Simulakrum (jamak: simulakra, bahasa Latin: simulācrum, dari similō, bentuk infinitif kini dari similis “serupa”) merujuk pada sebuah hal tampak, baik real maupun khayal, salinan realitas atau entitas yang telah hilang atau bahkan tidak memiliki dasar realitas asal apapun.

wikipedia

A. Mengenal Jean Baudrillard (1929-2007)

Jean Baudrillard

Baudrillard lahir di Reims, Perancis timur laut, pada tanggal 27 Juli 1929. Pada Tahun 1956-1966, ia menjadi guru sekolah menengah; mengkhususkan pada teori sosial Jerman dan kesusasteraan. Baudrillard adalah seorang teroris, provokator, filsuf, sekaligus nabi postmodernitas. Tulisan-tulisannya memiliki gaya yang khas dan orisinal deklaratif, hiperbolik, aforistik, skeptis, fatalis, nihilis, namun tajam dan cerdas.

Tulisan-tulisan Baudrillard seperti bom yang meledakkan suasana, dan menyajikan cara pandang baru terhadap realitas sosial postmodern.

  • Pada tahun 1962-1963, ia mengulas tulisan-tulisan di Les Temps Moderne, termasuk sebuah esai tentang Italo Calvino.
  • Pada tahun 1964-1968, ia menerjemahkan naskah-naskah Jerman kedalam bahasa Perancis, termasuk beberapa karya dramawan Peter Weiss (Marat/Sade, The German Ideology nya Marx dan Engels, Messianisme revolutionairre du tiers monde dari Muhlmann) dan Bertold Brecht.
  • Pada bulan Maret 1965, ia mempertahankan disertasinya “Thèse de Troisème Cycle” dalam bidang sosiologi, Universitas Paris X – Nanterre yang diterbitkan menjadi Le systèm des objets.
  • Berperan aktif sebagai intelektual dalam demonstrasi mahasiswa di Paris, pada bulan Mei 1968. Pada tahun 1970-1976, ia menjadi maître-assistant di Nanterre.
  • Pada tahun 1977-1978, ia meluncurkan serial provokatif tentang esai antisosialis dan anti postrukturalis dalam bentuknya yang sangat atraktif, publikasi gaya pamplet yang menutup kariernya sebagai akademikus dan political outsider.

Sebagai seorang sosiolog, Baudrillard menawarkan banyak gagasan dan wawasan yang inspiratif. Pemikirannya menjadi penting karena ia mengembangkan teori yang berusaha memahami sifat dan pengaruh komunikasi massa. Ia mengatakan media massa menyimbolkan zaman baru di mana bentuk produksi dan konsumsi lama telah memberikan jalan bagi semesta komunikasi yang baru.

Bagi Baudrillard, televisi merupakan medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole. Ia menyebutnya Simulacra, di mana realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hyper-reality). Konsep darinya yang paling tersohor ialah tentang Simulacra. Konsep simulacra menerangkan bahwa apa yang kita lihat saat ini ialah sebuah duplikasi dari kenyataan yang ada.

Misalnya, stasiun TV merekam sebuah kejadian yang merupakan realitas, lalu rekamannya akan disimulasikan ke TV dan TV akan mensimulasikannya lagi ke manusia. Hal ini akan membuat realita yang sebenarnya bergantung pada siapa yang memberikan persepsi paling kuat.

Simulacra ini terjadi sehari-hari dalam kehidupan kita juga. Salah satu yang menerapkan simulasi dari realitas ini ialah iklan dimana economy of seduction dijunjung tinggi. Iklan saat ini bukan memberikan informasi yang orang butuhkan, tetapi membujuk rayu orang untuk membeli. Bujukan ini dilakukan terus secara berulang. Dalam teori simulacra Jean Baudrillrad menjelaskan bahwa realitas dalam media adalah realitas semu dimana sesuatu kebenaran dimipulasi agar masyarakat mengikuti dan mengkonsuminya. .

Smile and others will smile back. Smile to show how transparent, how candid you are. Smile if you have nothing to say. Most of all, do not hide the fact you have nothing to say nor your total indifference to others. Let this emptiness, this profound indifference shine out spontaneously in your smile.

Jean Baudrillard

Realitas dan kebenaran adalah sebuah persepsi yang terikat pada perspektif dan interpretasi personal.

https://syekhnurjati.ac.id › view

Credit pic: google

Bujukan yang berulang ini akan membuat kita jatuh ke dalam bujukan tersebut. Oleh Baudrillard, ia menawarkan simulacra dalam konsep yang lebih besar yaitu hiper-realitas. Hiper-realitas merupakan sebuah dunia realitas yang bersifat artifisal. Semua yang kita saksikan melalui media massa merupakan suatu hal yang lebih real dari realitas itu sendiri. Baudrillard memberi contoh pornografi, dimana saat ini pornografi menunjukkan sesuatu yang lebih seksual daripada seks itu sendiri.

“Kita hidup di dunia di mana ada semakin banyak informasi, dan semakin sedikit artinya.”

Jean Baudrillard


Hiper-realitas inilah yang kemudian menghapus jarak antara apa yang real dan apa yang imajiner. Kalau dilihat dengan seksama, pemikiran Baudrillard ini mempunyai kesamaan dengan praktek hypnosis dari Freud. Persepsi yang dibentuk ini membuat kita percaya akan simulasi-simulasi yang bukanlah realitas. Hal ini terjadi pada media massa, yang kemudian dipercayai oleh sebagian orang kalau ada elit global di dunia ini. Tapi hal ini juga terjadi ke mereka yang mempercayai konspirasi.

Sebuah kebohongan dan konspirasi yang terus menerus dikonsumsi membuat seakan-akan semuanya terlihat logis dan masuk akal. Mempercayai konspirasi yang semu ini sama saja dengan mempercayai iklan-iklan atau film-film yang merupakan khayalan belaka. Kita sudah hidup di dalam dunia dimana yang kita anggap realitas sebenarnya melebihi realitas yang sesungguhnya. Tapi alangkah mengejutkan ketika teori simulacra dan hiper-realitas ini justru sampai sekarang masih relevan.

Kita belum cukup banyak membahas simulasi dari pemikiran Baudrillard, tapi kiranya ulasan ini menjadi pembuka mata kita bahwa kebenaran yang kita anggap benar itu merupakan kebenaran yang mutlak. Begitu pula dengan para pemercaya teori konspirasi. Hak setiap orang untuk mempercayai apapun, tapi dalam kondisi seperti ini baiklah kita tidak membuat propaganda untuk membuat orang lebih mempercayai teori konspirasi lalu membahayakan orang disekitarnya. (@nathPribady 2020)

B. Kemunculan Simulacrum
Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra (gambar, citra atau penanda suatu peristiwa yang telah menggantikan pengalaman). Manusia postmodern hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi, tidak ada yang nyata di luar simulasi, tidak ada yang asli yang dapat ditiru. Nilai guna komoditas dan nilai imperatif sebuah produksi pun telah digantikan oleh model, kode, tontonan dan hiperrealisme “simulasi”.

Komunikasi lewat media telah membuat orang terjebak dalam permainan simulacra yang tidak berhubungan dengan “realitas eksternal”. Kita hidup di dunia simulacra, dunia yang dipenuhi citra atau penanda suatu peristiwa dan telah menggantikan pengalaman nyata. Ya, kita hidup di dunia yang penuh dengan simulasi: tidak nyata, tidak asli, dan tidak dapat ditiru. Dunia tak lagi nyata, karena yang “yang ada “ hanyalah simulasi. Secara gamblang Baudrillard menguraikan bahwa pada jaman kini “masyarakat” sudah sirna dan digantikan oleh mass atau massa. Massa tidak mempunyai predikat, atribut, kualitas maupun reference . Pendeknya, massa tidak mempunyai realitas sosiologikal. (Baudrillard: 1978)

C. Hilangnya Ruang Publik
Bagi Baudrillard, dunia dewasa ini tidak ada lagi adegan cermin, yang ada hanyalah layar dan jaringan. Periode produksi dan konsumsi telah membanjiri jalanan. Manusia abad kontemporer hidup dalam ekstasi komunikasi yang karut marut, seiring dengan lenyapnya ruang privat. Ruang publik pun tak lagi menjadi tontonan dan ruang privat pun tak lagi menjadi rahasia. Hapusnya perbedaan antara bagian dalam dan bagian luar, seiring dengan rancunya batas antara ruang publik dan ruang privat. Kehidupan yang paling intim, sekarang menjadi penopang hidup virtual media.

D. Terbentuknya Hyperreallity
Hiperealitas menciptakan satu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas; dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu. “Baudrillard menerima konsekuensi radikal tentang yang dilihatnya sebagai sangat merasuknya kode dalam masa modern akhir.

Kode ini jelas terkait dengan komputerisasi dan digitalisasi, juga cukup mendasar dalam fisika, biologi, dan ilmu-ilmu alam lainnya di mana ia memberi kesempatan berlangsungnya reproduksi sempurna dari suatu objek atau situasi; inilah sebabnya kode bisa mem-bypass sesuatu yang real dan membuka kesempatan bagi munculnya realitas yang disebut Baudrillard sebagai hyperreality.” (Lechte, 2001, hal. 352) Dramatisasi yang dilakukan melalui alur yang penuh aksi dramatis, secara umum dikendalikan oleh rumah produksi yang membuatnya bukan lagi oleh pelaku utama yang mempunyai cerita. Akhirnya menjadi mustahil membedakan yang nyata dari yang sekedar tontonan.

Dalam kehidupan nyata masyarakat pemirsa reality show, kejadian-kejadian nyata semakin mengambil ciri hiper-riil (hyperreal). Tidak ada lagi realitas yang ada hanyalah hiper-realitas. Dampak yang dihasilkan dari hiperreality adalah adanya kepercayaan masyarakat terhadap kenyataan yang sebenarnya bukan kenyataan. Pembodohan atas realitas ini dapat menghasilkan pola budaya yang mudah meniru (imitasi) apa yang dilihatnya sebagai sebuah kenyataan di media televisi direalisasikan dalam kehidupan keseharian. Serta terbentuknya pola pikir yang serba instan, membentuk manusia yang segala sesuatunya ingin cepat saji. Keadaan dari hiperrealitas ini membuat masyarakat modern ini menjadi berlebihan dalam pola mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas esensinya.

Kebanyakan dari masyarakat ini mengkonsumsi bukan karena kebutuhan ekonominya melainkan karena pengaruh model-model dari simulasi yang menyebabkan gaya hidup masyarakat menjadi berbeda. Mereka jadi lebih concern dengan gaya hidupnya dan nilai yang mereka junjung tinggi.
Industri mendominasi banyak aspek kehidupan, industri tersebut menghasilkan banyak sekali produk-produk mulai dari kebutuhan primer, sekunder, sampai tertier. Ditemani oleh kekuatan semiotika dan simulasi membuat distribusi periklanan produk menjadi lebih gencar tambah lagi teknologi informasi yang memungkinkan pihak pengusaha untuk mendapatkan informasi seperti apakah masyarakat yang dihadapi, dan pihak konsumen mendapatkan informasi tentang kebutuhan yang mereka tidak butuhkan tetapi mereka inginkan. Asumsi-asumsi yang terbentuk dalam pemikiran manusia dan keinginan ini membuat manusia tidak bisa lepas dari keadaan hiperrealitas ini.


D. Kesimpulan
pemikiran Baudrillard  maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1). Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra, didalamnya citra atau penanda atau kode atas suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman. Zaman simulasi adalah jaman informasi dan tanda yang dikendalikan oleh models, codes dan cybernetics.


2). Obyek konsumen menata perilaku melalui suatu fungsi tanda (sign function) dalam linguistik. Iklan atau reklame telah mengambil-alih tanggungjawab moral masyarakat dan telah menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonistik yang mengacu hanya kepada kesenangan saja dan menjadikannya sebagai barometer dari hypercivilization.

Diberdayakan :

Sudirman Muhammadiyah

E. Daftar Pustaka
Aziz, Imam, 2001, Galaksi Simulacra, LkiS: Yogyakart
Gunawan, Arief, 2006, Membaca Baudrillard [http://ariefgunawan.blogspot.com/2006/05/membaca-baudrillard.html]
Lusius Sinurat, Simulacra dan Realitas Semu [http://5iu5.blogspot.com/2013/07/simulacra-dan-realitas-semu-dalam.html]
Utoyo, Bambang, 2001, Perkembangan pemikiran Jean Baudrillard: dari realitas ke simulakrum, Perpustakaan Universitas Indonesia: Jakarta
http://www.egs.edu/fa
http://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Levels%20of%20theories/micro/semiotics.htm,2006
http://www.uta.edu/english/hawk/semiotics/Baudrillard and Simulation.htm.htm
Lechte, John, 2001, 50 Filsuf Kontemporer, Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Maarisit, Marthen L., Hipersemiotika dan Postmodernisme,
http://www.glorianet.org/

(Visited 2,881 times, 2 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

5 thoughts on “Teori Simulacra (Jean Baudrillard)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.