Kolom Ruslan Ismail Mage*

Sebuah ungkapan familiar sering kita dengar dari orang-orang yang alergi menunggu. Katanya “menunggu adalah pekerjaan paling membosankan”. Dulu pun berlaku bagiku, tetapi lima tahun terakhir menunggu itu justru menjadi berkah bagiku. Dengan menunggu bisa menulis apa saja yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Itulah sebabnya saya bisa menulis dan menerbitkan buku sampai lima setahun, karena menunggu sebagi waktu membosankan bagi sebagian orang, saya kontruksi menjadi waktu produktif menulis.

Termasuk rabu (9/6/21) pagi jelang siang, ketika sedang menunggu antrian di salah satu kantor pemerintahan kota Depok, lagi-lagi klimaks berselingkuh dengan memainkan jari-jariku penuh gairah. Entah kenapa pagi ini dua pasang ibu jariku begitu lincah menari salsa, maju mundur, kekiri dan kekanan, meliuk-liuk di atas tut huruf-huruf layar handphone.

Idenya cukup sederhana, datang dari seorang ibu muda yang memarkir motornya tidak jauh dari tempatku duduk. Ia bergegas jalan mendekati seekor kucing untuk di usap-usap kepalanya penuh perhatian. Sesaat kemudian mengeluarkan bungkusan pelastik berisi makanan khusus kucing ditabur di lantai.

Pemandangan di depanku ini membuat naluri jurnalistikku tergerak mendekat menyapa sang ibu. Aku pun berbincang ringan dan santai dengan ibu muda familiar bernama Putri, seputar kegemarannya memberi makan setiap kucing yang ditemui di jalan.

Dalam jok motornya selalu tersedia bungkusan berisi makanan khusus kucing. Dari kecil katanya selalu merasa puas dan bahagia jika memberi makan setiap kucing yang ditemui di jalan. Kebiasaannya itu disebutnya sebagai “sedekah kucing”.

Saya tiba-tiba teringat kucing kesayangan Rasulullah Saw bernama Muezza. Diriwayatkan suatu saat, Rasulullah Saw hendak mengambil jubahnya untuk dipakai shalat, tetapi ditemuinya Muezza sedang terlelap tidur di atas jubahnya. Tidak ingin mengganggu Muezza yang tengah tertidur di atas jubahnya, Rasulullah Saw kemudian memotong bagian jubahnya yang diijadikan alas tidur Muezza.

Terlepas kucing sebagai binatang kasayangan Rasulullah Saw, ibu Putri telah merasakan langsung berkahnya menyayangi dan bersedekah makanan ke kucing. Menurutnya ada-ada saja rejeki datang, seiring bisnis online yang dijalani semakin hari semakin memperlihatkan perkembangan. Iya yakin semuanya itu tidak lepas dari kebiasaannya bersedekah makanan ke setiap kucing yang ditemui di jalan.

Pesan inspiratif dari ibu Putri, “kalau bersedekah ke kucing saja begitu tinggi nilainya dalam agama Islam, apalagi bersedekah kepada sesama manusia yang membutuhkan. Itulah sebabnya nabi Ibrahaim As terkadang rela berjalan jauh hanya untuk mencari orang menemaninya makan. Bagaimana dengan Anda?

*Penulis adalah akademisi, inspirator dan penggerak, founder Sipil Institute Jakarta

(Visited 59 times, 3 visits today)
One thought on “Sedekah Kucing”
  1. Pembelajaran luar biasa.Bersedekah ke kucing sj bgt berarti, apalg sedekah kpd sesama…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *