Listen, behind the factory noises of your panic

The birds are singing again

The Sky is clearing,

Spring is coming,

And we are always encompassed by Love.

Kutipan di atas dari sebuah puisi berjudul ” Lockdown” yang ditulis oleh Richard Hendrick. Puisi ini adalah sebuah refleksi yang dengan sangat pas menggambarkan situasi pandemi Covid-19. Ia melihat sebuah gambar besar, bukan gambar sempit. Saat kita bisa melihat gambar besar atas suatu situasi krisis, kita tidak akan terjebak pada pola pikir sempit yang semakin mempersempit ruang gerak kita. Menurut John C. Maxell, melihat gambar kecil membuat kita cenderung bersikap egois, merasa menjadi korban dan biasanya lalu menyalahkan orang lain. Melihat gambar besar memampukan kita menemukan kesejatian diri sebagai manusia dengan alam semesta, akhirnya Tuhan. Ia juga mengingatkan kita bahwa krisis datang untuk memaksa manusia berubah. Tanpa krisis, manusia tidak akan pernah mau berubah. Krisis memaksa orang melakukan sesuatu ( hal yang baik) yang selama ini hanya ada di angan-angan. (Wakidi Steve,2020).

Artikel ” Asa Di Balik Pandemi Covid-19″, dimuat dalam buku ” Menyukat Kesemenjanaan Kita “. Buku kumpulan artikel ini adalah berisi tulisan-tulisan refleksi atas pandemi corona, yang terbit Juni 2020.

Asa Di Balik Pandemi Covid -19

Badai virus corona pasti berlalu. Itulah sekelumit kalimat yang selalu keluar keluar dari mulut mungil tak berdosa anak-anak didik di sekolah, sebelum mereka dirumahkan. Begitu optimis tanpa mengetahui bahwa ini adalah sesuatu yang mengharuskan semua mengeluarkan energi super ekstra untuk menghambat penyebarannya.

Awalnya wabah ini dianggap sepele. Tidak terlalu dipermasalahkan. Tidak ada istilah social distancing, physical distancing, lockdown, apalagi yang namanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Semuanya baik-baik saja. Anak-anak datang ke sekolah dengan riangnya. Belajar dan berlatih bersama berbagai kegiatan sekolah, menempa fisik, membentuk karakter, agar kelak menjadi insan yang berilmu dan beradab.

Kami sebagai abdi negara menjalankan tugas mentransfer ilmu dengan tulus dan penuh dedikasi, tanpa ada opini negatif tentang wabah yang keren dengan sebutan Covid – 19. Kami beraktivitas tanpa peduli dengan adanya pembatasan jarak dengan rekan-rekan kami. Anak-anak bersenda gurau dengan kelompoknya tanpa ada jarak yang membatasi. Tidak peduli teman mereka ada yang baru pulang dari bepergian di kota lain. Tidak ada prasangka sedikit pun bahwa teman mereka yang baru bepergian ini akan menularkan virus yang sangat berbahaya. Guru- guru bersenda gurau tanpa alat pelindung diri (APD). Semua berjalan alami.

Tak terbayangkan, tersentak , terhenyak, seakan baru bangun dari tidur yang panjang, tiba-tiba sesuatu yang maha dahsyat terjadi. Menghantam, meluluhlantakkan semua kuasa, mimpi, dan harapan yang selama iini kami rajut dengan indahnya. Makhluk kecil itu telah membuyarkan mimpi-mimpi kami sebagai abdi negara, dan mimpi para siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Sampai akhirnya, berita tentang wabah ini sudah berseliweran di media-media cetak, media online maupun media sosial lainnya. Semua menjadi stress, menggigil, dan sesak mengingat dampak dari penyebaran virus kecil ini. Kecil tetapi mematikan, membuat kita tak berdaya apabila terjangkit olehnya. Opini-opini mulai bermunculan. Mulai dari yang menanggapinya secara santai, serius sampai yang menakutkan. Tak terkecuali berita hoaks yang menyesatkan. Semuanya tak terkendali menyebarkan berita tentang wabah virus kecil nan mematikan ini.

Imbas dari semuanya adalah diberhentikannya pembelajaran di sekolah-sekolah. Peserta didik dan guru-guru di rumahkan. Tidak ada lagi interaksi secara langsung di antara kami sampai batas waktu yang tidak menentu. Regulasi berubah setiap saat. Anak-anak harus belajar secara online dengan bimbingan gurunya. Ujian-ujian pun juga berlangsung secara online. Peran guru sedikit demi sedikit tergantikan oleh peran orang tua di rumah. Tetapi sayang, baru beberapa saat kegiatan itu berlangsung, para orang tua sudah mengeluh. Mereka sekarang menyadari betapa besar dan berartinya peran seorang guru bagi kelangsungan pendidikan putra-putri mereka. Anak-anak pun tanpa terkecuali, mulai merasakan kerinduan berkumpul bersama teman-teman mereka. Rindu senda gurau, tawa canda, dan riuhnya suasana kelas. Rindu bapak guru yang tegas, tetapi baik hati. Rindu ibu guru yang cantik-cantik, tetapi terkadang cerewet.

Para guru selalu punya waktu, selalu siap sedia menampung keluhan mereka. Membelai dan mengelus kepala mereka dengan penuh kasih sayang dan cinta. Hal ini berbeda dengan orang tua, yang kadang-kadang kurang memahami dan mengerti jiwa mereka. Bagi mereka, bapak dan ibu guru di sekolah tak bisa tergantikan dengan teknologi secanggih apa pun. Ilmu dapat dicari di google, tetapi mereka butuh keteladanan yang didapatkan dari guru- guru mereka. Setiap saat pimpinan sekolah, para guru memberikan wejangan yang selalu mereka nanti- nantikan. Petuah seorang guru tidak akan mereka lupakan sepanjang hidup mereka. Mereka sadar bahwa pandemi ini harus dilawan. Jangan berputus asa, harapan selalu terbentang. Semua harus sadar bahwa pandemi ini cara Tuhan menegur umat manusia yang kadang sudah di luar batas.

Anak-anak sudah dikembalikan ke lingkungannya. Lingkunganlah nanti yang akan mengajarkan mereka cara bertahan di balik wabah pandemi covid – 19. Sekolah sudah memberikan banyak bekal untuk menghadapi semuanya. Pimpinan sekolah selalu mengimbau mereka untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, dengan rajin salat, baca Al qur’an, menjaga kebersihan diri, keluarga dan lingkungan, pakai masker sebagai pelindung diri, selalu menjaga jarak dengan teman atau pun dengan yang lainnya, selalu menjaga kesehatan dengan makan makanan bergizi, konsumsi vitamin untuk menjaga imunitas tubuh agar fisik tetap kuat.

Dengan adanya surat edaran pemerintah setempat tentang pemberhentian kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah, kami sebagai guru pun kembali ke lingkungan masing-masing sebagai warga masyarakat biasa. Kami mulai menjalani hari-hari bersama keluarga di rumah. Memupuk cinta, kasih dan sayang, yang selama ini terabaikan karena banyaknya tugas yang harus diselesaikan. sekarang sudah ada waktu untuk berbenah di rumah. Membersihkan kolong-kolong rumah yang sudah berdebu dan penuh dengan sarang laba-laba, merapikan pakaian yang selama ini selalu berserakan, merapikan tempat-tempat tidur yang yang selama rutinitas sekolah jarang di perhatikan, harum dan nyaman untuk rehat. Rutinitas masak memasak sudah mulai aktif kembali. Keluarga sudah bisa menyantap makanan lengkap, bervariasi, sehat, dan bergizi dengan nikmat. Masakan-masakan baru dan lezat pun tersajikan berkat hasil resep dari google. Begitu bahagianya melihat suami dan anak-anak menyantap masakan itu dengan nikmat, duduk bersama diselingi dengan tawa dan canda. Kebersamaan yang jarang tercipta selama ini. Tidak ada lagi jajan di luar yang tidak dijamin kebersihannya, apalagi dengan adanya wabah ini. Rumah pun sudah kembali indah ditata dengan bunga-bunga di halaman. Menanam sayur-sayuran, berburu bunga-bunga cantik dan indah sehingga menambah keelokan dan keasrian rumah. Tanaman serta bunga-bunga warna warni menyejukkan pandangan bagi siapa yang melihatnya. Hati jadi senang dan terhibur, sejenak melupakan pandemi covid-19, yang sedang melanda negeri tercinta ini. Beribadah bersama, zikir , semakin mendekatkan diri ke Sang Khalik, mohon perlindungan agar diri dan keluarga terjaga dari wabah ini. Sungguh, semua aktivitas ini terlupakan selama rutinitas sekolah berjalan.Di kompleks perumahan, kesadaran warga tentang wabah covid -19 benar-benar patut kita acungkan jempol. Mereka beraktivitas dengan memakai APD, seperti masker sesuai anjuran pemerintah, bersenam pagi bersama saat matahari sudah mulai memancarkan sinarnya sekalian untuk berjemur diri, jaga jarak (physical and social distancing ) juga mereka laksanakan dalam setiap kegiatan, menghindari kerumunan atau berkumpul lebih dari lima orang dan kontak langsung.

Jalanan sudah mulai lenggang. Tak hiruk pikuk lagi seperti dulu. Kesadaran masyarakat untuk tetap tinggal di rumah begitu besar. Hanya kalau ada urusan yang sangat penting baru keluar. Itu pun harus melengkapi diri dengan APD. Tidak ada lagi arisan-arisan, majelis zikir terlaksana secara online, kegiatan majelis taklim untuk sementara juga ditiadakan. Semuanya demi menghambat penyebaran virus corona.

Yang dibutuhkan sekarang adalah kesadaran masyarakat untuk mematuhi semua imbauan pemerintah agar bisa selamat dari ancaman wabah ini. Kita hanya bisa merenda asa, tetapi yang menentukan semuanya adalah tetap Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Wabah covid-19 adalah pembelajaran bagi kita bahwa di atas langit masih ada langit. kesombongan dan Keangkuhan kita tidak ada artinya. Hanya sekali libas oleh virus kecil tak kasat mata, langsung luluh lantak, tak berarti.Mari kita semakin mendekatkan diri ke Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Mari berserah diri agar wabah ini cepat berakhir agar kita dapat merajut kembali mimpi-mimpi indah seperti sedia kala. Mari tetap menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan kita. Mari memupuk cinta dan kasih sayang dengan keluarga tercinta. Usaha kita adalah ikhtiar agar wabah ini cepat berakhir.

(Visited 28 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.