Oleh: Besse Rismawati
Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Ini adalah bagian dari lagu “Desaku” karya L. Manik yang begitu familiar di hatiku. Lagu ini mewakili perasaan terhadap desaku, Desa Batuganda, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara.
Desaku yang kucinta, desaku yang indah, seindah pemandangan gunung hijau di sekelilingnya, dan riuh aliran arus air sungainya yang jernih nan sejuk. Semakin kumelangkah, semakin kumerasakan indahnya desa ini.
Indah dengan suasana dan masyarakatnya yang berane karagam suku. Di sini aku kembali merenung, memaknai bahwa bukan hanya pada kembang yang warna-warni membuat beribu mata memandang dan terpesona, tetapi keanekaragaman suku yang ada, budayanya, sifat dan karakter masyarakatnya laksana pelangi warna-warni yang menyemangati kehidupan yang penuh makna.
Warga bersatu dalam perbedaan, bersama dalam keragaman, bahu-membahu menata kehidupan alami yang penuh kesejukan. Kami mengemas perbedaan menjadi suatu irama yang melagukan simponi kedamaian.
Aku berjalan dengan asa. Ya, asa seorang guru Taman Kanak-Kanak (TK). Menjadi Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidaklah mudah seperti yang ada di pikiran sebagian orang. Tidak jarang terngiang di telinga omongan, “Oh, cuma guru TK…” Begitulah bahasa khas daerah kami yang terkadang ikut kata “cuma” yang terkesan mengabaikan kalau tidak merendahkan.
Alangkah indahnya kata “cuma” itu, sehingga mampu menjadikan pembangkit semangat kami para guru honorer TK swasta. Betul kata sang inspirator Sipil Institute, penulis buku “20 Hukum Kesuksesan Sejati” Bapak Ruslan Ismail Mage yang sering di sebut Bang RIM, “Jadikanlah semua orang yang memusuhimu sebagai konsultan pribadimu yang bergerak secara alami tanpa harus dibayar.”
Sesungguhnya pembenci atau penghina adalah motivator yang mendorong semangat kami untuk terus melangkah dan menggeliat muncul kepermukaan.
Tidaklah salah ketika ada yang mengatakan aku tidak bisa menjadi guru karena lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tetapi, bagiku itu hanya kata orang yang tanpa disadarinya telah menjadi motivatorku untuk terus melangkah meraih impian.
Menurutku, siapa pun bisa menjadi guru. Selagi niat dan tujuan berbagi ilmu dan menjadi bagian transformasi pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Tidak terkecuali aku, meski kualifikasi pendidikanku memang bukan dari keguruan. Namun, dengan tekad dan semangat ingin memberi kontribusi dalam memajukan pendidikan di desaku, insyaa Allah bisa.
Semakin jauh aku melangkah, semakin mata melotot, seolah mencari apa yang bisa mereka jadikan bahan perbincangan. Aku pun semakin lihai memainkan peranku tanpa merugikan orang lain. Sampai pada saat penaku menulis ini, mata yang pernah melotot menjadi terpejam berpikir untuk menemukan cara bagaimana ia bisa bertepuk tangan meriah sendiri. Mungkin ada rasa canggung yang dirasakan. Namun, sepertinya sukar untuk dipungkiri bahwa kebencian itu sudah mulai lumpuh dengan mata penaku.

Mantaap