Tiap langkah kakiku berpijak ada sebuah harapan yang ditanam oleh orang-orang yang sangat mencintai dan merindukan diriku ini, oleh sebab itu saya tidak boleh gagal.
anonim
Kampung(an)

Langit kian merona di ufuk timur, Cahanya membaur seiring datangnya pagi, Embun mulai menetes diujung dahan, Memancarkan sinarnya para petani bergegas ke sawahnya kehidupan ini, teratur di mana kah aku saat ini.
Di CennoE Desa Belo Kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Di sini aku lahir mengenal denting suara suara alam, 31 Januari 1970. Kehidupan mekanik di kampungku ini seperti mesin keteraturan terformat sejak kampung ini ada, itulah ciri khas desa, pagi ayam berkokok, petani ke sawah, berputarnya waktu jarum jam sesuai kehidupan masyarakatnya,
Desa, dengan ciri masyarakatnya yang homogen, sedarah genetika satu rumpun bekerjanya pun kerjasama gotongroyong tanpa pamrih, ikhlas, ingatanku ke kota yang tetanggaku heterogen tidak sedarah, tidak serumpun, bekerja dengan pamrih, kepura puraan dan kepalsuan, sebagai ciri masyarakat organik masyarakat kota.
Solidaritas nya pun berbeda. Solidaritas mekanik tumbuh dibangun dengan kesadaran akan kolektifitas (kesamaan bersama), itu ada di desa sedangkan solidaritas organik didasarkan pada dibangun tumbuhnya kesadaran akan pembagian kerja yang kompleks dan ketergantungan yang tinggi itu ada di kota yang heterogen.
Aku tumbuh dan dibesarkan di keduanya, lahir di masyarakat mekanik, di habitus kampung, jiwa dan nilai sopan santun yang jadi dasar tumbuh sebagai karakter, sejak lahir, sd, smp, sma, selanjutnya kuliah di masyarakat organik kota, dua kehidupan dalam teori sosiologi yang kontradiksi, yang hidup di desa masyarakat mekanik mau hidup di kota, sebaliknya yang hidup di kota maunya hidup di desa. Ironi, bagaikan air dan minyak.
Habitus ku terbangun secara terstruktur di alam dan nuansa desa, mengental berbahasa pun ku tak sanggup logat, sejak kecil terbentuk lidah terlatih bahasa lokal bugis, hidup di kota tidak mampu merubah batang pohon yang sudah bengkok dengan ucapan yang senduh logat bugis, kupaksakan ikut dengan logat di luar habitat aku akan patah.
Arena yang berbeda tidak mampu melupakan arena yang hakiki, kampung, walaupun kampung(an) aku tetap rindu di kampungku ini, aturan covid pun kuterjang demi apa ? Demi sebuah nilai memupuk otak ku yang ingin di suplai kenangan masa lalu, polos, di sini tidak ada edaran boleh idul adha di masjid atau tidak, semua berjalan seperti mesin berfungsi sesuai tugas dan fungsinya. Mabburasa, nasu lekku, coto, konro, jangan rusak roda kehidupan mesin ini yang sudah outo sejak aku lahir.
Maskerpun ku lepas biarkan udara oksigen yang segar ini beradu dengan covid yang kuat dan di takuti di kota, di sini saya tidak dengar mobil ambulance yang sibuk sendiri dengan serinenya di kota bikin imun lemah. Hanya suara ayam, burung dan denting suara embun yang halus bikin tenang, covid kamu tidak sanggup hidup di kampung ku.
Pagi, cennoe, 19 Juli 2021
Pulkam yang berkualitas.Kampung BUKAN Kampungan


