Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor perekonomian dengan peranan yang penting di Indonesia. Pada tahun 2018, UMKM berkontribusi sebesar 60,3% terhadap Produk Domestik Bruto, menyerap 97% dari total tenaga kerja, dan 99% dari total lapangan kerja. Namun demikian, perkembangan UMKM di Indonesia cenderung stagnan dari tahun ke tahun, dengan kontribusi yang relatif insignifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut OECD (2017), digitalisasi dapat menjadi aspek penting untuk kenaikan kelas UMKM mengingat proses digitalisasi atau adopsi teknologi suatu unit usaha dapat meningkatkan daya saing secara berkelanjutan. Dengan proses digitalisasi, UMKM dapat memproduksi barang dan jasa secara inovatif dengan mempertimbangkan informasi mengenai preferensi konsumen yang telah didapat dan, pada akhirnya, dapat meningkatkan pencapaian bisnis secara menyeluruh.

Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia melaksanakan survei dan kajian mengenai intervensi teknologi digital yang dibutuhkan oleh UMKM di Indonesia pada bulan Juli-September 2021. Survei ini bertujuan untuk:
1. Menumbuhkan dan menciptakan ekosistem digital pada UMKM
2. Mendidik UMKM agar mampu mengadopsi teknologi digital
3. Mengetahui derajat kebutuhan teknologi digital pada UMKM
4. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis proses dalam satu mata rantai di UMKM
5. Melakukan pemetaan UMKM berdasarkan kelas

Target responden sebanyak 37.000 UMKM produsen skala mikro dan kecil pada industri pengolahan sub-sektor makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, serta furniture, kerajinan kulit dan kerajinan tangan berlokasi di 10 kawasan pariwisata prioritas dan 2 provinsi di Jawa (Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta) dengan rincian sebagai berikut.

  1. Danau Toba (Sumatera Utara)
  2. Tanjung Kelayang (Belitung)
  3. Kepulauan Seribu (Jakarta)
  4. Jawa Barat
  5. Borobudur (Jawa Tengah)
  6. DI Yogyakarta
  7. Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur)
  8. Tanjung Lesung (Banten)
  9. Mandalika (Nusa Tenggara Barat)
  10. Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur)
  11. Wakatobi (Sulawesi Tenggara)
  12. Morotai (Maluku Utara)

Secara khusus, survei dan kajian tersebut ditujukan untuk mengetahui apakah UMKM membutuhkan dukungan teknologi digital dalam mengembangkan usaha dan mengidentifikasi jenis teknologi digital apa yang menjadi kebutuhan masing-masing UMKM sesuai dengan level tingkat adopsi teknologi digitalnya. Hasil survei dan kajian tersebut nantinya akan digunakan untuk memetakan UMKM yang akan mendapatkan pendampingan terkait teknologi digital serta bantuan dari pemerintah untuk meningkatkan transaksi secara online. Pastikan Anda mengikuti survei ya?

(Visited 318 times, 1 visits today)

By Iyan Apt

Farmasis, Writerpreneur, dan Book Publisher @ Elfatih Media Insani

14 thoughts on “Survei dan Kajian Kebutuhan Intervensi Teknologi Usaha Mikro dan Kecil”
  1. Dengan adanya PPKM kami sebagai pelaku UMKM merasa di rugikan, karena byk konsumen kita yg biasa belanja offline gak pda belanja.
    Trus swalayan2 tutup jam 18.00.
    Gimana klau ada yg tiba2 stock susu buat bayi hbis mlm2. Sedangkan di warung biasa gak ada susu yg d butuhkan bayi tersebut.

  2. Dengan adanya ppkm saya sebagai UMKM merasa d rugikan karena toko toko tempat menyimpan prodak saya tutup dan reseller saya tidak bisa menjual barang saya ke luar daerah… sekarang saya selama ppkm of dulu

    1. Betul… Prodak prodak umkm yang sangat luar biasa ini… Sangat butuh dukungan untuk bisa go online… Dimana umkm sendiri biasa nya fokus untuk produksi dan kelemahan kami adalah pemasaran.. Dan insha Allah kami akan terus berusaha untuk bisa juga untuk pemasaran terutama dunia zaman sekarang dengan sistem online

  3. Dalam meningkatkan usaha saya sebagai UMKM d bidang produk makanan ringan saya sangat membutuhkan bimbingan dari pembimbing untuk meningkatkan usaha saya terutama di bidang marketing karena dengan keadaan sekarang ini saya sulit untuk menjual produk saya apalagi ke luar daerah

      1. Sebelum dan selama pandemi, saya merasa tidak terbantu oleh dinas-dinas terkait masalah pemasaran ataupun pengembangan usaha, apalagi pemberlakuan PPKM yg terus bertambah levelnya, perekonomian yang terus terpuruk, pedagang atau pengusaha besarpun sebagian gulung tikar apalagi saya salah satu yang terkecil..semoga ada solusi dan aksi nyata dari pemerintah.

    1. Dengan adanya PPKM penghasilan berkurang, tidak sepeti biasanya menghambat sekali kepada pendagang kecil,

  4. Sebelum ppkm baru sajah mencoba bergabung dengan teman teman yg lain membuka sentra untuk para pelaku umkm di kota kami, dan baru berlangsung 2minggu eeh ppkm kemudian berlaku akhirnya tutup sentra dan kami pun tdk ada aktivitas selain kegiatan jualan online yang hasilnya pun tak sprti sebelumnya, ppkm sangat berpengaruh sekali terutama bagi para pelaku umkm kecil yang baru berkembang,kami pun mau berbelanja bahan sjah sulit karena pasar tutup operasional sampai jam 10,kemana mana pun susah, mestinya pemerintah menjamin semua kebutuhan perekonomian masyarakat ketika keadaan begini. Begini sajah sdh berasa apalagi ppkm di tambah lagi.. Belajarlah berada di posisi kami.. Wahai para pembesar…dan bantulah mencari solusinya ketika ada yang dirmhkan, jualan tak seramai dlu krn tak ada pembeli.

  5. Dalam kondisi ppkm ini, banyak sekali umkm atau para pedagang ini banyak yg dirugikan, dari penutupan jalan itu sendiri banyak pedagang dijalanan yg sangat dirugikan, ekonomi semakin menurun, penganggutan semakin bertambah, penerimaan pekerja dikurangi,
    Dengan adanya teknologi yg semakin canggih, banyak sekali masyarakat yg masih ketinggalan teknologi, karena saking cepatnya, mereka juga berusaha mengimbangi teknologi dg sebaik-baiknya, walaupun akan sangat ribet.
    Untuk kami sendiri, kami bisa menggunakan dan memanfaatkan teknologi yg sudah tersedia, tapi banyak juga dari kami yg masih blm paham dg marketing nya, dan banyak juga para pembeli yg tidak mengerti dg teknologi yg sudah digunakan. Seperti cara pembayaran online, dll

  6. Usaha sy di bidang makanan ringan, 90% sistem pemasaran dilakukan scr offline, selebihnya secara online, dg adanya pandemi usaha menurun drastis sampai > 80%, untuk itu saat ini sy benar2 membutuhkan pemahaman/orang yg dpt membantu di bidang teknologi informasi dan komunikasi di bidang pemasaran online, untuk meningkatkan usaha sy.

  7. PPKM yg tidk kunjung berakhir ini sungguh sangat tidak menguntungkan, toko toko dimana tempat kami nitip jual kena imbasnya sehingga kena juga sama kami, selain penjualan mandek pembayaran pun macet, sementara operasional dan cicilan cicilan pinjaman jalan terus , musim ke2 pandemi ini dgn adanya PPKM sudah tdk/susah untuk diprediksi kembali apa kita mampu/masih bisa bertahan, tapi kami tetap bersemangat dan mencoba untuk iklas dan bahagia, semoga padai cepat berlalu dan kondisi kembali normal seperti biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *