Dari balik Gunung , matahari pagi perlahan-lahan menampakkan diri dengan senyuman  yang merekah, menyapa semesta alam dengan keceriaan, seperti hatiku yang ceria saat itu. Betapa tidak, sejak SD telah berangan-angan dapat bersekolah di kota mengejar ilmu setinggi-tingginya agar nanti sekembali di desa dapat mengabdi. Aku sangat menyadari letak desaku yang jauh dari kota,  akses ke desaku juga masih sulit, disamping biaya dan akomodasi bila ke kota menuntut ilmu. Tapi aku beruntung punya bibi di kota, saudara kandung ayahku. Beliau tak membatasi keluarganya bila ada yang ingin menumpang di rumahnya walau rumahnya tidak luas.  Akupun berangkat menuju kota impian untuk melanjutkan pendidikan setelah seminggu  pengumuman kelulusan. yakin pasti lulus dari SMP dan melanjutkan pada jenjang lebih tinggi. Berangkat dengan  bekal seadanya, ditambah oleh-oleh khas desaku dan sebuah tas jinjing kecil berisi pakaian seadanya pula. Rasa gembira meluap membuncah menyelimuti seluruh ruang hatiku, berbunga-bunga, seperti  orang yang lagi jatuh cinta walau saat itu belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta.

               Ketika pamit pada ayah dan ibu karena  saat itu tidak sempat mengantarkanku ke kota, hanya metitipkan diriku  pada nenek Jirah yang juga akan menagntarkan anak lelaki semata wayangnya, Adi panggilannya,  ke kota dengan  tujuan yang sama. Ada rasa sedih, tapi kesedihan terkalahkan oleh rasa gembira yang membuncah. Kami ke pelabuhan menuju kapal kayu yang akan mengantarkan kami melintasi teluk bone dari lasususa desaku menuju siwa,  pelabuhan kapal di sulsel. Matahari telah melewati  sepenggalan bahkan sudah diatas kepala, mesin kapal sudah berbunyi, para awak menarik jangkar dan perlahan –lahan kapal  mulai meninggalkan pelabuhan . suara mesin beradu deburan ombak, angin laut bertiup kencang, sesekali seakan menampar wajahku, bau busuk kopra dan kakao saling beradu menerpa hdungku.  Aku hanya terduduk di geladak kapal memandangi lauat, menyaksikan sesekali  ikan terbang melintasi kapal juga burung-burung menambah pesona teluk bone. Kapalpun tiba sekitar jam 16.30 langsung menuju kota Makassar, tiba  sekitar jam dua belas malam. Siang esoknya, saya dijemput untuk tinggal dan bersekolah di Tonasa, desa Manjalling kab, Pangkep. Impian bersekolah di kota pupuslah sudah. Ingin membantah tapi itu tidak mungkin karena kami  dididik untuk selalu menurut pada perintah orang tua. Kecewa dan sedih, bercampur aduk, beradu dalam batin, antara ingin protes atau harus menurut saja. Keputusanku, Menurut saja,tentu apa yang dianjurkan oleh paman, itu pasti yang terbaik bagiku, walau jujur kukatakan tidak sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan ini.

                Dengan membawa perasaan kecewa, walau tidak harus kunampakkan pada siapapun, akupun menuju desa Manjalling tempat aku akan disekalahkan  SMA milik perusahaaan besar di Sulawesi, PT. Semen Tonasa namanya. Seketika aku berubah menjadi gadis  yang pendiam, keceriaan, kelincahan, keramahan, langsung memudar dari sikapku sejak awal. Berbicara seadanya, sampai  tiba saatnya aku bersekolah dan telah menemukan sahabat yang baik, namun sikap ceriaku telah  hilang berubah menjadi pendiam, aku hanya dikenal sebagai gadis yang kalem, entah hilang di mana keceriaan,kelincahan, dan keramahanku selama ini. Bertahun sikap ini tidak bisa berubah walau aku sudah bisa menerima kenyataan dan memahami bahwa tidak semua yang kita ingikan harus sesuai, tidak semua harapan akan menjadi kenyataan, dan tidak semua doa-doa lansung diijabah, tentu semua berproses, tetapi selalu kuyakin bahwa suatu ketika Allah akan memberikan terbaik bagiku, selalu berharap akan indah pada waktunya. Tak terasa waktupun berlalu hingga tiga tahun aku tamat dan mendaftar pada salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar dan dinyatakan lulus. Sejak saat itu, kutinggalkan desa Manjalling tempatku berskolah, SMA Tonasa. Dari desa  tempat kelahiranku di kampungku menuju desa lain kurajut asa demi desa kelariharunku,  aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali mengabdi di desaku.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.