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip keberlanjutan dan kaidah konservasi lahan.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas sebagian besar masih bergantung pada tingginya penggunaan input eksternal. Petani umumnya mengombinasikan pupuk organik/kotoran hewan dalam jumlah besar dengan pupuk anorganik untuk mempertahankan pertumbuhan tanaman, sementara pengendalian organisme pengganggu tanaman masih didominasi oleh penggunaan pestisida sintetis.
Pada beberapa kasus, petani mencampurkan hingga lima sampai tujuh formulasi pestisida dalam satu tangki semprot dengan tujuan memperoleh spektrum pengendalian yang lebih luas. Pendekatan tersebut memang dapat memberikan manfaat ekonomi dalam jangka pendek melalui penurunan kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit, tetapi pada saat yang sama meningkatkan ketergantungan sistem produksi terhadap input kimia.
Ketergantungan terhadap input eksternal menjadi semakin kompleks karena sebagian kegiatan budidaya dilakukan pada lahan dengan kemiringan lebih dari 25%, bahkan pada beberapa lokasi tanpa penerapan teknik konservasi tanah dan air seperti terasering, guludan mengikuti kontur, saluran pembuangan air, tanaman penutup tanah, maupun pagar vegetatif. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara karakteristik biofisik lahan dengan teknik budidaya yang diterapkan. Pada wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Malino, lereng curam tanpa tindakan konservasi memiliki kerentanan yang tinggi terhadap erosi. Akibatnya, setiap kejadian hujan tidak hanya mengangkut partikel tanah, tetapi juga bahan organik, nitrogen, fosfor, serta residu pestisida yang telah diaplikasikan di lahan.
Fenomena tersebut menimbulkan paradoks dalam sistem produksi hortikultura. Di satu sisi petani meningkatkan dosis pupuk untuk memperbaiki kesuburan tanah, tetapi di sisi lain sebagian unsur hara tersebut justru hilang bersama limpasan permukaan akibat erosi. Dengan demikian, efisiensi pemupukan menjadi rendah karena tidak semua unsur hara dimanfaatkan oleh tanaman. Kondisi serupa juga terjadi pada penggunaan pestisida. Sebagian pestisida yang diaplikasikan tidak mencapai organisme sasaran, tetapi terbawa oleh air hujan menuju saluran drainase, sungai, dan badan air. Akibatnya, efektivitas pengendalian hama menurun, sementara beban pencemaran lingkungan justru meningkat.

Dari perspektif agroekologi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata tingginya penggunaan pupuk atau pestisida, melainkan menurunnya efisiensi sistem produksi secara keseluruhan. Ketika kesuburan tanah terus menurun akibat erosi, petani terdorong meningkatkan penggunaan pupuk. Ketika keseimbangan ekosistem terganggu dan populasi musuh alami menurun akibat penggunaan pestisida yang intensif, tekanan organisme pengganggu tanaman meningkat sehingga frekuensi penyemprotan kembali bertambah. Siklus tersebut membentuk vicious cycle atau lingkaran degradasi, yaitu semakin tinggi degradasi lahan, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap input kimia, yang pada akhirnya semakin mempercepat degradasi lingkungan.
Analisis lingkungan menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya perilaku penggunaan input, melainkan melemahnya fungsi ekologis agroekosistem sebagai penyangga produktivitas. Aspek kesehatan kerja petani memperlihatkan persoalan yang sama seriusnya. Berdasarkan hasil pengamatan, penggunaan alat pelindung diri (APD) saat pencampuran maupun aplikasi pestisida masih belum memadai. Sebagian petani hanya menggunakan masker sederhana tanpa sarung tangan tahan bahan kimia, pelindung mata, pakaian pelindung, maupun sepatu bot. Selain itu, masih ditemukan praktik pembuangan sisa larutan pestisida dan pencucian tangki semprot di sekitar lahan atau saluran air.
Praktik-praktik tersebut meningkatkan peluang paparan pestisida melalui kulit, saluran pernapasan, dan mata, sekaligus memperluas jalur kontaminasi ke lingkungan sekitar. Menurut WHO, pekerja pertanian merupakan kelompok dengan risiko paparan pestisida tertinggi sehingga penggunaan APD, pengelolaan limbah pestisida, dan kepatuhan terhadap praktik penggunaan yang benar merupakan komponen penting dalam perlindungan kesehatan kerja.
Persoalan berikutnya berkaitan dengan keamanan pangan. Intensifikasi penggunaan pestisida yang tidak diikuti kepatuhan terhadap dosis, frekuensi aplikasi, kompatibilitas formulasi, dan interval pra-panen (pre-harvest interval) meningkatkan potensi residu pestisida pada produk hortikultura. Demikian pula pemupukan nitrogen yang berlebihan dapat meningkatkan akumulasi nitrat pada beberapa jenis sayuran daun. Risiko tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan konsumen, tetapi juga berdampak terhadap daya saing produk hortikultura di pasar modern yang semakin menuntut jaminan keamanan pangan.
Lembaga pangan dan kesehatan dunia, FAO-WHO melalui Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues (JMPR), secara rutin mengevaluasi residu pestisida, menetapkan Acceptable Daily Intake (ADI), Acute Reference Dose (ARfD), dan memberikan dasar ilmiah bagi penetapan Maximum Residue Limits (MRLs) sebagai instrumen perlindungan kesehatan konsumen dan perdagangan pangan internasional.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, persoalan hortikultura di Malino tidak dapat diselesaikan hanya melalui peningkatan produktivitas atau penambahan input produksi. Yang diperlukan adalah transformasi sistem budidaya menuju pendekatan agroekologi yang menempatkan konservasi tanah dan air, efisiensi penggunaan hara, Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan APD yang memadai, pengelolaan limbah pestisida, serta pemantauan residu pangan sebagai satu kesatuan sistem. Keberhasilan hortikultura pada masa depan tidak lagi hanya diukur dari tingginya hasil panen, tetapi juga dari kemampuannya menjaga fungsi ekologis lahan, melindungi kesehatan petani, menghasilkan pangan yang aman bagi konsumen, dan mempertahankan produktivitas sumber daya alam bagi generasi mendatang.
Menurut penulis, agar artikel ini benar-benar kuat untuk jurnal, masih ada satu aspek yang perlu ditambahkan, yaitu analisis sosial-ekonomi. Misalnya, mengapa petani tetap menggunakan banyak pestisida?, apakah karena tekanan tengkulak, tuntutan pasar terhadap penampilan sayuran, kurangnya penyuluhan, mahalnya tenaga kerja, atau persepsi bahwa semakin banyak pestisida semakin tinggi hasil panen. Pembahasan tersebut akan membuat artikel tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa praktik tersebut terus berlangsung. Itu biasanya menjadi pembeda antara artikel yang baik dan artikel yang sangat kuat.
Ancaman tersembunyi terhadap keberlanjutan agroekosistem, kesehatan petani, dan keamanan pangan dengan sistem pertanian intensif tanpa keseimbangan lingkungan di Malino akan semakin nyata potensinya menciptakan degradasi dan penurunan mutu lingkungan. Risiko daya dukung lingkungan yang terus merosot, tentunya akan berdampak terhadap kelestarian budidaya tanaman yang sehat, aman dan bertanggungjawab maupun sistem produksi pangan ikut terpengaruh secara menyeluruh.
Malino, 18 Juli 2026
*Akademisi, Praktisi, dan Konsultan Proyek Lingkungan, Pertanian, Sipil dan Hukum
