Pagi ini muncul moodku untuk menulis sebuah cerita yang tiba-tiba terlintas dalam ingatan. Cerita “Pena Tak Bertinta”, suatu kenangan yang tidak pernah kulupakan dan menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga dari seorang Pelatih dan Pembina Pramuka di pondok pesantren dulu.

Kala itu, aku masih duduk  di bangku kelas 3 MTs Darul Arqam Gombara, sebuah pondok pesantren di pinggiran Kota Makassar. Letaknya di Mandai, perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di pondok tersebut, selain aktivitas belajar yang kulakukan sehari-hari, aku pun ikut aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan sebagai Pramuka Penggalang.

Salah satu Pembina dan Pelatih Pramuka di Gudep kami saat itu adalah Ustaz H. Abdul Qadir Sarro. Beliau adalah Pembina yang karismatik dan biasa kami sapa dengan panggilan Kak Qadir. Walaupun umur beliau saat itu sudah masuk lansia, beliau sangat energik dan selalu bersemangat melatih kami tentang keterampilan kepramukaan.

Biasanya, setelah beberapa pekan kami berlatih tentang materi yang sudah dijadwalkan sesuai  Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK), saatnya peserta didik atau anggota Pramuka diuji kemampuannya dalam penguasaan  materi untuk mengisi buku SKU dan SKK. Contoh penguasaan Keterampilan yang diujikan adalah Tali Temali, Sandi, P3K, dan lainnya yang dilakukan dalam bentuk bermain agar tetap terkesan santai dan gembira.

Pada kegiatan tersebut, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan beberapa SKU dan SKK dengan baik dan lancar. Saat pengumuman hasil akhir, aku mendapatkan dua jempol dari Kakak Pembina (Kak Qadir) karena paling banyak menyelesaikan SKU dan SKK. Dalam mengapresiasi keberhasilan itu, Kak Qadir memberiku hadiah sebuah pena.
Pena itu nampaknya biasa saja. Namun, aku sangat senang dan bahagia menerimanya sebagai reward dari Sang Pembina atas prestasiku. Tentunya aku akan menggunakan pena itu untuk menulis.

Sayangnya, saat kugoreskan di lembar buku tulis, pena itu tidak mengeluarkan tinta sedikitpun. Kuperiksa dan kulihat isi anak tintanya, ternyata pena itu tidak bertinta. Seketika itu juga rasa kecewa tidak bisa kusembunyikan dari raut wajahku.

Kuberanikan diri mendekati Kakak Pembina dan bertanya, “Kak, tabe kenapa penanya tidak bertinta? Apa Kakak tidak salah kasih nih?”

Beliau menjawab sambil tersenyum bijak, “Saya tidak salah memberi dan itu memang hadiah untukmu, Dek.”

Dengan rasa penasaran aku bertanya lagi, “Tapi penanya tidak bertinta dan tak bisa digunakan untuk menulis?”

“Ayo, kamu duduk dulu, nanti Kakak jelaskan,” jawabnya.

Akhirnya aku duduk kembali di tempatku sambil menunggu penjelasan dari kakak Pembina.

“Setiap prestasi perlu diberi penghargaan dalam bentuk apapun dan bisa bermanfaat, termasuk sebuah pena yang tidak bertinta,” jelasnya pada kami.

“Apakah pena itu hanya berfungsi sebagai alat menulis saja?”

“Tidak, Kak!” Kami menjawab serempak, meskipun pada kenyataannya kami pun masih bingung kira-kira apa fungsi lain dari sebuah pena, apalagi yang tidak bertinta.

“Tentu di kepala kalian sudah terpikir fungsi pena selain sebagai alat tulis. Ya, pena dapat digunakan sebagai alat penunjuk, pemukul, pengungkit, dan lain-lain yang bisa kita gunakan dalam keseharian sesuai kebutuhan. Selain itu, menulis bisa dilakukan tanpa harus menggunakan pena yang bertinta.”

Aku agak bingung. Begitu pula beberapa teman yang duduk di sekitarku.

“Kadang-kadang kita perlu menuliskan sesuatu, misalkan pesan rahasia, dan itu tidak boleh kasat mata. Ada cara-cara tertentu yang dilakukan oleh oleh pejuang kita dulu saat mengirim kabar atau berita yang sifatnya sangat rahasia. Bagaimana caranya? Nah, itu kita akan pelajari pekan depan, ya?”

Sesaat kemudian aku pun terdiam. Aku berpikir keras untuk membuat kesimpulan. Sebuah prestasi atau keberhasilan memang perlu dihargai, baik itu dalam bentuk hadiah ataupun sekadar pengakuan lisan. Berikanlah hadiah yang bermanfaat bagi penerimanya, sekecil apapun itu. Namun, bukan hanya manfaat terukur yang bisa kita berikan melalui sebuah hadiah. Lebih dari itu, sebuah hadiah bisa memiliki manfaat yang tidak terukur. Itulah hadiah yang di dalamnya tersirat nasihat dan hikmah tentang kehidupan.

Sepenggal pengalamanku itu tetap menjadi kenangan dan kujadikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Bahkan hingga kini aku menjadi seorang Pembina dan Andalan Cabang Gerakan Pramuka Kolaka Utara. Semoga Al Mukarram  Almarhum Ustaz H.Abdul Qadir Sarro mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah Swt atas semua ilmu yang diberikan kepada kami. Semoga menjadi amal jariyah dan pahala kebaikan bagi beliau yang tidak pernah putus hingga Yaumil Akhir, amin.

Lasusua, 2 Juni 2021
Hidaya Mushlihah

(Visited 131 times, 1 visits today)
One thought on “Pena Tak Bertinta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.