Habis shalat subuh, sebagaimana biasanya saya buka handphone untuk mengantisipasi ada berita kantor yang harus ditindak lanjuti. Satu demi satu pesan whatsaap saya baca semuanya biasa saja, hanya saling menyapa menanyakan kabar, saling mendoakan, dan saling menginspirasi sebagaimana layaknya sahabat.

Namun ketika melihat dan membaca satu tulisan yang berjudul “Saya Menyebutnya Galih dan Ratna” terasa ada energi dahsyat yang menarikku untuk membacanya. Saya kaget, haru, bahagia, damai, dan tiba-tiba menetes air mataku. Ternyata sang inspirator penggagas rumah jiwa di angkasa (Bengkel Narasi) yang kami panggil Bang RIM, spesial menulis untuk mensyukuri usia perkawinan kami yang memasuki usia 23 tahun hari ini Senin 2 Februari 2021.

Sesaat kemudian berkat tulisan itu yang sudah di upload di media sosial, ucapan selamat melalui pesan watsaap terus mengalir dari sahabat-sahabat sejatiku.
Tulisan sang inspirator ini saya anggap sebagai hadiah paling istimewa dalam proses perjalanan hidupku dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang alhamdulillah sudah memasuki usia 23 tahun dengan penuh suka dukanya.

Setiap kata yang tergores dalam tulisan itu menghadirkan nuansa rasa yang mengharu biru. Dadaku sesak tangis bahagia, terharu dan semua hal yang sudah tidak bisa lagi aku narasikan. Apa yang terucap bisa saja terlupakan namun yang dituliskan akan selalu abadi.

Terimah kasih saudaraku, sang inspiratorku yang sudah mengabadikan kisah kami. In shaa Allah, air mataku ini menjadi tasbih doa semoga tetap sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta hingga akhir hayat.

(Visited 385 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.