Oleh: Sumardi
Dalam organisasi modern pembelajaran berkelanjutan atau continous learning merupakan sebuah kebutuhan. Apalagi organisasi yang profit oriented dari hari ke hari dari waktu ke waktu harus mempelajari trend konsumen. Lengah saja sedikit terhadap organisasi kompetitornya maka bisa jadi organisasi atau perusahaan itu tinggal nama saja. Sebagaimana televisi merk Sharp, tustel merk Kodak dan telepon celluler merk Nokia, Blackberry, yang saat itu begitu mendominasi pasaran saat ini nampaknya sulit untuk ditemui di pasaran. Dalam dunia bisnis berlaku mau terus atau mati. Ya persaingan itu sangat kejam. Hanya organisasi yang mau terus belajar dan mengimplementasikan temuan-temuan baru sembari bisa memenuhi selera konsumen yang akan survive. Dalam kondisi demikian terasa bahwa research and development hasil dari pembelajaran menjadi sebuah keniscayaan.
Dalam kaitannya dengan organisasi yang terus belajar secara berkelanjutan atau continous learning sesungguhnya kitasemua juga bisa belajar dari dalang milenial kondang Ki Seno Nugroho (almarhum). Dalam setiap pentasnya penonton selalu berjubel untuk melihat kepiawaiannya dalam memainkan anak wayang (sabetan) dan dialog (ontowecono). Apalagi kalau sudah episode Limbukan dan celotehan para punokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) akan sangat merangsang minat penonton untuk menyaksikannya. Pertunjukannya penuh dengan pesan-pesan moral dan hiburan yang menyegarkan. Banyolannya sangat menggoda dan selalu upadate dengan kondisi saat ini. Berkat kepiawaiannya Ki Dalang Seno Nugroho banyak disenangi oleh para penggemar dari usia muda sampai tua. Penggemarnya bahkan sampai di manca negara mulai dari Malaysia, Taiwan dan Hongkong.
Dalang mileenial kondang ini kelahiran Yogyakarta , 23 Agustus 1972 dan tutup usia hari Selasa (3/11/2020) malam di RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta. Kepergiannya untuk menghadap sang khalik ditangisi oleh ribuan penggemarnya dan keluarga Warga Laras (para penabuh gamela, pesiden, dan crew) yang mendukung setiap pentas Ki Seno. Semasa hidupnya Ki Seno dan Agnes sang isteri memiliki tiga anak, dua di antaranya perempuan yaitu sulung dan bungsu. Nama tiga anaknya adalah Anglir Kinanthi, Gadhing Pawukir, dan Jenar Nyimasayu. Diantara 3 putra putrinya hanya Gadhing Pawukir yang menuruni bakat ayahandanya. Gadhing dalam usia anak-anak sudah dididik dan disiapkan sebagai dalang yang akan meneruskan ayahandanya. Dalam ilmu manajemen sumber daya manusia modern Ki Seno ternyata telah mempraktikkannya dalam bentuk mempersiapkan “successor”-nya.
Tidak hanya itu saja dalam setiap kekosongan waktu tidak ada jadual manggung biasanya Ki Seno secara teratur mengajak seluruh crew Warga Larasuntuk berlatih. Latihan tersebut penting untuk menambah kepiawaiannya dalam menabuh gamelan dan cengkok-cengkok yang perlu dimunculkan oleh para pesindhen. Selain itu juga untuk mengantisipasi lagu atau gendhing yang diminta oleh para penggemar namun barangkali masih sedikit asing di telinga para niyaga. Jadi pembelajaran terus-menerus bagi Ki Dalang Seno Nugroho merupakan salah satu ciri khasnya sehingga pegelaran yang ditampilkannya selalu segar dan tidak membosankan. Tidak aneh jika jadwal manggungnyapun padat dan selalu penuh dengan penonton.
Dari ulasan di atas dapat diambil sebuah simpulan bahwa pembelajaran terus-menerus atau continous learning bagi organisasi dan individu adalah sebuah keharusan. Tanpa kesediaan untuk terus belajar maka organisasi atau individu tersebut hanya akan menjadi masa lalu. Kitapun bisa belajar dari siapa saja termasuk lingkungan di sekitar kita. Selamat Pagi…….
Matraman, 1 Juli 2021
Penulis : Praktisi Ilmu Manajemen SDM Aparatur

Dalam hadits ada yg berbunyi : Mencari ilmu hukum nya Wajib bagi setiap orang Islam.
So.. continous learning itu keharusan, apalagi belajar ilmu Agama.
Sekolah ada lulus nya, kalo belajar engga ada dan belajar ga ada kata pensiun walaupun sudah bergelar Profesor.
Yang menarik menurut sya,
Gadhing Pawukir yang belajar dan memperdalam kesenian tradisional (dalang), dimana kesenian modern dan ke barat-baratan terus mendominasi kebudayaan di negri ini.
Mantab pak Sumardi artikel nya.