Catatan Besse Rismawati*

Saat menulis catatan batin ini, puasa tinggal seminggu lagi. Sehabis salat Subuh, tiba-tiba memori masa kanak-kanaku mengalir masuk dalam jiwaku. Mataku pun basah merangkai begitu banyak episode suka dan duka mengenang masa-masa dalam pertumbuhanku.

Ada rasa yang selalu muncul di relung-relung hatiku. Rasa sedih, senang, dan bahagia bergantian memenuhi ruang jiwaku. Sebagaimana biasanya setiap jelang lebaran, memoriku dipenuhi kenangan ketika berada pada suatu titik tercabutnya harapan dari akar hatiku.

Harapanku pupus tatkala ayah meninggalkanku untuk selamanya menghadap Ilahi Robbi. waktu itu, aku masih di bangku SMP kelas 1. Aku lebih banyak diam sambil menghapus air mata melihat jenazah ayahku. Satu-satunya kalimat yang bisa terucap, “Etta, aku tidak bisa sekolah lagi…” Ya Allah ya Rabb, apakah aku bisa melanjutkan sekolah lagi tanpa Ettaku (Ayahku), lanjutku membatin.

Tiada kalimat lain yang bisa kuucap setengah berbisik selain itu. Betapa tidak, sosok ayah yang selalu jadi panutan di desa tempat kelahiranku, desa yang terbentang luas persawahan, desa yang rindang, aman dan damai. Adalah “Mattoanging”, sebuah lingkungan yang berada di Kelurahan Minangae, Kecamatan Sajoangin, Kabupaten Wajo, menjadi tempatku dilahirkan dan bertumbuh dalam kasih ayah. Sosok ayah yang hebat dan tangguh selalu terbayang setelah kepergiannya.

Waktu SMP aku mengayuh sepeda setiap hari menuju sekolah. Tidak jarang juga diantar dengan motor tua Yamaha warna merah milik Ayah. Sambil membocengku, sesekali ayah berkata, “Aku akan menyekolahkanmu sampai di manapun, Nak!”

Namun ayah tiba-tiba pergi begitu cepat. Kepergiannya yang begitu mendadak membuatku marasa sangat kehilangan. Ayah pergi tidak dalam keadaan sakit lama. Ayah pergi seketika tanpa ada tanda-tanda. Aku yang seusia itu masih belum paham apa-apa, belum mengerti getirnya hidup.

Kalimatku itu terus kuingat tatkala mata ayah tertutup untuk selamanya di hadapanku. “Etta….Aku tidak bisa sekolah lagi.”

Lagi-lagi air mataku tumpah mengingat kalimatku itu. Saat itu, biaya sekolah masih mahal. Aku membayangkan ibuku seorang diti tidak akan sanggup membiayai sekolahku, terlebih dengan ketiga adik-adikku yang masih kecil.

Saat itu, aku merasa seperti sebuah layang-layang yang terbang namun tiba-tiba terputus talinya. Kehilangan arah, lalu jatuh ambruk ke bumi. Aku tidak bisa lagi melanjutkan sekolah ke SMA karena keterbatasan biaya. Ayah tidak meninggalkan warisan apa pun. Satu-satunya warisan yang ditinggal ayah untukku adalah “semangat dan kerja keras”.

Aku pun mulai berdamai dengan kenyataan hidup. Empat tahun tidak merasakan duduk di bangku sekolah, tetapi aku tetap memelihara dan memupuk satu-satunya warisan dari ayahku itu. Karena warisan itulah aku tidak pernah berhenti belajar dari pengalaman dan lingkunganku.

Melihat semangat belajarku tidak pernah padam, ibuku terus berusaha diam-diam mencari jalan bagaimana caranya agar aku bisa sekolah. Ketika ada kabar sekolah Paket C, segera saja ibu mendaftarkanku.

Syukurku tiada tara kepada Allah Swt karena pada akhirnya aku bisa mendapatkan ijazah setara SMA. Waktu terus berjalan dari masa ke masa, aku pun sudah sibuk dengan kegiatan-kegiatan masyarakat di lingkunganku. Aku belajar banyak hal, hingga aku sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.

Sepuluh tahun aku berumah tangga, ternyata Allah Swt mengijabah doa-doaku selama ini. Allah Swt membukakkan ruang untukku menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sebuah PTN yang berada di Sulawesi Tenggara, USN Kolaka saat itu. Aku kuliah dengan biaya keluarga sendiri, meski sebelumnya tidak banyak dukungan karena melihat keadaan keluarga kecilku yang masih serba kekurangan. Namun, dengan niat dan tekadku yang kuat, akhirnya bisa mendapatkan gelar sarjana seperti harapan ayahku. []

*Penulis adalah pegiat literasi di Kolaka Utara.

(Visited 190 times, 1 visits today)
2 thoughts on “Aku Tidak Bisa Sekolah Lagi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.